Empat Kesalahan Negara Dalam Menghadapai Ancaman

Waktu Baca: 3 menit

Pandemi Covid-19 memporak-porandakan hampir setiap lini kehidupan manusia. Kita semua dipaksa untuk berjungkir balik hanya untuk sekadar selamat dalam situasi ini. Negara pun di ambang krisis. Setidaknya, hingga saat ini ada empat kesalahan negara di mata saya.

Memang, tidak ada negara yang siap menghadapi pandemi ini. Namun siap atau tidak siap bukanlah permasalahan, sebab yang menjadi permasalahan adalah seberapa tanggap negara dalam menghadapinya. Ada empat kesalahan dari negara yang seharusnya bisa dihindari. Namun, nyatanya kesalahan itu terjadi dan membuat kesulitan banyak orang.

Bersikap Denial

Masih segar rasanya ingatan kita pada awal 2020, pada saat Covid-19 belum merebak di Indonesia. Beberapa ahli epidemiologi mulai mewanti-wanti pemerintah untuk memperketat pintu masuk di perbatasan.

Namun sayangnya, pemerintah kita pada saat itu memilih untuk menutup mata dan menganggap semua hal baik-baik saja. Pejabat berulangkali mengulangi pernyataan bahwa Covid 19 tidak akan masuk ke Indonesia karena berbagai alasan yang sangat konyol, sebut saja seperti klaim bahwa imun orang Indonesia yang kuat karena sering makan nasi kucing.

Sayangnya, sikap denial ini tidak hanya terjadi pada saat awal pandemi. Setahun kemudian, salah seorang pejabat pemerintah yang menjadi koordinator untuk mengatasi pandemi dengan arogan mengatakan bahwa Covid-19 masih terkendali. Padahal faktanya, ranjang ranjang di rumah sakit sudah penuh.

Fakta di lapangan juga menunjukkan hal yang berkebalikan. Angka tingkat positif terus bertambah. Rumah sakit secara perlahan mulai kehilangan kekuatan. Mereka tidak lagi dapat menerima pasien. Jumlah kematian pun ikut bertambah. Kata Krisis lebih tepat menggambarkan kondisi saat ini.

Tidak Mempercayai Ilmuwan

Sesungguhnya, Indonesia tidak kekurangan ilmuwan. Meskipun tidak sebanding dengan negara-negara maju lainnya, para ilmuwan di Indonesia punya kapasitas yang cukup memadai dalam mengantisipasi pandemi ini.

Namun lagi-lagi kita harus mengigit jari. Pendapat-pendapat para ilmuwan untuk mengurangi dampak pandemi tidak menjadi perhatian pemangku kebijakan. Sebut saja  saran untuk melakukan karantina wilayah, pergencar 3T (Testing, Tracing, dan Treatment), atau pencegahan WNA masuk ke Indonesia, semua tidak berjalan dengan semestinya.

Karantina wilayah gagal dilakukan, dengan alasan tidak ada biaya. 3T belum optimal dilakukan. WNA pun masih “bebas” keluar masuk Indonesia.

Salah Menentukan Prioritas

Mengatasi pandemi memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun hal tersebut tentu tidaklah sesulit menyatukan kembali Korea Utara dan Korea Selatan. Yang kita perlukan hanya memhami skala prioritas kebijakan.

Salah satu faktor yang menjadi alasan pemerintah tidak memberlakukan kebijakan karantina wilayah adalah karena pertimbangan ekonomi. Mungkin hal ini masih bisa dipahami. Pemerintah mencoba untuk mengimbangi dampak ekonomi dan dampak kesehatan.

Namun sering perkembangan pandemi di Indonesia, dampak kesehatan seakan-akan dikesampingkan. Tingginya angka kasus harian dan kematian seakan-akan tidak berarti apa-apa. Bagi pemerintah, yang terpenting adalah ekonomi negara tidak hancur, meskipun banyak korban yang berguguran.

Ketidakpahaman pemerintah dalam menentukan skala prioritas kebijakan juga dapat diamati dari terus berlanjutnya proyek pemindahan ibukota dan proyek proyek sekunder lainnya di tengah pandemi. Padahal, anggaran proyek tersebut bisa saja berguna untuk pembiayaan operasional karantina wilayah.

Tidak Memahami Sejarah

Kita memang harus rajin-rajin membaca dan mengevaluasi kehidupan dari data sejarah. Terdapat sebuah kutipan yang sering kita baca namun tidak juga kita resapi betul dalam kehidupan kita: “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it”.

Namun, kealpaan kita terhadap sejarah akhirnya membuahkan petaka. Sejarah pun berulang. Pandemi Covid-19 merebak tidak terkendali. Padahal, Indonesia sudah pernah mengalami pandemi sebelumnya, yakni pandemi Flu Spanyol

Namun sayangnya kita tidak juga belajar apapun dari pandemi tersebut. Kita terkutuk untuk mengulang sejarah kelam. Dalam keadaan yang serba tidak pasti ini, kita tidak henti-hentinya berandai-andai pada masa lalu dan berharap untuk bisa mengubahnya. Terus-menerus berandai seakan kita tidak belajar apapun dari sejarah.

Empat Resep Kehancuran Dunia

Uniknya, empat kesalahan negara ini tidak hanya berlaku pada saat pandemi saja. Kita juga sudah dapat memperkirakan hal serupa akan terjadi pada bencana skala besar yang sedang mengintai bumi, yakni pemanasan global.

Dampak pemanasan global sudah dapat kita rasakan sekarang. Permukaan air laut yang meninggi, mencairnya es di kutub, kekeringan dan badai yang akhir-akhir ini sering terjadi. Itu semua adalah pertanda yang sangat jelas, tetapi akan sangat buram bagi mereka yang memilih menutup mata.

Rasanya tidak berlebihan jika dalam skala global, empat kesalahan negara ini dapat kita terjemahkan juga sebagai empat resep kehancuran dunia. Empat kesalahan yang sama, tetapi dapat menghancurkan seluruh dunia.

(barinpanduarta)

Baca juga kisah covid 19 lainnya:

Kepanikan Membunuh Penderita Corona, Kok bisa?

Tim Kubur Cepat Jenazah Corona, Cerita Tentang Mereka

Kantor memaksakan WFO, apakah mati rasa?

Pakbob.id
Pakbob.id
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Aliquam sed tortor laoreet, congue felis eget, facilisis est. Aliquam fermentum auctor massa, non vulputate metus ultrices ac.

Similar Articles

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisment

TERKINI