Waktu Baca: 4 menit

Corona dan Idul Adha membuat saya memikirkan kembali banyak hal…

Kira kira empat tahun yang lalu, saya mendapat tugas untuk meliput perayaan Idul Adha di Bukit Duri. Saat akan berangkat menuju ke Bukit Duri, saya sudah diberitahu oleh rekan rekan saya bahwa saya harus berhati hati. Sebab, suasana di Bukit Duri sedang panas karena Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Basuki Tjahaja Poernama memaksakan penggusuran meski kalah dalam gugatan class action. Namun saya berpikir positif saja. Benar saja, dugaan rekan rekan saya salah. Warga Bukit Duri ternyata kalem kalem saja. Bahkan, sikap mereka menjadi inspirasi saya untuk menulis  perenungan saya mengenai Corona dan Idul Adha.

Empati Orang Yang Tidak Berpunya

Ketika tiba di Bukit Duri, saya disambut sebagai tamu meski muka saya cukup Chinese. Yah, walaupun mereka bermasalah dengan seorang keturunan Tionghoa bernama Ahok, toh mereka tidak lalu menjadi rasis. Kami banyak mengobrol dan membahas masalah penggusuran yang menurut mereka tidak adil. Semua itu mereka lakukan sambil asyk menyembelih kambing. Sebagai catatan, waktu itu mereka kebanyakan hanya bisa mendapatkan kambing untuk ibadah kurban.

Setelah saya menyelesaikan proses wawancara dan pengambilan gambar, sayapun kembali ke kantor. Namun, sebelum saya pulang, mereka memberikan beberapa potongan daging kambing yang baru saja mereka bersihkan. Saya langsung tertegun. Luar biasa, di tengah kekurangan mereka, mereka masih mau berbagi kepada saya yang memiliki kondisi ekonomi yang jauh lebih mendingan daripada mereka. Dari situlah saya belajar soal empati.

Orang Kaya dan Pintar Yang Buta

Hari hari ini kita sering mendengar orang pintar dan berada malah kekurangan empati saat menanggapi soal Corona. Mereka banyak menyalahkan kaum menengah ke bawah yang tidak taat prokes sehingga pandemi menjadi berlarut larut. Bagi saya, sungguh tidak adil jika kita menyalahkan kaum menengah ke bawah. Mereka memang memiliki ilmu pengetahuan terbatas. Mau bagaimana lagi? Akses pendidikan saja sulit mereka dapatkan.

Ketika tokoh seperti Maudy Ayunda misalnya bisa menghabiskan ratusan juta bahkan milyaran Rupiah untuk bersekolah di sekolah top dan mendapat predikat gadis inspiratif, mereka mau masuk SMP atau SMA Negeri saja tidak bisa. Bukan karena ketidakmampuan intelektual, namun karena biaya yang terbatas. Miris.

Di kondisi begitupun, masih ada orang berpunya yang menuduh kalau kaum menengah ke bawah tidak memiliki usaha. Lha sudah kurang memiliki ilmu, kini bantuan sosial merekapun dijarah bersama sama pejabat yang harusnya paling kuat empatinya. Hancur betul mereka.

Ketika mereka mencoba mengais ilmu pengetahuan, sialnya akses mereka cuma televisi dan smartphone murah (masih kredit pulak). Di situ, isinya hanya propaganda dan berita menyesatkan. Ketika nantinya mereka mempercayai informasi itu, kita hajar lagi mereka dengan sebutan pandir karena mudah percaya hoax. Betul betul sial nasib kaum menengah ke bawah ini.

Orang Pintar Harusnya Punya Solusi

Serangan ke kaum menengah ke bawah sebenarnya tidak ubahnya upaya orang pintar lari dari kesalahan. Orang pintar seharusnya bisa menyusun kebijakan dan membuat peraturan untuk mengurangi dampak negatif pandemi korona. Namun, harus kita akui hingga hari ini kebijakan dan keputusan yang ada masih jauh dari cerminan ‘orang pintar’.

Sudah ada PPKM dan PSBB, eh tapi kantor kantor masih memaksakan work from office. Eh kita tahu kalau sekolah ditutup, namun tempat pariwisata dan mall masih saja terbuka. Jelas juga kita tahu bahwa corona lebih mudah menyebar di ruangan tertutup, eh masih ada saja perkumpulan orang banyak di tempat berpendingin seperti di bank dan kantor kantor. Kok tiba tiba, orang pintar ini tidak pintar ya?

Salah! Mereka ini pintar, tetap pintar, namun pintarnya untuk diri sendiri. Ketimbang bekerja sama menyusun kebijakan agar pandemi ini cepat selesai. Mereka mencari selamatnya sendiri sendiri. Mereka mikir, pemerintah juga toh tidak membantu usaha mereka tetap bertahan di kala pandemi dengan memberi keringanan pajak. Sikap egois ini akhirnya membubarkan segala upaya dan daya untuk mengatasi pandemi. Tapi tenang, kalau ada apa apa, masih ada rakyat kecil menengah ke bawah untuk disalahkan.

Kelompok Menengah ke Bawah Malah Lebih Pandai Berempati

Meningkatnya pengangguran tentu berimbas pada naiknya angka kriminalitas. Di berbagai kantong kantong kelompok menengah ke bawah, mereka sudah mencari solusinya: melakukan ronda malam. Usaha ini mereka lakukan untuk mencegah kejahatan. Dan lagi, mereka memang tidak punya uang untuk menyewa security seperti orang orang kaya misalnya.

Jika ada tetangganya yang sedang isoman, mereka bahu membahu untuk memberikan makanan dan memastikan keluarga yang sedang melakukan isoman ini baik baik saja. Jangan mudah percaya berita yang menunjukkan kelompok menengah ke bawah yang kayaknya bertindak dan bersikap bodoh. Sikap sebagian dari mereka lahir dari ketidaktahuan mereka. Mereka ini memang bukan orang orang yang bisa kita minta langsung ngerti. Seharusnya yang pintar dan berada membantu mereka, bukan menyalahkan mereka.

Negara Lain Saja Bisa!

Negara lain juga memiliki kaum menengah ke bawah. Thailand misalnya, mereka memiliki banyak kaum miskin dan tidak berpendidikan. Namun, mereka toh bisa menangani corona. Kegagalan menangani pandemi corona ini ya karena kegagalan orang pintar untuk berkolaborasi. Itu saja, tidak ada hubungannya dengan orang menengah ke bawah yang ‘kita anggap gak cerdas’. Mereka yang tidak cukup pendidikannya tidak bisa kita salahkan karena memang mereka gak terbiasa menjadi cerdas. Kitalah yang beruntung bisa menerima proses pencerdasan dan harusnya mengambil tanggung jawab sebagai orang cerdas.

Menangani corona harus dimulai dari empati. Kita harus memahami dulu bahwa gak semua orang pintar. Sebagai orang pintar, harusnya kita melahirkan solusi. Kedua, kalau membuat kebijakan haruslah holistik, jangan hanya memikirkan kepentingan perut sendiri. Ketiga, berhenti mencari kambing hitam. Semakin anda pintar dan semakin anda memiliki kekuasaan serta kekayaan, sudah seharusnya tanggung jawab anda untuk mengakhiri pandemi ini semakin besar. Kalau anda masih sibuk menyalahkan kaum yang emang kurang pengetahuan, berarti anda cuma lari dari tanggung jawab. Semoga momen Corona dan Idul Adha ini menyadarkan kita semua. Salam!

Baca juga kisah kisah kami lainnya mengenai Corona:

Tim Kubur Cepat Jenazah Korona : Cerita Tentang Mereka

Corona di Jepang, Sebuah Cerita dari Anak Negeri

Mitos Soal Corona dan Jawabannya Bersama Dokter Beneran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here