Waktu Baca: 2 menit

Semenjak media sosial kita memiliki fitur report account, diskursus menjadi tidak menyenangkan. Orang menjadi tidak sehat dalam hidup bermasyarakat. Orang lantas menyalahgunakan fitur itu untuk mematikan pihak lain yang dianggap punya pendapat berbeda. Ini bukanlah ciri manusia Indonesia yang jiwanya Pancasilais. Andaikan Pancasila itu sebagai pribadi yang memiliki akun media sosial, maka Pancasila kita ada dalam ancaman report account. Mengapa bisa sampai terjadi demikian ?

Mispersepsi Kebebasan Berpendapat

Pasca reformasi 1998, masyarakat kita merasakan euphoria kebebasan berekspresi dan berpendapat. Apapun dan siapapun bisa mendapatkan panggung bicara yang sama di depan publik, bahkan untuk mereka yang menunjukkan kontra Pancasila. Sebut saja kelompok-kelompok ekstrem kanan berbasis agama. Terhadap kelompok macam itu, orang-orang yang pro Pancasila jelas tidak suka dan menganggap kelompok ekstrem kanan sebagai pihak yang menyalahgunakan kebebasan berpendapat. Berbagai langkah dilakukan untuk mematikan kelompok ekstrem kanan ini. Ada yang masih bisa diajak berdialog dan berbicara, tetapi memang ada yang harus segera dimatikan. Fitur report account termasuk salah satu cara untuk mematikan aktivitas kelompok ekstrem kanan ini. Tetapi celakanya, aksi report account ini tidak pandang bulu. Siapapun bisa kena report account hanya karena sedikit terkesan berafiliasi ekstrem kanan. Jadi secara konten kelompok ekstrem kanan dengan jelas menunjukkan kontra Pancasila, tetapi dalam opsi tindakan report account untuk hal remeh temeh, kelompok pro Pancasila pun menunjukkan sikap yang tidak pancasilais.

Baca juga : Merayakan Pancasila di 2021

Fenomena Buzzerp

Semenjak Pilkada DKI 2012, kehadiran Buzzerp mulai bertumbuh dan berkembang. Disebut Buzzerp dengan ‘p’ di belakang sebetulnya merujuk pada kelompok Buzzer yang memang dibayar untuk misi tertentu. Kehadiran Buzzerp makin berkembang pesat ketika pemilu 2014 dan 2019, bahkan menjadi bagian dari strategi pokok pemenangan pemilu. Efek sampingnya terasa kuat hingga hari ini. Siapapun yang berpendapat tidak mendukung kebijakan pemerintah, bisa terkena serangan Buzzerp. Mereka tidak akan memperdulikan apakah pendapat itu masuk akal atau tidak, relevan atau tidak. Kini Buzzer tidak hanya ada untuk kelompok pendukung pemerintah, tetapi bahkan di tingkat influencer. Siapapun yang mengkritik influencer, bisa terkena serangan report account dari buzzer atau fanbase influencer.

Ketidakmampuan bernalar dan berpendapat

Sebetulnya fitur report account disediakan untuk mengatasi akun media sosial yang menyebarkan kejahatan, pornografi, hoax, dan ujaran kebencian. Tetapi sayangnya masyarakat kita cenderung ogah berpikir dan menganalisis secara jernih untuk setiap informasi yang berbeda dari cara pandangnya. Bahkan untuk hal sepele, pendapat mantan pacar dalam cuitan twitter nya pun bisa dijadikan alasan orang untuk report account. Lembaga-lembaga internasional yang mengungkap boroknya Indonesia pun juga bisa jadi sasaran report account. Lama kelamaan orang jadi antikritik, resisten dengan perbedaan pendapat, dan ingin menyerang pendapat orang lain dengan cara-cara tidak sehat.

Bagian Pancasila yang terkena dampak

Spontanitas kita untuk melakukan report account itu sebetulnya jauh dari nilai-nilai persatuan dan demokrasi, yang tercermin dari sila ketiga dan keempat. Sulit bagi kita untuk mencapai persatuan rakyat Indonesia, kalau kita masih resisten dengan perbedaan pendapat. Musyawarah untuk mufakat pun ditinggalkan, karena bagi sebagian kita, klik report account itu jauh lebih efektif dan efisien ketimbang harus berdiskusi dan bermusyawarah dengan orang yang berbeda pendapat.

Situasi ini menjadi pertanyaan besar bagi kita. semangat Pancasila kita dalam ancaman report account.  Setelah 75 tahun Indonesia merdeka dan kita hidup dalam dasar Pancasila, lantas kapan kita akan mengembalikan semangat Pancasila kita ? Kapan kita mulai bijak menggunakan fitur report account agar jiwa Pancasila kita kembali ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here