Waktu Baca: 3 menit

Tak terbayangkan di benak Portugal kalau mereka akan menangis di kandang sendiri. Ya, menjadi tuan rumah, punya generasi emas, pemain terbaik dunia dan calon pemain terbaik di dunia tidak membuat Portugal mampu berjaya di tanah sendiri. Portugal menangis saat peluit panjang dibunyikan. Satu sundulan Angelos Charisteas mengakhiri asa Portugal.

Apa yang sebenarnya terjadi di Final Euro 2004? Mengapa Portugal mengalami kekalahan menyesakkan ketika mereka tinggal selangkah lagi menjadi juara.

Portugal Datang Dengan Kepercayaan Diri

            Portugal menyongsong Euro 2004 dengan kepercayaan diri tinggi. Mereka memiliki generasi emas yang sedang mekar mekarnya. Apalagi, beberapa bulan sebelumnya, Porto yang merupakan klub kebanggaan Portugal baru saja menjuarai Liga Champions dengan heroik. Ada faktor inspirasi dan kepercayaan diri menemani Portugal.

Di sektor pelatih, Portugal ditukangi oleh Luis Felipe Scolari, pelatih yang menjuarai Piala Dunia 2002 dua tahun sebelumnya. Saat itu Luis Figo juga sedang gacor gacornya. Belum lagi Portugal memiliki trio Porto di lini tengah yaitu Deco, Costinha dan Maniche. Di belakang, duet Andrade Carvalho adalah jaminan mutu. Praktis hanya penyerang tunggal dan kiper yang sempat diragukan.

Tapi toh berlalunya waktu, Ricardo membuktikan diri sebagai kiper jempolan. Aksinya menepis penalti pemain Inggris tanpa sarung membuktikan mental bajanya.

Yunani Disiplin

Portugal menangis, Yunani tertawa

            Yunani baru bermain di dua event besar sebelum Euro 2004. Mereka hanya sempat mengikuti Piala Dunia 1994 dan Euro tahun 1980. Di dua partisipasti itu, Yunani tampil mengenaskan dan hanya menjadi penggembira saja. Praktis rumah taruhan hanya berani bertaruh 80-1 untuk Yunani. Yunani menjuarai Euro 2004? Mimpi.

Namun Yunani berhasil membuktikan diri saat membungkam Portugal di pertandingan pertama. Banyak orang mengira Yunani hanya akan mengejutkan di opener saja. Ndilalah mereka juga membungkam tim tim jago lain macam Spanyol dan Ceko.

Yunani yang memiliki pemain dengan skill rata rata, berhasil tampil dengan disiplin dan jeli dalam memanfaatkan peluang.

Ala Conte

            Lho apa hubungannya dengan Conte? Sebenarnya begini, apa yang Yunani lakukan mirip dengan apa yang dilakukan Conte hari ini. Conte meminta pemainnya disiplin mempertahankan wilayah terlebih dahulu. Setelah itu, Conte meminta timnya untuk bermain dengan otak dan memutuskan waktu terbaik untuk menyerang. Conte juga meminta pemain pemain untuk memiliki kepercayaan diri.

Inilah yang Yunani lakukan waktu itu. Mereka memenangkan kejuaraan dengan hasil biasa saja, tapi mereka menang.

Baca juga : Jangan suka meremehkan pemain yang tidak terlihat

Portugal Buru Buru
dulu dia belum gacor (courtesey : wiskie_)

            Kelemahan tim unggulan adalah saat melawan diri mereka sendiri. Portugal memang menampilkan permainan dominan, namun mereka gagal menyarangkan gol. Hal inilah yang membuat mereka tidak percaya diri. Di sisi kanan, Ronaldo muda belum mampu tampil efisien. Sementara itu di lini depan penyerang mereka, Pedro Pauleta tampak kebingungan.

Penyerang memang menjadi kelemahan utama Portugal. Mereka tidak memiliki finisher handal. Helder Postiga tidak memiliki taji. Sementara itu, Nuno Gomes juga sama saja. Scolari belum kepikiran untuk menjadikan Ronaldo muda sebagai poacher saat itu. Kalau mau jujur, Ronaldo muda dengan dribble dan kecepatannya terlalu sayang untuk dijadikan penyerang. Posisi sayap yang memungkinkan dia lebih banyak bergerak dan membawa bola terasa pas untuk pria asal Madeira itu.

Baca juga : Akhir pahit Premier League, kok bisa?

Pesona Zagorakis

            Theodoros Zagorakis datang ke Euro 2004 sebagai pemain senior. Ia berusia 32 tahun dan satu satunya pengalaman bermain di level tingginya adalah ketika ia menjadi pemain Leicester City. Di Leicester Citypun ia sebenarnya bukan pemain utama. Makanya, tak ada yang memperhatikan dia di awal turnamen.

Namun semuanya berubah ketika turnamen dimulai. Zagorakis memainkan peran yang dimainkan Vidal dan Casemeiro di era modern. Ia memotong aliran bola dan mengacaukan pergerakan lawan dengan permainan trengginasnya. Hal ini jugalah yang menjadi faktor utama kegagalan Portugal.

Portugal yang aliran bolanya kurang fluid menjadi sosok putus asa di depan Zagorakis. Gelar juara akhirnya melayang.

Ronaldo kalah pengalaman

Cristiano Ronaldo bukan Cristiano yang kita kenal sekarang. Ia masih anak muda yang suka memaksakaan cut inside dan shooting dengan sudut sempit. Dari beberapa usahanya, ia bisa saja membuat gol, namun tidak malam itu. Kecerobohan Ronaldo membuat Portugal membayar mahal.

Ronaldo menangis, Portugal menangis, gelar di depan mata melayang. Butuh waktu lebih dari sepuluh tahun kemudian hingga Portugal bisa membayar kekalahan mereka. Kali itu, mereka mengalahkan Perancis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here