Rendahnya Minat Baca di Indonesia dan Sebuah Kewajaran

Waktu Baca: 3 menitBiasanya sebelum menuju tempat kerja, saya sering menyempatkan diri untuk berselancar di dunia maya. Selain untuk mengetahui isu-isu terkini juga melakukan stalking seperti kebanyakan orang pada umumnya. Biar tidak menyumbang angka rendahnya minat baca di Indonesia.

Kemarin sewaktu melakukan penjelajahan media sosial, sebuah status di whatsapp yang ditulis oleh teman saya tampaknya sangat serius. Tidak seperti biasanya dia menuliskan sesuatu dengan nada keras. Ada yang aneh ini, begitu pikir saya.

Di statusnya, ia menuliskan dengan bahasa khas Jawa Timuran yang intinya membaca saja tidak bisa!

Tak berselang lama, saya berinisiatif menghubunginya. Maklum saja, kami sudah lama tak bersua, jadi momen ini bisa ajang silaturahmi sekaligus ghibah hehehehe…

Ia menuturkan kenapa sampai harus membuat status yang lumayan “keras” tersebut. Ternyata oh ternyata adalah ia merasa kesal dengan orang-orang yang menghujani surelnya dan gawainya. Bukan masalah banyaknya surel yang masuk akan tetapi lebih kepada formatnya.

“Saya sudah cantumkan itu di pengumuman, formatnya .doc bukan .pdf. Lha kok malah ngumpulnya malah pada .pdf. Udah gitu malah aku disuruh ubah formatnya! Emang aku cah selo?” ujarnya sambil meradang.

Percakapan pun terhenti.

“Lah emang tulisan itu buat apa to?” tanya saya melanjutkan.

“Tulisan ini nantinya buat seminar nasional. Mosok ta kayak gini. Bisa gila aku.”

“Tenang bro, yang ngirim makalah itu siapa to?”

“Mahasiswa. Dari yang masih sekolah sampai pascasarjana. Di whatsapp juga sudah tak kasih tau. Email juga sudah. Kurang apa aku?”

“Kamu kurang sabar aja sih,” jawab saya sambil tertawa bahagia.

“Woooo dasar wong edan.” Dan kembali percakapan pagi itu terhenti untuk kedua kalinya.

Dari kisah nyata tersebut, saya hanya bisa mengelus dada. Tak bisa berkata-kata. Jika bertukar posisi dengan teman saya, entah apakah mampu atau tidak. Sudah lelah menjadi panitia seminar masih harus mengurusi naskah makalah yang bermasalah. Jadi tukang convert pdf ke doc, gak dibayar pula. Males pake bangetlah!

Terus terang saya merasa miris sekali. Sejak sekolah dasar bahkan sekarang juga ada pendidikan anak usia dini, kita sudah dikenalkan dengan huruf dan angka. Buku dan berbagai produk turunannya sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Tapi mengapa minat literasi sangatlah rendah? Sehingga ada pemakluman rendahnya minat baca yang terjadi secara masif.

Membedakan format pdf dan doc adalah hal yang sangat mudah bukan? Secara kasat mata terpampang dengan jelas hurufnya dan dapat dieja. Kecuali jika format tersebut tak kasat mata maka pantaslah untuk bingung. Haaa ini itu jelas-jelas ada wujudnya dan tinggal dipilih saja lho. Gak lebih dari itu!

Saya pun lantas membayangkan isi dari makalah yang dikirimkan kepada panitia seminar tersebut. Bukan tidak mungkin teman saya akan bertambah lagi beban tugasnya. Menjadi editor! Melihat tulisan salah ketik, penulisan yang tidak sesuai dengan format dan mungkin juga plagiasi.

Hal yang simpel dan mendasar saja mereka tidak berusaha untuk memahaminya, apalagi yang lebih besar. Ini sebuah keprihatinan yang luar biasa, jangan dianggap remeh. Kalau masih sekolah dasar saja sih sah-sah saja. Bolehlah dibantu untuk memperbaiki. Lhaaa ini mahasiswa, maha yang artinya paling, tentunya mereka adalah individu yang sudah menduduki kasta tertinggi dalam dunia persiswaan.

Saya pun menjadi semakin paham kesulitan yang dialami oleh para guru dan dosen untuk meningkatkan literasi anak didiknya. Padahal literasi itu tidak hanya sekadar membaca, menulis dan berhitung. Masih banyak jenis lainnya, seperti literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya.

Bagaimana kita mau melanjutkan membahas jenis literasi yang lain? Jika literasi dasar saja kita belum mampu menerapkannya secara benar? Saya tidak tahu pasti kenapa bangsa ini menjadi malas baca. Bukankah hal yang pertama kali dilakukan adalah iqra dan itulah yang akan menjadi pondasi dalam menjalani hidup ini.

Tulisan di atas sebenarnya mungkin hanya bentuk ketakutan yang saya alami terkait rendahnya minat baca di negeri ini. Tetapi saya berusaha menepis asumsi tersebut.  Lha wong nyatanya di media sosial sana banyak yang hobi membaca dan pintar nulis kok. Tapi biasanya nulis hoaks sih.(*)

 

*). Artikel ini pernah dimuat di Terminal Mojok (Mojok.co)

 

 

 

 

Diaz Radityo
Pengasuh anak-anak di PAKBOB.ID. Gemar mendongeng dan meramu kata.

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular