Waktu Baca: 2 menit

Masih kental di ingatan saya tentang sebuah video klip lagu berjudul Sesuk Prei. Video berdurasi 3 menit 39 detik ini dibuat oleh vokalis bernama Doni , duet bersama DJ Aprillia. Untuk menambah suasana, mereka menambahkan talent Pak Suwono dan Pak Garito. Bagi saya, video klip ini menarik untuk dibahas. Rasa-rasanya, Sesuk Prei menjadi cara bergembira yang khas di era pandemi.

Lirik lagu

Lagu berbahasa Jawa ini liriknya cuma dua kata doang. Sesuk prei. Artinya, besok libur. Sudah, dua kata itu saja dan dinyanyikan berulang-ulang. Saya rasa orang dari suku bangsa manapun dengan mudah menirukan lagu ini.  Terminologi Sesuk Prei sebetulnya sudah lama ada. Dulu dipakai untuk isian interlude lagu Campursari dan Dangdut. Doni bersama DJ Aprillia lalu mencoba mengemas dua kata itu menjadi satu lagu.

Representasi Situasi Pandemi

Pada video itu Doni mengenakan seragam SMP, Pak Suwono mengenakan kaos lorek merah putih khas jawa timur, DJ Aprillia mengenakan hot pants bergoyang sambil memainkan Turntable DJ, sementara Pak Garito berdiri tegap mengenakan pakaian linmas sambil mengamati Aprillia. Cara Doni menyanyikan sangatlah monoton, tampak tidak semangat. Nadanya juga itu-itu saja. Dalam satu tangkapan layar tergambar 2 hal yang kontras. Pak Suwono dan Mbak Aprillia berjoget menikmati suasana, Mas Doni dan Pak Garito menunjukkan sikap monoton.

Kalo kamu merasa gemes melihat video itu, ya memang itulah tujuannya. Bagi saya, mereka ini justru cerdas membawakan pesan kegembiraan dalam situasi pandemi.

Baca juga : Apa Kabar Pariwisata Kita ? 

Kegembiraan Semu di Masa Pandemi

Kalo dipikir-pikir, bukankah hidup kita selama 1 tahun terakhir ini sebetulnya flat-flat saja ? Libur maupun tidak, toh ritmenya sama saja. Kalau pun hari libur, toh tidak bebas pergi ke mana-mana. Dulu orang senang dengan Work From Home, karena dirasa jam kerja bebas; yang penting target kerja tercapai. Sekarang toh Work From Home maupun Work From Office, atau bahkan Work From Bali, jam kerjanya sama saja. Bisa-bisa 12 jam full bekerja.

Kalau dulu ketika kita tahu besok adalah hari libur, maka reaksi kita adalah Horeeee ! Nah kalo sekarang, tahu besok adalah hari libur, reaksinya berubah jadi Hore. Cara bergembira kita pun ya hanya sekedar hore saja. Mendaraskan Sesuk Prei pun ya hanya bisa dengan nada lirih tanpa semangat. Lha bagaimana ? mau halan-halan antar kota naik pesawat pun harus mikir berlipat ganda soal biaya untuk protokol kesehatan. Mau staycation di hotel untuk semalam pun rasa leganya hanya di malam hari saja. Begitu bangun pagi, langsung ingat kembali dengan pekerjaan yang tak ada habisnya.

Pengawasan Protokol Secara Ketat

Hidup kita mungkin seperti mbak Aprillia di video clip itu. Bisa joged-joged, bisa agak bersenang-senang, tetapi harus silent. Masih diawasi pula oleh aparat. Lagipula kalo kita pakai masker, seberapa besar sih kemampuan kita untuk cerewet dan tertawa terbahak-bahak?

Ada satu sketsa dalam video clip itu, yang ceritanya Doni hendak berangkat sekolah diantar Pak Suwono dengan sepeda. Sampai di sekolah, gerbang masih tutupan dan sepi. Lalu Doni pulang kembali diboncengkan oleh Pak Suwono. Saya pikir ini juga cara mereka memahami situasi anak-anak sekolah. Entah di kalender tanggal merah, tanggal hitam, atau tanggal hijau sekalipun, anak-anak tetap ada di rumah. Antara libur dan tidak, ritme nya hampir sama. Bagi anak yang malas belajar online, bakal lebih memilih presensi pagi di Whatsapp Group kelas, lalu melanjutkan tidur atau nge-game. Kalo ditanya senang atau tidak, ya biasa saja. Besok libur pun ya biasa saja.

Saran saya, rajin-rajinlah menyanyikan lagu Sesuk Prei agar kita ‘agak’ bahagia. Minimal kekesalan hidup kita teralihkan pada pemeran video clip itu. Inilah cara kita bergembira di era pandemi, dengan menyanyikan Sesuk Prei

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here