Waktu Baca: 4 menit

Inggris adalah sebuah obsesi dan kekecewaan berulang. Di tiap turnamen internasional, mereka datang dengan membawa harapan besar, hanya untuk kecewa. Setelah turnamen ataupun setelah mereka tersingkir, akan banyak pundit dan media yang membahas kegagalan Inggris. Memang, media Inggris termasuk yang paling toxic di dunia. Tanya saja pada Jose Mourinho. Inggris di EURO 2020 pun ya sama saja.

Mereka selalu punya kambing hitam. Tahun 1998 mereka menyalahkan David Beckham. Tahun 2002 mereka punya David Seaman. Kemudian di 2004, mereka menyalahkan Ricardo, Beckham, Sven Goran Eriksson, menuju ke 2006 giliran Cristiano Ronaldo, lalu di 2008 mereka menyalahkan Steve Mclarren, dan di 2010 mereka menyalahkan wasit yang tidak mengesahkan gol Frank Lampard. 2014, mereka menyalahkan Roy Hodgson yang terobsesi dengan pemain Liverpool. Lalu di EURO 2016, mereka menyalahkan keberuntungan Islandia. Mereka agak santai di World Cup 2018 karena sudah lumayan dekat dengan piala dunia tanpa mengingat bahwa mereka tidak pernah mencetak gol dari open play. Lalu di Euro 2020 inilah publik benar benar terhenyak dengan kiprah Inggris bukan dalam konteks positif tentunya.

Inggris Gak Pernah Seenak Ini Tapi Kok Gitu?

Secara nasib (atau konspirasi?), Inggris tidak pernah seberuntung ini. Inggris di Euro 2020 berada di grup yang relatif ringan dan bermain di kandang sendiri. Itupun performa mereka kepayahan. Baru pada tahap 16 besar mereka ‘agak hebat’ karena bisa mengalahkan Jerman yang sedang limbung. Tapi setelah itu, jalan The Three Lions sangatlah lapang. Memainkan pertandingan di kandang dan bahkan mendapat keuntungan dari wasit. Simak saja aksi diving Raheem Sterling yang menihilkan betapa serunya perjuangan Denmark melawan Inggris. Bahkan untuk melawan tim yang di atas kertas bisa mereka kalahkan dengan mudahpun Inggris masih membutuhkan wasit untuk menghadiahi mereka penalti. Sontak satu Eropa mengecam Inggris.

Lho apa bedanya dengan drama Immobile?

Immobile melakukan diving. Tapi wasit tidak menggubris Immobile. Drama Immobile tidak banyak merubah hasil pertandingan. Lagipula saat itu Immobile melawan Belgia. Tim yang sangat kuat. Intrik intrik agak dihalalkan atas nama semangat untuk menang. Lha ini Inggris melawan Denmark tanpa acenya, di kandang sendiri pulak, kok ya tega teganya? Plus, masih ditambah permainan laser di muka Kasper Scheimel. Sontak Inggris menjadi musuh bersama di EURO 2020.

Inggris di EURO 2020

Inggris Gak Ngaca!

Ya, setelah kejadian di Denmark. Bahkan jauh sebelumnya. Inggris bersikap sangat sombong. Mereka sangat bersemangat menyanyikan lagu Its Coming Home! Mereka mengklaim seolah sepak bola berasal dari tanah Britannia. Peraturannya ya, memang banyak mengadopsi dari Football Association Inggris. Tapi, sepak bola diperkirakan sudah ditemukan jauh sebelumnya. Konon tentara Mongol menggunakan kepala musuh mereka untuk bermain sepak bola untuk pertama kalinya. Tapi ‘kan orang Mongol gak terus teriak teriak Its Coming Home gitu.

Fans Inggris juga sering rusuh. Mereka sering mengejek dan bersiul saat lagu timnas negara lain sedang diputar. Saat final di Wembley kemarin, mereka juga langsung ngacir saja meski acara pemberian piala belum selesai. Tidak hanya itu saja, pemain Inggris juga sok sok an langsung mencopot medali runner up mereka tanpa menghormati arti kompetisi.

Inggris benar benar gak ngaca betapa mereka mendapat banyak keberuntungan di Euro 2020. Mereka mendapat rute termudah masuk final, mereka mendapat bantuan keberuntungan dari wasit. Mereka sebenarnya belum/ tidak menunjukkan permainan layaknya tim top. Sungguh ketika mereka kalah, fans bola dunia pun bersorak dan bersemangat mengatai mereka.

Qatar 2022pun Kayaknya Suram…

Inggris di EURO 2020

Bukan mendahului nasib. Tapi, memang sepertinya nasib Inggris di Qatar 2022pun akan suram. Ini saja sudah bermain di kandang dan mendapat banyak keuntungan masih saja gagal maning…gagal maning…Di Qatar, mereka tidak akan menghadapi tim yang kelelahan. Sebab, seluruh pertandingan berlangsung di satu tempat. Di Euro ini, Inggris banyak bermain di kandang sementara lawannya berkeliling Eropa sampai kecapekan. Selain itu, tim tim yang bertanding juga sudah belajar. Nantinya masih ada tim seperti Brazil dan Argentina, belum kuda hitam seperti Amerika Serikat, Mexico, Korea Selatan dan sebagainya. Kayaknya sih Inggris gak bakalan coming home.

Memperbaiki Permainan Inggris Darimana?

Inggris jauh tertinggal dibandingkan Italia, Jerman dan Spanyol. Ketiga negara itu berhasil mengatur liga domestik mereka menjadi kompetisi yang sehat minim drama dan mampu menghasilkan timnas yang hebat. Seheboh hebohnya persaingan Juventus, Milan dan Internazionale, tidak ada rasa sakit hati jika ada pemain yang berpindah di antara ketiga klub itu. Sama halnya dengan Borussia Dortmund dan Bayern Munich. Di Spanyolpun yang rame paling Real dan Barca saja, itupun kalau di timnas ya udah. Lha Inggris?

Lebay persaingannya! Roy Keane saja sampai tega mematahkan kaki pemain Manchester City Alf Inge Halaand. Coba kalau Roy Keane bisa melihat masa depan dan melihat sebagus apa anak Alf Inge, nyesel dia matahin kaki Alf. Arsenal versus Tottenham sudah semacam perang ideologi. Liverpool dan MU saling mencaci dengan keras padahal ya sebenarnya gak perlu begitu lhoh. Inggris malah sibuk berdrama tapi jarang membicarakan teknis sepakbola.

Ketika negara lain mulai memakai otak untuk bermain sepak bola, Inggris masih memperlakukan sepak bola bak permainan gajul gajulan drama shaskepareian. Inggris harus mulai mengurangi drama kalau mau juara. Udah, fokus aja membentuk gaya permainan yang bagus. Berhenti mengkultuskan dan mengkambing hitamkan individual.

Semalam, Inggris benar benar melakukan kesalahan fatal membiarkan Italia bermain dengan taktiknya dan bahkan mengiring Inggris ke adu penalti kelemahan mereka. Inggris harus belajar mengatur tempo, membangun permainan dan juara tanpa harus banyak omong.

Kapan Belajarnya Inggris?

Masalahnya..ya masalahnya, Inggris masih suka sombong dengan diri mereka. Melabeli diri mereka sebagai the best league in the world, tapi timnasnya gak kemana mana. Tim Inggris toh hebat ya karena pemain asing. Pemain lokalnya? Kecual Harry Kane, siapa lah yang jadi protagonis utama di tim mereka?

Masalah Inggris ini sudah ada dari tahun 2004 dan mencapai puncak masalah di 2008. Setelah itu semua berjalan agak mendingan, tapi ya tidak pernah ada solusi. Liga Inggris sangat komersil dan tidak sehat untuk kompetisi pemain muda dan pemain bola pada umumnya. Pemain bola diperlakukan bak selebritis, bukan atlet. Jumlah pertandingan juga terlalu banyak demi mengejar rating. Investasi asing masuk tanpa rem. Pemainnya sendiri agak manja, jarang yang mau bermain di luar Inggris. Ya sudah, akhirnya Inggris gitu gitu aja, mungkin sampai 50 tahun lagi ya gitu gitu aja.

Tampaknya FA Inggris lebih seneng nyari duit sambil menebar ilusi Its Coming Home sudah dekat. Padahal ya..tahu sendiri sekarang tahun berapa…

Baca juga artikel kami soal bal-bal an lainnya

Portugal Menangis, Yunani Tertawa di Euro 2004

Konspirasi Inggris di EURO 2020

Arthur Irawan Anak Siapa Kata Pengkritiknya, Padahal…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here