Waktu Baca: 3 menit

Siapa sih di antara kita yang nggak kenal tempe dan tahu ? Dua bahan makanan ini udah akrab banget di lidah kita. Lewat berbagai olahan makanan dan masakan, kita sehari-hari gampang sekali menjumpainya. Soal suka dan tidak suka, itu sih selera pribadi. Ada yang bosen tempe dan tahu, ada yang hobi banget makan tempe dan tahu. Lauk yang kalo di Inggris harganya Rp 225.000,00 ini kayak udah jadi identitas bangsa kita. Bangsa bermental tempe, kalo kata Bung Karno. Tapi ngomong-ngomong, dari mana sih bahan baku tempe yang kita konsumsi? Mari kita menelusur asal muasal bahan tempe Indonesia.

Bahan Baku Tempe

Jangan dikira bahwa bahan tempe terbuat dari kedelai doang. Ada yang membuat tempe dari kacang Koro, biji Lamtoro, kacang hijau, bahkan biji Trembesi. Soal rasa, jelas berbeda-beda. Saya termasuk penggemar tempe Koro. Teksturnya berbeda, karena kacang Koro memiliki biji yang lebih besar dari kedelai. Umumnya pun tempe Koro diolah menjadi tempe bacem dengan rasa manis. Saya belum pernah menemukan tempe Koro yang digoreng begitu saja.

Tempe yang bahan bakunya non kedelai ini memang tidak banyak diproduksi. Hanya beredar di komunitas masyarakat tertentu. Selain karena bahan bakunya tidak banyak tersedia, penikmatnya pun juga tidak sebanyak tempe yang pada umumnya. Pernah membayangkan makan tempe dari biji Trembesi ? Kamu bisa menemukannya di antara masyarakat pedesaan di area pantai utara Jawa.

Kedelai Lokal

Tempe dan tahu terbuat dari bahan kedelai kuning, bukan kedelai hitam Malika, ya. Di Indonesia, ada beberapa varietas kedelai yang bisa ditanam dan dimanfaatkan untuk bahan baku tempe. Ada varietas Grobogan, varietas Anjasmoro, varietas Argomulyo, dan varietas Dewah. Kelima nama itu adalah area di Jawa Tengah. Nah, umumnya kedelai dari Indonesia ukurannya tidak seragam. ada yang besar, ada yang kecil. Ukuran kedelai yang besar inilah yang biasanya dimanfaatkan untuk membuat tempe. Sementara yang kecil, seperti yang kita temukan di kacang kedelai untuk topping bubur ayam.

Kedelai Import

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tahun 2019, kita mengimpor kedelai sebanyak 2,67 juta ton. Sumber kedelai terbesar ada di Amerika Serikat, lalu diikuti Brazil, Kanada, Malaysia, Perancis, dan China. Padahal kalo dipikir-pikir, mereka ini bukan bangsa penikmat tempe.

Kenapa masih impor ? 

Alasan pertama, karena produktivitas kedelai lokal kita hanya setengah dari produktivitas kedelai Amerika Serikat. Misal di Amerika Serikat mereka mendapat 4 ton kedelai dari lahan 1 hektar, maka di Indonesia hanya dapat 1.5 ton dari 1 hektar. Alasan kedua, petani kita lebih memilih menanam padi dan jagung ketimbang kedelai. Keuntungan menanam kedelai di Indonesia itu kecil ! tidak sebanyak kalo menanam padi. Sementara itu, sebagai bangsa pecinta tempe, kita butuh banyak suplai kedelai. Hasil produksi kedelai lokal sangat kurang untuk mencukupi kebutuhan nasional kita.

Baca juga : Sate Ambal, Panganan Khas Kebumen

Mengapa komoditas kedelai tidak berkembang ? 

Kecilnya keuntungan bisnis kedelai di level petani karena memang biaya produksinya yang tinggi. Sementara itu harga jual di pasaran kurang baik. Proses budidaya kedelai pun boleh dikata sulit. Tanaman kedelai butuh penyinaran matahari yang cukup lama. Di Amerika Serikat, tanaman kedelai bisa mendapat paparan sinar matahari selama 16 jam per hari. Sementara di Indonesia, rata-rata hanya mendapat paparan sinar matahari 12 jam per hari. Itu belum kalo ada perkara langit mendung dan hujan. Tanaman kedelai juga memerlukan perawatan yang tidak mudah. Perlu pupuk dan pestisida yang jumlahnya tidak sedikit. Jadi boleh dikatakan, udah sulit nanamnya, harga jualnya juga tidak seberapa. Itulah mengapa petani kita ogah menanam kedelai.

Karena konsumsi kedelai kita cukup banyak, sementara suplai kedelai lokal tidak seberapa, maka mau tidak mau kita harus impor kedelai. Bayangkan kalo kita mengalami kelangkaan kedelai. Harga tempe naik 1000 perak saja sudah bisa jadi pergunjingan nasional di kalangan masyarakat. Apalagi kalo bangsa kita diminta untuk mengurangi konsumsi tempe. Oh tidak semudah itu, Fergusso….

Nah, dari hasil saya menelusur asal muasal bahan tempe Indonesia, ternyata bermuara pada kedelai impor. Ya, tempe nya sih buatan Indonesia, tetapi jiwanya dari petani di Brazil, Tiongkok, dan Amerika Serikat. Nggak perlu merasa aneh. Di artikel lainnya akan saya bahas yang lebih aneh lagi : bangsa kita doyan Mie, padahal tidak ada tanaman gandum di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here