Manusia Serakah: Harimau Jadi Tumbal

Waktu Baca: 2 menit

Manusia Serakah: Harimau Jadi Tumbal

(Scholastica Santi)

 

“Ketika pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, ketika ikan terakhir ditangkap.. Barulah manusia akan menyadari bahwa ia tidak dapat memakan uang.” ― Eric Weiner

 

Pagi ini ku buka akun twitterku dan muncul sebuah berita yang membuatku menggeleng-gelengkan kepala. Sebuah thread berita tentang kasus penjualan kulit dan tulang Harimau Sumatera. Disebutkan bahwa tim dari Direktorat Jenderal Penegakan Hukum, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Polda Bengkulu, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung, pada Sabtu (19/06/2021) menangkap MJY (40), pelaku penjualan kulit dan tulang. Pelaku ditangkap saat tengah membawa dua kardus berisi kulit dan tulang harimau, lengkap kepala, badan, kaki dan ekor. Disebutkan pula bahwa berdasarkan kondisi kulit yang ada, terdapat dugaan kuat harimau tersebut diburu dengan jerat.  Jerat menjadi momok mengerikan bagi sang raja rimba. 

Terancamnya jumlah populasi Harimau

Membaca berita tersebut, rasanya sedih sekali. Betapa tega dan kejamnya perilaku tersebut. Padahal, data dari WWF menunjukkan bahwa jumlah Harimau Sumatera yang bernama latin Panthera tigris tersebut hanya tersisa ≤ 400 individu saja dan terus menurun dari waktu ke waktu. Berbagai alasan melatarbelakangi perburuan Harimau. Ada yang memburu untuk mengambil kulit, kumis, kuku, taring, bahkan dagingnya. Bagi beberapa orang, beberapa bagian tubuh harimau dipercaya sebagai jimat dan memiliki kekuatan magis. Hal tersebutlah yang mendorong suburnya permintaan harimau di pasar gelap yang secara signifikan mampu membuat populasi harimau kian menurun. Padahal, kepercayaan itu belum terbukti secara ilmiah.

Baca juga : Eksploitasi Orang Utan dalam Cerpen Bulu Bergincu Karya Danthy Margareth

Sejarah Perburuan Harimau

Ketika mulai mengulik sejarah, khususnya dari catatan Pauline Albenda di Bulletin of the American Schools of Oriental Research, perburuan hewan liar memang sudah dilakukan umat manusia sejak era peradaban Asiria, salah satu peradaban tertua di dunia yang berjaya pada 2.500 SM. Mereka menempati wilayah Mesopotamia (sekarang Irak) yang subur dan masih dipadati oleh segala jenis binatang termasuk yang masih liar. Di tengah kemajuan zaman dan teknologi, kegiatan perburuan hewan liar tersebut masih saja terus dilakukan dengan berbagai macam motif latar belakang yang beragam tanpa upaya konservasi untuk mengembalikan keseimbangan alam. Lebih lanjut, Robert Nasi yang merupakan Direktur CIFOR mengatakan bahwa “Perburuan satwa liar telah mencapai tingkat yang tidak berkelanjutan, antara lain karena inisiatif konservasi umumnya dikembangkan untuk menjawab kepentingan elitis, bukan kepentingan masyarakat desa yang bergantung hutan,”.

Disadari atau tidak hingga saat ini masih ada pihak penentang dan ada pihak pendukung. Dunia selalu terbagi antara mereka yang mendukung perburuan binatang liar karena sesuai aturan dan mereka yang menentang keras atas nama keseimbangan ekosistem. 

Polemik Perburuan Hewan

Perdebatan terus menerus mengalir dari hulu ke hilir, dari para pejabat hingga masyarakat pedesaan. Para pemburu mengedepankan pembelaan terhadap perburuan dan mengatakan bahwa kegiatannya punya manfaat positif sebab hanya membunuh binatang yang berpotensi mengacaukan ekosistem lingkungan. Namun, para penentang perburuan dengan serentak menyuarakan bahwa krisis alam liar semakin memburuk, kerusakan ekosistem, dan ancaman kepunahan spesies semakin tinggi. Ya, manusia yang serakah, harimau yang jadi tumbal. 

Lalu, bagaimana denganmu? Kamu ada di pihak pendukung perburuan atau penentang perburuan? 

Scholastica Santi
Mahasiswi Pendidikan Biologi USD yang tertarik dengan isu isu sosial dan berharap bisa menggerakkan perubahan.

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular