Waktu Baca: 4 menit

De Oost yang dalam Bahasa Inggris berarti “The East”,  merupakan film yang disutradarai sekaligis ditulis oleh Jim Taihuttu, dia dikenal juga merupakan personel dari Yellow Claw (DJ). karena merupakan film sejarah agresi militer Belanda dan pembantaian Westerling, maka pemerannya pun ada yang dari Belanda dan Indonesia. Yuk, simak lebih lanjut mengenai review film De Oost ini.

Mari Kita Tengok Para Pemerannya

Film De Oost bukan film yang bisa dianggap remeh, karena pemeran dalam film ini tergolong aktor dan aktris hebat. Westerling yang seorang Arab belanda diperankan oleh Marwan Kenzari yang keturunan arab Belanda, sebelumnya Marwan juga berperan sebagai Jafar pada film Aladdin. Lalu dari Indonesia ada nama Lukman Sardi, kita pasti tau nama besar beliau, beliau bermain di banyak film keren Indonesia. Nama Putri Ayudya juga ikut tampil dalam film De Oost. Jadi bisa dibilang film ini dari segi pemain sudah sangat mantap. Selanjutnya, mari kita simak review film De Oost.

 Awal Mulanya

Setelah pihak Republik Indonesia menyatakan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945, pemerintahan Republik sedang berbenah untuk membangun negara baru. Belanda yang belum sembuh total akibat kekejaman Nazi di Eropa, membuka tawaran pada pemuda dan pemudinya, untuk membantu pemerintah kerajaan Belanda, dalam misi “mendamaikan koloninya di Timur Jauh” atau yang kita kenal dengan nama Hindia Belanda. Bagi pemerintah Belanda, pemerintahan Republik Indonesia adalah sekelompok teroris yang ingin menganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat di Hindia Belanda.

Jika kita tengok ke belakang dan berusaha menjadi rakyat Hindia Belanda kala itu, jujur saja kita pasti mengakui, bahwa tidak semua rakyat pasti setuju dengan Pemerintahan Republik, begitu sebaliknya. Sama seperti kita sekarang, ketika kita dihadapkan dengan dua pilihan, misalnya dalam pemilihan umum Presiden lalu, kita pasti ada yang mendukung pihak 01 dan 02.

Johan de Vries

Johan adalah tokoh utama dalam film ini, dia pemuda Belanda yang ikut dalam kampanye pemerintah kerajaan Belanda. Dalam film ini kita dibawa ke dalam kehidupan seorang pemuda dari kelas menengah Belanda, yang memiliki latar belakang keluarga yang rumit. Ayah Johan ternyata dipenjara karena menjadi “Kolaborator Nazi” dan sudah memenjarakan ribuan rakyat senegaranya di Belanda.

Maka dari itu ketika Johan pergi ke Hindia Belanda, ada pemuda sekotanya yang tahu latar belakang keluarga Johan, berusaha membongkar rahasia Johan ke semua tantara Belanda di Hindia Belanda. Kolaborator NAZI adalah sebutan untuk orang dari negara jajahan Jerman yang menjadi sukarelawan Nazi. Saya berpikir dalam hal ini mungkin saja ayah Johan tidak punya jalan lain selain menjadi kolaborator untuk menyelamatkan keluarganya dari kekejaman Nazi sendiri, sampai dia rela menjerumuskan teman senegaranya ke penjara.

Sebelum berangkat ke Hindia, Johan bekerja pada sebuah kantor di Belanda, sampai dia mendaftar menjadi sukarelawan, bisa jadi dia melakukannya demi memperbaiki nama keluarganya yang sudah tercoreng akibat ayahnya, itu hanya analisis saya, karena di film tidak disebutkan. Awalnya Johan ditugaskan ke Semarang Bersama teman – temannya untuk menumpas teroris yang tidak lain adalah tentara revolusi Republik Indonesia. Johan ini memiliki sifat kritis, dia selalu menekankan, bahwa sebagai tentara belanda di Hindia Belanda, jangan kasar ke rakyat Hindia. Johan juga pernah geram ke komandannya, karena sang komandan menolak membantu rakyat Hindia yang rumahnya direbut dan anak istrinya disekap oleh tentara Republik.

Yuk, baca juga : Tatsuya Fujiwara Dan Benang Merah Karakter Filmnya

Jika dipikir – pikir, pemikiran Johan ini sangat benar. Mari direnungkan kita mau mendekati lawan jenis, karena kita tertarik dengan dia, dan kita memiliki tujuan untuk menjadikan dia pasangan, kita sudah pasti dan mau tidak mau selalu baik dan perhatian dengan dia, walaupun kadang hal itu berlebihan, bahkan tidak perlu. Bayangkan diri kita seperti sang komandan, mau sampai lebaran monyet, orang yang kita suka sudah pasti tidak akan tertarik dan membalas rasa suka kita kan?

Perkenalan dengan “Si Turki”

 “Si Turki” atau yang kita kenal dengan Westerling, memang memiliki banyak nama, dia dikenal juga dengan nama “Ratu Adil”. Westerling memang memiliki darah campuran Turki Belanda, maka orang – orang menyebutnya “Si Turki”. Menurut literasi di di dunia maya, Westerling bukan merupakan anggota resmi tentara kerajaan Belanda, dia malah pernah ikut latihan militer tentara angkatan laut Inggris. Westerling digambarkan sebagai orang yang bebas, siapapun yang butuh bantuannya, baik pemerintah Belanda, Republik, dan kelompok milisi agama, dia siap membantu, jika ada imbal balik yang dia dapat.

Yuk, baca juga : Film Sobat Ambyar, Lebih dari Sekadar Drama Patah Hati

Johan pertama kali bertemu dengan Westerling tepatnya saat di kamp militer, dan berlanjut makin dekat setelah Johan dimintai tolong oleh Westerling untuk menginterogasi salah satu tawanan. Kedekatan mereka makin terasa setelah Johan meminta tolong Westerling untuk menolong seorang bapak yang diperankan Lukman Sardi, yang rumahnya diduduki tantara Republik dan anak istrinya disekap di sana. Johan, Westerling dan seorang berkulit agak gelap khas orang maluku, menurut Analisa saya, orang itu adalah tantara KNIL, yang saat itu banyak berasal dari Maluku, mereka bertiga membantu bapak tadi dan menyelamatkan anak gadisnya.

Pertemuan dengan Westerling membuat Johan mulus masuk ke dalam pasukan khusus Belanda, yang dibentuk guna menumpas Teroris di Hindia Belanda. Pasukan ini yang pada akhirnya akan membantai rakyat Sulawesi Selatan, yang kita kenal dengan kejadian “Pembantaian Westerling”.

Pergulatan batin Johan

Pada mulanya Johan mau bergabung dengan pasukan khusus dengan tujuan menumpas Teroris, dan menciptakan Hindia yang damai sebelum kedatangan Jepang. Pada mulanya dia dan pasukan khusus Belanda mendarat di Sulawesi dengan damai, karena pada saat itu pemerintah Belanda memecah Indonesia menjadi beberapa negara bagian, guna meminimalisir pengaruh Republik.

Pergulatan batin Johan mulai muncul saat Westerling membariskan warga desa, di mana pasukan itu melakukan operasinya. Westerling mengeluarkan buku yang di dalamnya sudah tertulis nama warga desa yang diindikasi ikut dalam kelompok teroris Republik. Satu persatu nama mereka disebut, dan tanpa BA BI BU BE BO, Westerling menembak kepala mereka, tanpa proses pengadilan dahulu, seperti seharusnya hukum berjalan. Johan yang melihat kejadian itu geram dan memutuskan membangkang dari komando Westerling. Mau tau detail filmya, saya sarankan langsung lihat di penyedia jasa streaming film ya……

Film ini mengajarkan kita, jangan melihat sejarah hanya dari sudut pandang si pemenangnya saja. Tanpa kita sadari, pikiran buruk dan tak jarang cacian kita sebenarnya mengarah ke pihak yang tidak bersalah. Johan menggambarkan orang Belanda yang tulus ingin menciptakan Hindia Belanda yang damai. Sayang pandangan dan orang – orang seperti Johan selalu tenggelam dalam dinamika hidup yang berisi orang – orang jahat dan mementingkan dirinya sendiri. Sekian review saya mengenai review film De Oost. Sampai jumpa lagi di review saya berikutnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here