Waktu Baca: 4 menit

Faktanya, semua negara menghadapi pandemi Corona. Hal ini juga berlaku di negeri Sakura, Jepang. Corona di Jepang memang tidak separah di Indonesia. Namun, pemerintah Jepang tidak menilai permasalahan ini dengan sebelah mata. Kenyataannya, Jepang saat ini masuk ke tahap empat dari penyebaran virus Covid 19. Dengan rata rata kasus mencapai 1000 per hari, Jepang menghadapi Corona dengan sangat hati hati. Apalagi, Olimpiade Tokyo sudah di depan mata.

Saya menghubungi salah satu rekan saya di Jepang, Veronica Theresia Pranowo atau akrab dipanggil Veve, untuk menceritakan kondisi pandemi Corona di Jepang. Apa yang Veve sampaikan adalah pendapat pribadi atau personal yang ia lihat dari kaca matanya sebagai mahasisiwi perantauan. Oleh karena itulah, mungkin yang Veve sampaikan tidak sama dengan rilis resmi dari pemerintah negara asal sushi tersebut.

Bisa diceritakan kondisi Corona di Jepang secara umum?

“Kalau di Jepang sekarang sudah 4th Wave, jadi sempat naik turun. Untuk total jumlah korban secara umum bisa dilihat di situs milik pemerintah. Somehow, jumlah infeksi di negara Jepang jauh lebih rendah dari negara lainnya. Nampaknya karena warga dan pemerintahnya tertib,” ujar Veve membuka obrolan.

“Pemerintah bertindak sigap mendeklarasikan state of emergency di beberapa perfektur atau kota yang dinilai beresiko tinggi begitu. Dalam kondisi emergency, ada partial lockdown. Restoran dan bar tutup sebelum jam delapan malam. Perbatasan Jepang juga ditutup  untuk pendatang dengan visa baru. Bahkan untuk visa pelajar saja tidak diperbolehkan masuk. Namun, untuk bulan Juni ini sudah ada warga negara lain yang diperbolehkan masuk dengan sejumlah syarat dan harus bisa membuktikan kalau ia benar benar berkepentingan.”

Corona di Jepang
Courtesey : Verena Machado
Bagaimana distribusi vaksin di Jepang?

            “Terus terang Jepang memang dinilai lambat dalam mendistribusikan vaksin. Namun saya melihatnya itu adalah karena Jepang benar benar melakukan pengecekan pada vaksin yang akan didistribusikan. Setiap hari saya melihat pemerintah sigap merilis daftar orang yang bisa menerima vaksin. Ada mobil yang berkeliling untuk mengabari bahwa suatu daerah akan segera mendapatkan vaksin. Saya juga sering melihat pengumuman di balai kota atau kantor kantor pemerintah yang mengabarkan waktu pemberian vaksin,” kata Veve. “Jadi saya bisa memastikan bahwa proses distribusi vaksin ini berjalan dengan lancar.”

Sikap Warga Negaranya Sendiri Bagaimana Menghadapi Corona di Jepang?

 “Sebenarnya sebagian besar dari mereka taat ya. Sudah ada desinfektan dengan alkohol 70 persen yang disediakan di tempat tempat umum. Mereka juga aktif menjaga jarak dan menerapkan protokol kesehatan. Namun, saya akui ada masalah sedikit karena di Jepang itu ada kebiasaan bernama Nomikai. Nomikai itu acara kumpul kumpul orang setelah bekerja makan dan minum bareng bareng. Nah, untuk mencegah Nomikai itu, pemerintah memberikan larangan untuk tempat makan dan minum buka setelah jam delapan malam.

Beberapa warga Jepang juga masih suka piknik. Mereka memang tidak ke kantor, tapi mereka suka menghabiskan waktu di luar untuk piknik. Namun menurut saya tidak apa apa mereka piknik. Toh mereka melakukannya di ruang terbuka dan tetap menjaga jarak.”

Corona di Jepang

Ruang Terbuka Tampaknya Menjadi Kunci Protokol Kesehatan di Negara Maju Ya?
 “Kalau mau jujur, itu sudah menjadi rekomendasi dari WHO untuk memastikan orang berkumpul di ruang terbuka. Jika berkumpul di ruangan tertutup, maksimal hanya boleh ada empat atau lima orang saja. Beberapa kasus penyebaran virus Corona di Jepang ya terjadi karena orang berkumpul di ruang tertutup.”

Tapi di Indonesia hal ini tidak ditekankan ya?

            “Ya, saya kurang tahu detailnya. Namun, mencegah orang berkumpul di ruangan tertutup bisa mengurangi kasus secara signifikan.”

Catatan Ardi: Sampai saat ini pemerintah tidak pernah memberikan peringatan atau umbaian tegas agar orang tidak berkumpul di ruangan tertutup. Sementara di banyak negara hal ini menjadi salah satu strategi penekanan kasus Corona paling utama.

Masihkah Ada Yang Ngotot Bahwa Corona Tidak Ada? Di Indonesia Masih Banyak Pihak Yang Yakin Corona itu Sebuah Konspirasi?

“Saya kira enggak ya. Perdebatannya lebih ke arah dampak multi-dimensi dari Corona di Jepang. Misalnya saja di sektor ekonomi, ada sekitar 4 persen orang Jepang yang mengatakan bahwa ekonomi lebih penting untuk diselamatkan daripada kita memperdebatkan Corona. Selain itu juga masalah Olimpiade Tokyo. Pemerintah sudah menggelontorkan banyak uang, sehingga mereka tidak ingin menunda Olimpiade Tokyo lagi. Namun pemerintah Jepang mempertimbangkan opsi untuk hanya memberikan jatah setengah dari kapasitas total kursi penonton di Olimpiade 2020.”

 “Saya juga melihat warga serius menghadapi Corona. Misalnya saja ya, tiap beberapa jam sekali seluruh gagang pintu, kaca dan meja itu dilap dengan desinfektan oleh pegawai toko atau restoran. Mereka juga tanggap kalau ada kasus positif di sekitar mereka. Petugas pemerintah akan datang dan membersihkan seluruh areal toko atau restoran. Biasanya proses ini hanya memakan waktu satu hari saja. Besoknya toko dan restoran buka seperti biasa lagi. Tidak ada masalah besar asal penanganannya maksimal.”

“Di restoran restoran juga dipasang triplek kaca di meja meja makan khusus berdua untuk menghalangi dua orang berinteraksi langsung. Ya ini salah satu strategi untuk mengurangi penularan virus Corona.”

Bagaimana Dengan Politisasi Kasus Corona di Jepang, Apakah Masih Terjadi?

 “Iya, ada kritikan dari pihak oposisi karena mereka menganggap pemerintahan berkuasa masih terlalu lunak dengan membiarkan piknik dan kumpul kumpul maksimal empat atau lima orang. Namun, saya kira kritik itu kadang kurang tepat karena sudah ada perhitungan dari pemerintah Jepang. Selain itu soal masalah vaksin, pemerintah Jepang memang sangat berhati hari dalam mengecek kualitas vaksin.”

Ada Hal Unik Gak Dari Penanganan Korona di Jepang?

“Ada! Mereka membuat apps di ponsel pintar yang bisa melacak kamu bertemu siapa saja. Nah, misalnya ada yang terkena Covid 19, maka secara otomatis apps itu akan memberikan peringatan dan pemerintah lebih mudah melakukan tracing. Namun, sampai saat ini apps itu masih terus mengalami proses perkembangan agar bisa berfungsi dengan maksimal.”

Sebuah Penutup (Dan Harapan)

Dari wawancara saya dengan Veve, kita belajar bahwa penanganan Corona yang baik adalah peraturan dengan dasar yang jelas, bukan sekedar sebuah retorika saja. Penanganan Corona yang baik harus memperhatikan fondasi pertimbangan dengan tepat. Ketika pemerintah melarang sekolah atau memberlakukan jam malam pada restoran tapi membolehkan orang berwisata misalnya, perlu ada penjelasan yang tepat. Jika tidak ada penjelasan yang meyakinkan, maka masyarakatpun enggan untuk mentaatinya.

Penegakan aturan juga harus jelas. Kalau memang ada larangan mudik, maka penyekatan antar daerahpun harus benar benar efektif. Jika memang ingin melarang orang orang berkumpul, seharusnya hajatan dalam bentuk apapun tidak diperbolehkan. Banyak cluster Corona berasal dari acara hajatan, temu kangen dan kantor yang diam diam memaksakan WFO. Aturan tanpa penegakan sama saja kosong.

Baca Juga :

Konten Viral Vaksin Kemenkes Yang 18+

De-Globalisasi Hari Ini Bukan Karena Korona

Sejenak Bersama Tim Kubur Cepat Jenazah Korona

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here