Waktu Baca: 4 menit

The Lord of the Rings Trilogy Film Fantasi Terbaik. Kok bisa? Yuk kita bedah!

Dewasa ini ada begitu banyak film maupun serial fantasi yang merupakan adaptasi dari novel fantasi dengan judul yang sama seperti Harry Potter yang ditulis oleh JK Rowling, Narnia yang ditulis oleh C.S. Lewis, Eragon yang ditulis Christopher Paolini, dan A Song of Ice and Fire (diadaptasi jadi Game of Thrones oleh HBO) yang ditulis oleh George R. R. Martin. Namun saya kira, ada satu nama yang menjadi induk dari judul-judul yang saya sebutkan di atas yakni J.R.R. Tolkien yang menulis The Hobbit dan  The Lord of the Rings.

Bahkan lebih ekstrem lagi, menurut saya The Lord of the Rings Trilogy Film Fantasi Terbaik. Mengapa saya sebutkan demikian? Lebih dari 10 tahun yang lalu, ketika membaca majalah Cinemags, saya membaca artikel yang berkata bahwa cerita-cerita fantasi seperti Harry Potter, Narnia, dan Eragon jelas-jelas terinspirasi oleh tulisan fantasi karya Tolkien. Dengan format serupa, dimana ada templatenya tersendiri. Template yang digunakan adalah orang baik melawan tokoh jahat, dibalut dengan makhluk-makhluk fantasi seperti naga dan goblin, hewan yang dapat berbicara layaknya manusia, dan senjata-senjata keramat seperti pedang pusaka dan tongkat elder, serta tokoh jahat yang ingin menguasai dunia. Meskipun para penulis tersebut disebut-sebut terinsprirasi dari Tolkien, kerumitan cerita, kisah kepahlawanan, dan kekayaan semestanya, tidak ada yang seciamik dan seindah semesta Middle Earth yang telah dibuat oleh Tolkien.

Faktor Sutradara

Lord of the Rings memang beruntung karena disutradari oleh Peter Jackson yang telah membaca buku karya Tolkien tersebut sejak muda dan memang bertekad keras untuk membuat filmnya suatu saat nanti dari fantasinya ketika membaca karya Tolkien tersebut. Peter Jackson seolah-olah membuat film untuk dirinya sendiri yang masih muda tersebut. Lord of the Rings juga beruntung karena telah didukung oleh aktor dan aktris yang sangat piawai dalam memerankan perannya masing-masing di film tersebut.

Faktor Pendukung Lain yang Menjadikan The Lords of The Ring Trilogy Film Fantasi Terbaik

Tidak hanya itu, aransemen musik, kostum, dan grafiknya juga bukan kaleng-kaleng. Terbukti, di filmnya yang ketiga, The Lord of the Rings : The Return of the King telah meraih 11 Oscar dari 11 nominasi Oscar yang diperolehnya. Bahkan film pertama meraih 4 Oscar dari 9 nominasi yang diperolehnya. Film keduanya meraih 2 Oscar dari 4 nominasi yang diperolehnya, sehingga total keseluruhan trilogy ini telah meraih 17 Oscar.

Lord of the Rings dan seluruh pihak di dalamnya juga beruntung karena tidak ada intervensi dari New Line Cinema, dengan durasi film selama 3 jam untuk kategori film bioskop. Bahkan versi extendednya sampai 4 jam. Sedangkan Harry Potter harus dipotong disana sini untuk keperluan durasi, dan disutradari oleh oleh 4 sutradara yang berbeda dari kedelapan filmnya. Apalagi Eragon dianggap gagal total sehingga tidak dibuatkan sekuelnya karena betul-betul berbeda dari novelnya, padahal novelnya sangat bagus.

Baca juga : Kalau ini film zombie terbaik

Saya si Penggemar LOTR Garis Keras

Saking bagusnya, Lord of the Rings Trilogy versi extended adalah film yang secara rutin saya tonton setidaknya satu tahun sekali tanpa rasa bosan, meskipun total keseluruhan durasinya adalah 12 jam.

Karakter dalam cerita ini juga adalah karakter yang sangat kuat. Boromir, sebagai anak sulung dari  Denethor II, Pejaga Gondor ketika tahta kerajaan tidak diduduki oleh pewaris yang sah, begitu berambisi untuk menjaga Gondor dengan sepenuh jiwanya, ketika pewaris yang sah, Aragorn, tidak mau mengklaim haknya sejak lahir karena khawatir akan mengulangi kesalahan leluhurnya ribuan tahun yang lalu, Isildur. Adegan kematian Boromir pun sanggup membuat laki-laki untuk menangis ketika kalimat terakhirnya kepada Aragorn berbunyi, “I would follow you, my brother. My captain. My king”, ketika akhirnya Boromir mengakui Aragorn sebagai pewaris yang sah dari Gondor.

Baca juga: Film ini bikin orang Indonesia overproud, tapi ya gak apa apa

Belajar Persahabatan dari Fantasi

The Lord of the Rings juga mengajarkan arti persahabatan sejati ketika Frodo Baggins, sang pembawa cincin jatuh ke dalam lubang yang terdalam ketika diperdaya oleh Gollum di Mordor. Dia tetap berada di samping Frodo sampai akhir. Masing-masing dari kita sebetulnya tidak usah memiliki banyak teman. Cukup satu teman yang setia seperti Samwise Gamgee.

Adegan lainnya yang sanggup membuat laki-laki untuk menangis adalah pidato Raja Théoden sebelum perang kepada pasukannya yang berjumlah ribuan. “Arise, arise, Riders of Théoden! Spears shall be shaken, shields shall be splintered. Death!”, yang merupakan pidato seorang pemimpin, seorang jenderal, seorang raja sejati dari Rohan yang membuat ribuan pasukan di belakangnya rela untuk mati demi sang raja. Seluruh pasukannya tahu, bahwa pertarungan ini akan berakhir dengan kekalahan karena mereka kalah jumlah, tapi mereka rela bertarung dan rela mati demi sang raja.

Seorang raja sejati, yang memimpin ribuan pasukannya saat perang dengan berada di garda terdepan dan membuat pasukannya rela mati deminya karena Théoden bukan raja yang duduk dengan santai di belakang layar. Saya pikir ini adalah adegan pidato paling menakjubkan dalam sejarah perfilman umat manusia yang tidak akan ada penggantinya sampai kapanpun. Adegan ini selalu membuat saya menangis dan merinding setiap saat. Tidak heran film ini (The Return of the King) mendapat 11 Oscar.

Lord of the Rings juga membuktikan, ketika seluruh pihak yang telah bertikai sejak lama, yakni umat manusia, Elf (peri), Dwarf (kurcaci) yang telah saling membenci selama lebih dari 3.000 tahun, pada akhirnya mau bekerjasama untuk melawan satu musuh yang sama, yakni Sauron. Mudah-mudahan, dengan adanya pandmei Covid-19, umat manusia di seluruh dunia bisa bersatu, saling melupakan perbedaan yang ada selama berabad-abad ini.

Lord of the Rings adalah bukti bahwa di bawah sutradara yang tepat, studio yang percaya dan mendukung sepenuhnya, kombinasi aktor dan aktris yang pas, aransemen musik yang ciamik, desain kostum yang realistis, dan grafik yang memanjakan mata betul-betul menghasilkan mahakarya terbaik sepanjang sejarah perfilman umat manusia yang tidak perlu dibuatkan remakenya sampai kapanpun saking jeleknya. Dibandingkan cerita fantasi lainnya yang sudah diadaptasi menjadi film, Lord of the Rings tidak ada lawannya sama sekali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here