Waktu Baca: 3 menit

Film dokumenter Seaspiracy mampu mengungkap fakta di balik industri perikanan dunia sekaligus kondisi lautan global saat ini, terutama terkait industri perikanan tangkap. Secara garis besar, film mencengangkan tersebut membahas soal sampah plastik,dan isu kelautan global yang sangat kelam.

Ali Tarbrizi yang merupakan sutradara dari film tersebut mewawancarai berbagai kalangan, mulai dari industri, pemerintah, peneliti, akademisi, korban perbudakan, hingga lembaga-lembaga yang memiliki perhatian terhadap isu pengelolaan laut. Lokasinya berada di beberapa negara seperti Jepang, Skandinavia, Afrika, Prancis, Pulau Faroe, dan Skotlandia untuk melihat serta mendokumentasikan tingkah laku manusia terhadap lautan.

Seaspiracy Review : Membuka Takbir Ketakutan

Melalui dokumenter yang dikemas secara apik tersebut penonton kembali disadarkan akan peran lautan yang luar biasa dan amat penting bagi manusia, serta makhluk hidup lainnya. Berbagai fakta menarik dan mencengangkan terbuka secara perlahan ketika kita mulai menonton film dokumenter tersebut, beberapa diantaranya adalah:

  1. Laut adalah paru-paru Bumi. Sayangnya, 90% populasi ikan besar telah musnah, dan 50% terumbu karang telah hancur.
  2. Penangkapan ikan industri menyebabkan kerusakan besar pada kehidupan laut karena mampu membunuh banyak fauna dan flora.
  3. Jika tren penangkapan ikan secara berlebihan terus berlangsung, maka kita akan melihat laut yang kosong pada tahun 2048.
  4. Plastik yang mendominasi di laut bukan sedotan dan atau kantong plastik, melainkan jaring ikan.
Pro dan Kontra Seaspiracy

Seaspiracy Review

Kemudian, saya mencoba mencari kebenaran dari fakta-fakta tersebut dan menemukan suatu pro dan kontra yang ditulis oleh bbc.com dan berkaitan dengan empat fakta yang ada dalam Seaspiracy, berikut:

  1. Laut adalah paru-paru Bumi karena organisme mikroskopik di lautan seperi fitoplankton mampu menyerap empat kali lipat jumlah CO2 dan menghasilkan 50-80% oksigen di bumi. Ini lebih banyak daripada hutan hujan Amazon.
  2. Fauna yang dapat terbunuh dalam penangkapan ikan industri adalah lumba-lumba dan hiu. Setiap tahunnya terdapat 700 lumba-lumba dan hiu yang menjadi buruan di Taiji, Jepang.
  3. Laut yang kosong bisa saja terjadi. Polusi dan penangkapan masal menjadi faktor terbesar yang menyebabkan fenomena ini.
  4. Hingga detik ini masih banyak orang yang secara masif mengkampanyekan tentang larangan penggunaan sedotan plastik dan barang berbahan dasar plastik untuk menjaga limbahnya agar tak sampai ke lautan. Hal itu merupakan langkah awal yang baik. Namun ternyata terdapat salah satu ancaman yang paling besar yaitu sampah jaring ikan. Setiap selesai memancing, banyak nelayan yang membuangnya ke laut. Sampah ini menjadi ancaman besar untuk satwa. Berdasarkan catatan dari Sea Turtle Conservancy, di Amerika saja terdapat 250.000 penyu yang terluka dan mati karena ikut terjerat penangkapan ikan.

Kesimpulan Mengenai Seaspiracy Review

Secara pribadi film ini menggugah saya. Secara pribadi saya merasa sepiring seafood yang hadir di depan saya bisa jadi menimbulkan banyak pengorbanan tak perlu

Bapak Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono juga ikut angkat suara mengenai film kontroversial Seaspiracy. Beliau melihat suatu pesan yang wajib menjadi bahan renungan. Ketika manusia hidup tanpa kendali dan hanya memikirkan dari sisi ekonomi, maka hal tersebut lambat laun akan membunuh manusia itu sendiri.

Selain itu beliau juga mengatakan bahwa menurut beliau, film itu menjadi sebuah sinyal untuk Indonesia untuk memperbaiki pola konsumsi ikan. Contoh kecilnya adalah dengan mulai mengkonsumsi hasil perikanan budidaya, bukan yang berasal dari laut lepas.

Lautan membantu mendukung semua kehidupan di bumi, sekarang saatnya bagi kita untuk memberikan dukungan kepada lautan.

Akhir kata, saya memberikan rekomendasi kepada Anda untuk turut serta menonton Seaspiracy. Namun, ada beberapa catatan untuk Anda. Film ini memuat beberapa konten sensitif. Anda akan menemukan adegan pembunuhan, penembakan dan pemotongan hewan secara kejam sehingga ada banyak adegan darah hewan.

Baca juga :
Bitcoin Ramah Lingkungan Memang Bisa?

Berburu Ikan Paus Ala Masyarakat Lamalera

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here