Waktu Baca: 2 menit

Dua tahun belakangan ini, tren thrifting atau  awul-awul kembali ramai menjadi perbincangan di kalangan millenial. Sebetulnya, apa sih thrifting online itu? Atau lebih spesifiknya, thrifting itu apa? Berdasar beberapa sumber, thrifting mengadopsi kata dasar “thrift” dalam bahasa Inggris yang berarti upaya untuk menghemat dan bijak dalam mengatur pengeluaran. Terlepas dari arti harafiah “thrift” yang berarti untuk menghemat, thrifting acap kali memiliki sinonim dengan kegiatan membeli barang bekas dan menggunakannya kembali sebagai upaya untuk menghemat pengeluaran.

Sejarah Thrifting Indonesia

courtesey : Carla Burke

Kegiatan membeli barang bekas ini ternyata sudah menjadi sebuah kultur di kalangan masyarakat Indonesia. Hampir di tiap kota besar terdapat pasar yang menjual baju/barang bekas atau lebih dikenal dengan sebutan preloved/eks import. Barang-barang preloved atau eks import ini biasanya memiliki harga jual lebih murah dari harga pasar. Melihat hal ini, banyak kalangan milenial yang memanfaatkan kesempatan emas untuk membuka peluang bisnis yang sekarang ini dikenal dengan bisnis thrifting online  walau ada juga yang offline dengan marketplace yang disebut sebagai thrift shop.

Bisnis thrift atau thrift shop di kalangan milenial ini datang dengan konsep dan rupa yang berbeda. Arti thrifting tidak lagi sebatas membeli barang bekas dan menggunakannya kembali, namun sudah mencakup proses perawatan khusus (treatment), mengolah kembali (re-worked), hingga pengemasan dan penjualan produk (branding). Keberadaan thrift shop yang semakin menjamur dari tahun 2019 menjadi peluang bisnis baru, khususnya untuk kalangan millenial. Modal usaha yang cenderung rendah atau tidak terlalu tinggi menjadi keunggulan dari bisnis thrift. 

Praktek Thrifting Untuk Millenial
thriftshop online
Salah satu toko thrift shop yang di desain dengan modern dan menarik

Bagi kalangan milenial, mengelola bisnis thrift bukan hanya sekadar membeli barang dengan modal rendah. Namun, pengelola bisnis ini harus memiliki keterampilan untuk menciptakan personal branding. Kenapa, hal ini membantu mempermudah pemasaran barang.

Penggunaan media sosial seperti instagram dan e-commerce seperti shopee dan tokopedia menjadi alternatif para pelaku bisnis thrift. Selain itu, penggunaan laman website untuk menjajakan produk yang tersedia juga menjadi salah satu alternatif baru. Sarana itu efektif dalam mengembangkan bisnis thrift atau thrift shop.

Eksklusivitas Dalam Thrifting

Tahukah kamu bahwa item di thrift shop hanya ada satu saja dan begitu laku anda tidak akan mendapatkan barang yang serupa? Dengan demikian, konsumen tidak akan mendapat barang atau produk dengan model yang sama setelah barang tersebut sudah habis terjual.

Ketersediaan barang preloved atau eks. import ini menjadi daya tarik tersendiri di kalangan muda terlebih untuk barang-barang yang sudah mendapatkan perawatan khusus (treatment) ataupun sudah diolah (re-worked) karena konsumen akan mendapatkan guilty pleasure atau kepuasan tersendiri dengan menggunakan barang limited edition.

     Pada akhirnya, bisnis thrift atau thrift shop tidak hanya membuka peluang bisnis untuk UMKM ataupun untuk generasi milenial. Thrifting juga mengasah keterampilan dan menyuguhkan pengalaman tersendiri bagi para pelaku bisnis dan konsumen. Bagaimana, menarik bukan?

Mau tahu peluang bisnis anak muda lainnya?

Beli saham klub bola, kenapa enggak?

Lima Peluang Bisnis Anak Muda di Era Pandemi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here