Waktu Baca: 5 menit

Di saat kita tidak boleh kumpul kumpul, sekolah ditutup, mall dibatasi pengunjungnya dan para pekerja kerah putih maupun biru di PHK, ternyata masih ada yang mau menikah di kala pandemi. Saya termasuk salah satu orang yang terkejut meskipun enggan menolak. Pasalnya, akhir tahun ini adik saya akan menikah di kala pandemi. Namun, gejolak kepo dan akademik saya menggelegak, sayapun memutuskan untuk bertanya ngalor ngidul pada orang yang memutuskan untuk tetap menikah di kala pandemi. Saya berusaha menjelaskan fenomena ini.

Kalau saya jabarkan semua alasan, tentu artikel ini tidak cukup untuk memuatnya. Maka dari itulah saya memutuskan untuk mencoba memadatkan dan merangkum temuan saya. Ya mungkin setelah menulis ini, ada yang akan menyanggah saya. Saya terbuka dalam tiap sanggahan karena bagaimanapun ini adalah forum diskusi bersama. Mari kita tingkatkan demokrasi dari kebebasan membahas hal yang kecil kecil dulu seperti misalnya membahas menikah di kala pandemi ini.

Yuk gas!

Menikah di Kala Pandemi Secara Logis Adalah Keputusan Buruk

Menikah di Kala Pandemi

            Saya yakin banyak yang akan melawan saya, tapi saya percaya bahwa menikah di kala pandemi adalah keputusan (yang secara logis) buruk. Bagaimana tidak? Ibarat kapal, kapal kita ini mau tenggelam. Ya masa kita malah main musik di dek kapal sambil ketawa ketiwi? Mungkin kalau anda para pemusik dari Titanic, anda bisa menerima logika ini. Tapi ‘kan kenyataannya tidak begitu.

Pertama, saat pernikahan anda harus membatasi jumlah orang yang datang. Anda diminta untuk memilih mana ‘teman yang baik’ dan mana ‘teman yang lebih baik’. Sungguh, ini merupakan proses yang memicu sakit hati. Padahal ini sebuah pesta. Hakekat sebuah pesta ‘kan untuk menyenangkan semua pihak. Lho kok malah bikin sakit hati orang.

Kedua, saat pesta anda juga harus mengalami keterbatasan yang maksimal. Anda harus jaga jarak, acara makan makanpun terbatas. Ah, dimana kenikmatan pesta yang dicari cari kalau begitu? Kenapa nggak sabar menunggu pandemi selesai dan baru merasakan pesta pesta? Ya ‘kan?

Ketiga, bohong kalau anda menikah supaya bisa ena ena halal. Di masa lalu, alasan itu pasti masih bisa diterima. Sesuai pengalaman saya, anda sudah mengalami sebuah pengalaman yang lebih liberal hari ini. Pernikahan pada hari ini adalah untuk memiliki anak. Sebab, anak tanpa orang tua yang menikah akan mengalami kesulitan dalam mengurus akta kelahiran.

Permasalahannya, kecuali anda orang kaya atau mempercayai dukun sepenuh hati, anda ‘kan harus melahirkan di rumah sakit. Di saat wabah virus Korona seperti ini, tentu kita paham dong dimana tempat paling mudah menemukan virus Korona. Nah, kalau sudah begitu, kenapa anda malah mencari alasan untuk mendekati tempat itu. Ada apa dengan anda?

Jebakan Kerangka Budaya Sosial

Menikah di Kala Pandemi

            Alasan paling logis yang paling masuk akal bagi saya adalah orang yang menikah di kala pandemi ini sebenarnya masuk dalam kerangka budaya sosial.  Di Barat yang lebih individualis, kerangka budaya sosial ini tidak terlalu banyak mempengaruhi keputusan orang. Berbeda dengan di Indonesia, kerangka ini sangat mempengaruhi tindakan kita.

Beberapa kerangka budaya sosial yang ada di Indonesia di antaranya adalah: kalau umur segini harus kawin. Kalau cowok serius sama ceweknya harus menikah. Kalau tidak menikah dianggap tidak laku. Dan seterusnya…

Kerangka budaya ini pernah berguna pada jamannya. Contoh, pada jaman dulu, pria dan wanita memang harus menikah cepat cepat. Kenapa? Biasanya sudah gede sedikit, si cowok harus pergi untuk berperang. Coba kita mempelajari sejarah, perang itu terjadi terus menerus dan kita baru merasakan era dimana perang jadi barang langka setelah tahun ’45. Ya makanya sebelum mati, si cowok at least harus meninggalkan keturunan dulu dong supaya manusia tidak punah seperti badak putih.

Namun, pada hari ini, tidak ada perang dalam skala masif. Bahkan, kita malah membutuhkan pengendalian jumlah penduduk karena  jumlah manusia terlalu banyak sementara sumber daya makin terbatas. Jadi, kerangka budaya sosial masa lalu ini seharusnya kita rubah supaya sesuai dengan kebutuhan hari ini.

Yah masalahnya, banyak orang takut merubah aturan usang. Mereka paham ada aturan yang aneh dan tidak produktif, namun masih saja mereka jalani karena malas berdebat dan toh yang lain masih mengikutinya. Atau jangan jangan, alam bawah sadar kita otomatis mengikuti saja kerangka budaya sosial ini karena kita memang sudah terprogram. Benar kah?

Baca juga : Mari bicara soal budaya pernikahan yang cukup kontroversial di Indonesia

Banyak Yang Tidak Akan Menikah Setelah Pandemi

            Saya memprediksi akan ada ironisme setelah pandemi ini berakhir. Besar kemungkinan, orang malah malas menikah setelah pandemi. Aneh ‘kan? Saat pandemi buru buru menikah dan bahkan melakukannya dengan protokol beribet, setelah pandemi malah banyak yang malas menikah.

Sambil ngopi, saya sempat mendiskusikan masalah ini dengan kawan saya. Pikiran kami sama. Pandemi ini telah menyadarkan kita bahwa yang namanya kemapanan itu sebuah retorika kosong. Menikahlah setelah mapan itu betul, masalahnya kapan kita mapan?

Pandemi telah menjatuhkan banyak pria dalam jurang kesengsaraan. Kalau seorang pria menganggur tanpa punya istri dan anak, ia masih bisa tertawa. Memutuskan untuk diam bisa menyelamatkan hidupnya. Lha, kalau sudah ada buntutnya? Mau diam salah, mau bergerak tak tahu kemana. Akhirnya, keluar rumah, izin merokok tapi sebenarnya ingin menangis tanpa dilihat keluarganya.

Kondisi kondisi ini jelas akan merubah pikiran dan mindset banyak orang. Wabah pes yang berasal dari blunder kebijakan Gereja Katolik di Eropa misalnya membuat Eropa masuk jaman Renaissance. Mereka jadi meminggirkan Gereja Katolik secara signifikan. Tiba tiba muncul pemikiran baru dan radikal. Saya kira setelah pandemi ini akan muncul juga kerangka budaya sosial yang baru dan mendobrak pikiran lama.

Pandemi ini adalah pengalaman traumatis bersama. Ketika perang membuat manusia memilih untuk menikah cepat cepat sebagai asuransi, pandemi yang berlarut larut ini juga akan membuat manusia merubah mindset soal masa depan.

Baca juga : Saatnya berpikir dan mempertimbangkan ulang alasan menikah

Pengalaman Traumatis Bersama Akan Mengguncang Kita

            Pengalaman traumatis bersama banyak mengguncang satu kerangka sosial lama. Di Tiongkok, banjir modal dan kapitalisme serta perbudakan korporat telah melahirkan generasi rebahan dan enggan menikah. Kini, Tiongkok akan mengalami kondisi seperti di Jepang. Saat itu penduduk yang tua lebih banyak dari angkatan kerja muda.

Maraknya terorisme di Amerika Serikat pada awal abad ke 21 telah menimbulkan kebencian pada Muslim dan migran. Padahal, tentu tak logis untuk takut pada semua Muslim dan migran. Tapi pengalaman traumatis bersama ini telah menghancurkan satu kerangka sosial lama yang toleran menjadi lebih waspada dan penuh kebencian. Karena itulah, Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat.

Sama seperti pandemi, pandemi ini akan mengguncang cara manusia memandang pernikahan di Indonesia. Mereka yang masih menikah di kala pandemi mungkin masih denial atau angkatan terakhir yang terpengaruh kerangka budaya sosial lama. Tapi di masa depan? Kita akan menemukan orang orang dengan kerangka budaya sosial baru.

Lalu Harus Apa Selama Pandemi?

            Selama pandemi ini, prioritas anda adalah staying alive. Menurut pendapat saya, jangan mengambil keputusan besar dan melakukan perbuatan nekad. Seperti dalam film Dunkirk, tentara yang bisa menyelamatkan diri dan tetap hidup itu sudah prestasi besar. Anda tak perlu mewajibkan diri anda menjadi sukses dan kaya selama pandemi ini. Eh apalagi membangun keluarga sejahtera dengan anak lucu lucu yang berpotensi menjadi jualan di Youtube.

Tetap hidup dan tetap waras adalah sebuah anugerah luar biasa. Mengedepankan nalar menjadi senjata utama di kala krisis. Good luck!

Sumber gambar :

Freepik

Drew Coffman

BBC

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here