Waktu Baca: 4 menit

Sudah menonton Army of the Dead? Bagaimana reaksi anda? Kecewa? Puas? Tentu perasaan yang muncul cukup campur aduk. Maklum, Army of the Dead terlihat sangat menjanjikan saat trailernya dirilis. Namun, ketika akhirnya filmnya resmi beredar, banyak yang mengaku kecewa. Mending menonton Night of the Living Dead  lagi, terutama yang produksi 1968. Ah masa?

Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa perbandingan antara Army of the Dead dan Night of the Living Dead akan selalu terjadi. Army  bisa dibilang adalah cucu dari Night. Sebelum meluncurkan Army, sutradara Zack Snyder juga menyutradarai remake Dawn of the Dead yang merupakan karya bapaknya Night. Pada akhirnya ya kita pasti ingin membandingkan dua karya itu.

Nah, sesuai dengan tema judul dari artikel ini. Saya menonton Night of the Living Dead dan mencoba mempelajarinya untuk menilai Army dengan lebih baik. Lalu saya mendapatkan hal apa saja? Yuk, mari kita membahasnya.

 Skala Teror
sederhana tapi mencekam

Saya bisa mengatakan bahwa skala teror antara Army dan Night sangat jauh berbeda. Jika Night hanya membatasi diri di sebuah rumah pertanian, Army menjadikan sebuah kota terkenal, Las Vegas, sebagai panggung teror. Dengan skala yang jauh berbeda, apakah resiko yang penonton rasakan juga berbeda. Jawabannya tidak.

Skala dan latar adalah media pendukung film, namun saya tidak merasa bahwa jika latar banyak mempengaruhi skala teror. Saya mendapat kesan bahwa teror di rumah pertanian dan Las Vegas tidak memberi banyak pengaruh. Jika kita mengatakan bahwa budget membengkak, ya, itu terjadi. Namun jika pertanyaannya adalah, apakah kita merasa mendapat ‘tekanan’ yang lebih besar dari Night? Well, saya sangat meragukannya.

Baca juga : Gak cuma ‘Army of the Dead’ yang bikin kecewa dengan visi besar, ini daftarnya!

Paid-off
Menonton Night of the Living Dead
Megah tanpa eksekusi

            Saya merasa Army banyak memberikan petunjuk akan adanya satu event yang akan terlihat menarik dan sayangnya mereka tidak ‘membayar’nya. Dua faktor yang menjadi bahan kritikan adalah bahwa di awal film kita mendapat informasi bahwa tumpukan zombie mati akan bangun lagi jika terkena hujan. Kemudian, kita melihat bagaimana karakter Vanderohe memperlihatkan keganasannya dengan gergaji mesin. Semua tidak terjadi meski kita menantikan momen tersebut. Pendek kata tidak ada paid off dari keseruan yang dijanjikan.

Night sebaliknya membuat gerakan yang lambat tapi dinamis tanpa menjanjikan banyak hal namun membuat kejutan kejutan di tiap belokannya.  Ketika menonton Night  pertama kali, efek guncangan itu begitu terasa. George Romero membayar setiap janji teror dengan cerita dan penyajian yang apik.

Sebagai perbandingan, kita melihat pasangan suami istri yang khawatir karena anaknya mengalami demam di awal film. Belakangan, baru diketahui bahwa zombie telah menggigit anak itu. Penonton, waktu itu, belum mengetahui efek gigitan zombie. Gigitan zombie pada masa kini memang sebuah mitos yang umum. Namun, ketika penonton belum mengetahui efek gigitan zombie itu, efek yang penonton rasakan luar biasa.

Zack Snyder Juga Pernah Bikin Paid Off terkenal

            Bagi anda yang pernah menonton Dawn of the Dead, tentu masih ingat dengan adegan bayi zombie. Menurut saya, ini salah satu bukti kejeniusan Zack Snyder yang ‘menyiapkan’ jebakan sedari awal untuk membuat penonton merasa ditikung dengan keras.

Sayangnya, di Army, dia tidak membuat tikungan itu. Zack mungkin terlalu memfokuskan dirinya untuk menyajikan heist zombie dengan inovasi inovasi menarik. Ya, ia memperbarui mitos mengenai zombie dengan menghadirkan harimau zombie, Alpha Zombie, Zombie robot, Queen Zombie dan seterusnya. Namun, secara jujur, ia kurang memanfaatkan inovasinya untuk menghadirkan sebuah ketegangan baru atau meningkatkan resiko dan skala teror.

Karakter, Lagi Lagi itu Dasarnya!
Penuh warna, miskin variasi karakter (?)

            Menonton Night of the Living Dead membuat kita menyadari bahwa kita peduli pada karakter karakter di dalamnya. Mereka mungkin tidak memiliki latar cerita yang mendalam, tapi mereka adalah karakter karakter realistis dan menanggapi krisis zombie dengan realistis. Sementara itu, di Army, karakter tidak membuat keputusan secara alami. Karakter dalam Army seolah olah mengambil keputusan hanya untuk memastikan film dapat bergerak sesuai keinginan sutradara.

Hasil akhirnya? Film Army menjadi kurang simpatik dan kita tidak terlalu memberikan kepedulian pada karakter karakter yang berada di filmnya. Kematian kematian karakter dalam Army tidak memberikan kita suatu kepedulian yang besar. Bisa dibilang, ini hal yang agak menyedihkan mengingat hype dari film ini yang luar biasa.

Baca Juga : Ada film lain yang berpotensi jadi universe juga, apa tuh? Bukan Marvel dan DC by the way

Komentar Pribadi

            Terlepas dari kekurangan Army dan apa yang kita pelajari dari Night, saya menyukai keduanya dengan cara mereka masing masing. Army  adalah suatu tontonan over the top dengan misi menghadirkan film zombie baru dengan segala kegilaan yang bisa dieksplorasi. Pada akhirnya, kita tidak mendapatkan janji tersebut karena keterbatasan waktu, karakter bejibun dan plot yang tidak menuju ke akhir secara alami selain untuk memenuhi tuntutan panggung bagi aksi aksi spektakuler.

Night hadir ketika genre ini masih merupakan sebuah kertas kosong. George Romero bisa melukiskan apapun mitos zombie yang ia inginkan dan masih bekerja dengan efektif untuk mengejutkan penonton. Ia mampu menjadikan sebuah mitos yang bertahan lebih dari lima puluh tahun. Sutradara film zombie lain mengikutinya dan mengembangkan mitos mitos dari cetak biru George Romero. Luar biasa bukan?

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here