Waktu Baca: 4 menit

Penyanyi Jazz galau Indonesia, Tulus, pernah merilis lagu cinta yang agak beda. Judul lagu dari Tulus itu adalah ‘Ruang Sendiri’. Dalam lagu itu, Tulus meminta kekasihnya yang tak bernama memberinya ruang, menjaga jarak dan tidak berada di dekatnya. Sekilas, kita akan menilai bahwa perpisahan bukan berarti hal besar dan harus diromantisasi. Kita yang emosional akan mengatakan, “Kurang ajar si Tulus! Gak punya hati dia!”.

Pendek akal kita pasti mikir kalau Tulus ini pasti punya selingkuhan baru sehingga ia tidak betah bersama pasangannya saat ini. Ya, kita manusia memang dilahirkan sebagai mahluk yang mudah curiga dan suudzon. Rasa rasanya aneh melihat orang pacaran kok gak mau dekat dekat.

Kalau anda sudah pacaran, anda akhirnya baru menyadari bahwa apa yang dikatakan Tulus itu ada benarnya. Di satu titik andapun akan mengalami ‘Aha’ moment dan berpikir, “oh ini maksudnya si Tulus”. Ya, sukar diterima akal sehat dan hati, tapi namanya sebuah hubungan memang begitu. Ada begitu banyak pemikiran dan pengalaman batin sehingga memilih perpisahan bukan berarti tidak bertanggung jawab atau tidak menjaga komitmen. Singkat kata, meski berat mengatakannya, kita harus berkata, “memang harusnya begitu.”

Hubungan Yang Menghabiskan Energi

            Teman saya hampir saja dipecat dari program training bersama seorang chef terkenal. Padahal, tidak semua orang bisa mengikuti training bersama chef ini. Teman saya memang kalau kerja agak terkesan malas malasan dan tidak cepat menangkap materi. Setelah si chef menanyai teman saya, barulah ketahuan teman saya itu menghabiskan tiap malam menelpon pacarnya berjam jam.

“Putusin pacarmu kalau mau lanjut kerja sama saya!” Ujar si chef.

O la la, masa demi pekerjaan harus memutuskan hubungan dengan pacar? Sungguh tidak manusiawi. Teman sayapun mencak mencak. Ibunya sampai turun tangan untuk berbicara dengan si chef. Setelah mengobrol dengan si chef, ibunya akhirnya mengambil kesimpulan yang sama: teman saya harus putus!

Lho kok begini? Kata teman saya. Tapi kemudian si chef berkata: hubungan yang baik seharusnya membuat kamu berenergi dan bersemangat. Kalau kamu tidak merasakan hal itu, berarti hubunganmu adalah hubungan yang buruk.

Mengapa Hubungan Menghabiskan Energi?

            Setiap mendengar khotbah beberapa pendeta, saya selalu mendapatkan dua kata kunci dalam mengambil keputusan untuk memilih pasangan. Ia berkata, anda harus memilih pasangan yang sepadan dan setara.

Berbicara mengenai sepadan, artinya ada kesamaan visi dan pola pikir. Setiap orang berbeda beda. Maka dari itu wajar kalau ada perselisihan karena perbedaan. Namun bagaimanapun kalau tujuannya sudah satu, maka perselisihan itu sebenarnya proses produktif menuju keberhasilan.

Ketika kita membicarakan kesetaraan, maka kita berkata bahwa orang berada di level sejajar. Jika levelnya sudah sejajar, maka berkomunikasipun sudah tak sulit. Hal hal rumit dan sulit bisa dibicarakan karena sudah ada kerangka dan level berpikir setingkat.

Pendek kata, sepadan berarti memiliki satu visi dan pikiran. Sementara itu, setara berarti sudah bisa saling mengimbangi dalam proses bertukar ide dan pikiran. Bagaimana kalau ternyata hubungan tidak setara?

Baca juga : Cowok Tipe Pom Bensin Sagan, Ada tapi gak guna

Energi Terbuang Percuma

            Katakanlah si A merasa bahwa hubungan soal kemandirian bersama. Sementara itu, si B merasa hubungan adalah soal perhatian intens. Dua sisi ini terlihat sama baiknya, tapi tidak sepadan. Untuk mencapai kemandirian bersama, si A mengatakan bahwa perlu sekali untuk si A dan si B berfokus pada karir mereka masing masing sembari berdiskusi dan memadu kasih di sela sela kesibukan.

Namun bagi si B, kebersamaan adalah hal paling penting. Bagi si B, waktu tidak ada yang tahu, besok siapa tahu perpisahan sudah terjadi karena umur atau satu dan lain hal. Akhirnya si B tidak bisa menerima si A yang fokus pada karirnya. Si B menganggap si A egois. Padahal si A ya memang sibuk karena tuntutan kerjanya. Perbedaan makin meruncing dan berujung cek cok menguras energi karena tidak ada jalan tengah.

Keduanya sama sama memiliki pemikiran baik, tapi di antara yang baik pasti ada yang lebih baik. Jadi kadang masalah tidak sepadan ini berlanjut ke masalah ketidak setaraan.

Tidak setara berarti belum sampai pada level tahap kedewasaan untuk menjaga hubungan berjalan dengan baik. Dewasa menurut saya adalah bukan memilih baik dan buruk. Memilih baik dan buruk bisa dilakukan anak kecil sekalipun. Kedewasaan adalah ketika kita bisa memilih mana yang baik dan lebih baik. Atau sebaliknya, menghindari hal terburuk untuk hal lebih mendingan.

Ketidaksetaraan secara luas juga berarti budaya, latar sosial dan cara pandang berbeda. Hal ini mungkin menjadi hal biasa dan tidak diperhatikan. Love can conquer all challenges begitu katanya. Padahal ya tidak sesederhana itu. Lagi lagi kadang ini soal baik dan lebih baik. Teman saya membatalkan pernikahannya karena keluarga si perempuan meminta mahar luar biasa besar. Menurut teman saya ia menjadi korban pemerasan. Di mata keluarga perempuan, mahar adalah ujian kecil bagi si pria tentang kemandiriannya. Lagipula, mereka membesarkan si anak perempuan dengan susah payah. Wajarlah mereka menginginkan hal terbaik untuk si anak perempuan.

Baca juga : Bandung adalah Tempat Patah Hati Terbaik

Perpisahan Bukan Berarti Tidak Setia

            Perpisahan, perceraian, apapun itu bukan berarti ada orang ketiga. Ini mungkin hanya semudah mengatakan bahwa energi di antara dua orang habis dalam suatu hubungan. Jujur, ini bukan merupakan pertanda baik karena hidup bukan hanya soal hubungan dua orang. Kita perlu mencapai mimpi individual kita. Bersama, kita memang harus memikirkan kebahagiaan kita pribadi. Masa depan mengajak kita melihat bahwa di luar sana ada kemungkinan kita bertemu dengan pasangan yang lebih pas daripada pasangan yang ada saat ini.

Di dalam suatu hubungan tidak ada orang yang lebih buruk atau lebih baik. Hanya tidak pas saja. Maka dari itulah kita mencari yang paling pas. Kita mencari orang yang bisa meningkatkan energi kita dan membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik. Jika kita tidak berhasil mencapainya dengan pasangan saat ini. Tidak ada salahnya kita melakukan perenungan bersama dan mencari jalan keluar terbaik.

Perpisahan bukan kiamat. Kita tidak tahu, setelah melalui proses dan koreksi diri, kita bisa saja bertemu kembali dan menjadi pasangan yang lebih baik dan dewasa. Seperti kata Tulus, ruang sendiri sebenarnya merupakan kebutuhan bersama. Bukan salah satu pihak saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here