Waktu Baca: 3 menit

Bagi sebagian besar orang yang belum tahu apa kepanjangan dari akronim dawet jembut kecabut.

Ya gimana lagi, dawet jembut kecabut memiliki kesan gimana gitu. Kalian pasti akan kebingungan karena dalam bahasa Jawa, dua kata tersebut memiliki arti yang gimana Hayo pikirannya mengarah kemana? Cus, langsung saja kita ulas!

 

Dawet Jembut Kecabut?

Siang itu, matahari sedang terik-teriknya bersinar. Lalu lalang kendaraan dan bunyi klakson menemani perjalananku. Kulihat di sepanjang jalan utama Purworejo-Kebumen, nampak banyak sekali warung dawet berjejer di pinggir jalan. “Sepertinya seger nih siang-siang minum es dawet!”, pikirku. Sambil menyetir, aku mulai mengingat-ingat kembali dawet andalan yang selalu jadi oleh-oleh ketika keluargaku bepergian melewati jalan ini! Terlintaslah di pikiranku, “Dawet Jembut!”. Eits… bukan jembut dalam artian kata bahasa Jawa yang berarti rambut kemaluan ya, melainkan sebuah akronim kepanjangan dari Jembatan Butuh. Akronim tersebut menjadi nama panggilan dari dawet legendaris karena lokasinya berada di sebelah timur Jembatan Butuh. Tak hanya nama panggilan, Dawet Jembut juga punya nama panjang. Jika dilihat dari judul artikel ini, apakah kamu bisa menebaknya? Yap, betul sekali. Dawet Jembut Kecabut! Akronim Kecabut merupakan kepanjangan dari Kecamatan Butuh, yaitu nama sebuah kecamatan yang ada di daerah Purworejo, tepatnya 17 km dari ibu kota Kabupaten Purworejo ke arah barat.

 

Kuliner Legenda

Ada banyak sekali warung dawet berjejer di pinggir jalan utama, kenapa memilih Dawet Jembut? Apa istimewanya?

Es Dawet Jembut Kecabut merupakan tipe dawet ireng yang melegenda karena menggunakan bahan pewarna alami sejak hampir setengah abad yang lalu, tepatnya sekitar tahun 1950-an. Usaha ini merupakan usaha turun temurun dan saat ini sudah mencapai generasi ketiga yang dikelola oleh Bapak Wagiman (45) dan istri, Hartati (35). Nah, terkait cita rasa, Dawet Jembut juara deh! Kok bisa? Jawabannya adalah karena kualitas bahan menjadi prioritas yang terus dilestarikan dari generasi terdahulu hingga saat ini. Bahan-bahan alami yang digunakan mampu terus memikat hati para penikmatnya yang berasal dari berbagai daerah, entah hanya lewat dan penasaran hingga memang menyempatkan waktu secara khusus untuk sekadar mencicipi kuliner legenda Purworejo, si Dawet Jembut Kecabut ini. 

Bahan Dawet

Bahan dawet terbuat dari sagu sehingga mampu menghasilkan tekstur dawet yang kenyal. Proses pembuatannya hampir sama dengan proses pembuatan dawet pada umumnya yaitu tepung sagu menjadi adonan dengan air abu yang berasal dari saringan bakaran batang/jerami padi. Kemudian adonan masuk proses masak, dan proses pencetakan dengan cetakan khusus dari kayu yang sudah dilubangi sehingga ketika ditekan akan membentuk adonan dawet bulat panjang berwarna hitam. Agar adonan tidak saling menempel, adonan tersebut langsung masuk ke dalam air es. Selanjutnya, dawet siap untuk pelanggan dengan perpaduan kuah santan, gula merah cair dan es batu. Bapak Wagiman juga akan menawarkan  tape ketan sebagai peneman dawet. Terkait harga, satu mangkok es Dawet Jembut Kecabut ini hanya Rp. 5.000,- kemudian jika ditambah tape ketan harganya menjadi Rp. 6.000,-

Keunikan dari dawet ireng adalah karena bahan pewarna alami yang digunakan berupa abu dari pembakaran batang/jerami padi yang biasa disebut oman mampu menghasilkan warna hitam pekat atau keabu-abuan. Oman mampu menambah citarasa dari dawet dan membuat tekstur kenyal alami yang nikmat menjadi santapan bersama kuah santan dan gula merah cair. Ketika mengunyah dawet, akan terasa serpihan-serpihan tekstur abu namun sangat halus dan membuat citarasa dawet menjadi semakin kaya.

Selain dari segi cita rasa, bagi saya pribadi, dawet ini menyimpan kenangan masa kecil yang indah. Ketika menunggu kedatangan sanak saudara, dawet ini menjadi oleh-oleh yang makin nikmat ketika menjadi santapan bersama. 

Testimoni Pelanggan 

Setiap harinya, Bapak Wagiman dan istri bisa menjual ratusan mangkok dawet. Para penikmat dawet yang berasal dari daerah sekitar atau luar daerah bisa makan di lokasi ataupun membungkus dawet. Saya pribadi bisa habis dua mangkok es dawet lho! Aroma manis dari gula dan perpaduan santan yang kental nan lezat menjadi suatu kombinasi yang menyegarkan.

“Aku suka tu karena manisnya gula sama perpaduan santannya itu ga nyangkut di leher, hem aduh nikmatnya tak terungkap dengan kata-kata”, ujar Lintang, salah satu pelanggan Dawet Jembut Kecabut asal Karanganyar, Kebumen. 

“Rasa dawetnya enak! Teksturnya kenyal dan hadir dengan aroma gula yang wangi, jadi pas gitu rasanya” ujar Alto, seorang mahasiswa Jakarta asal Purworejo.

Namanya yang unik berimbang dengan cita rasa yang khas membuat warung sederhana di pinggir jalan ini ramai kedatangan pengunjung setiap harinya. Bagi yang membawa kendaraan besar maupun kecil, sendiri atau rombongan, tak perlu khawatir soal halaman parkir karena sudah tersedia luas di sebelah warung sehingga tidak menghambat lalu lintas di jalanan.

Nah.. Tunggu apa lagi? Jika Anda melewati jalan utama Purworejo-Kebumen, jangan lupa mampir yaa! Pastinya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. 

Nb: Untuk mengurangi kerumunan dan menaati Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), es dawetnya lebih baik kamu bawa pulang saja ya!

Baca juga:

Kita Nyobain Susu Ketan Cumlaude

Rujak Es Krim Pak Paino,Kuliner Mantap Jiwa di Jogja

Roti Bakar Tower Jakal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here