Waktu Baca: 4 menit

Siapa sih yang nggak familiar dengan logo “Intel Inside” di perangkat laptop? Pastinya kalian pernah memiliki laptop, atau justru sampai sekarang masih menggunakannya, dengan logo “Intel Inside” yang tertempel di bagian kiri bawah keyboard kalian. Tapi kalian bertanya-tanya nggak sih, akhir-akhir ini kita mulai sering melihat logo “Ryzen” milik AMD di laptop-laptop jaman sekarang daripada logo Intel. Memangnya ada apa sih? Kenapa bisa logo “Ryzen” milik AMD tertempel pada laptop-laptop jaman sekarang terutama pada laptop gaming? Mari kita ulas bersama kenapa Intel yang menjadi raja bisa tiba-tiba harus turun takhta.

Sejarah Singkat AMD dan Intel

Intel sama AMD nih awalnya terbentuknya gimana?

AMD (Advance Micro Device) dan Intel Corporation merupakan dua pemain dalam sektor pasar prosesor komputer/laptop di dunia. Siapa sangka ternyata AMD dan Intel secara tidak langsung berasal dari ibu yang sama yaitu Fairchild Semiconductor.

Pada tahun 1968, Robert Noyce dan Gordon Moore memilih untuk keluar dari Fairchild Semiconductor karena ingin mengembangkan inovasi mereka sendiri yang tidak disambut baik oleh manajemen Fairchild Semiconductor. Kedua eks karyawan Fairchild Semiconductor ini akhirnya membangun sebuah perusahaan chip komputer bernama NM Electronics yang kemudian berubah nama menjadi Intel Corporation.

Setahun kemudia, 1969, sangat disayangkan, Fairchild Semiconductor kembali kehilangan karyawannya. Bukan hanya dua orang, namun delapan orang. Delapan orang yang dipimpin oleh Jerry Sanders akhirnya membentuk perusahaan chip yang akan menjadi rival abadi Intel, yaitu Advanced Micro Devices atau AMD.

Lalu Fairchild Semiconductor gimana kabarnya? Perusahaan ini masih beroprasi namun tidak memiliki nama besar seperti Intel dan AMD. Coba kita bayangkan jika Fairchild dulu mau mendengarkan karyawannya, bakalan seberapa luar biasanya perusahaan ini. Sungguh sebuah kehilangan besar bagi Fairchild, ya. Mereka yang menolak ide dari karyawannya ternyata kehilangan permata.

Dominasi Intel dan AMD yang Terus Menjadi Nomor Dua

Kok bisa Intel mendominasi pasar?

Nah, kenapa kok Intel bisa mendominasi pasar chip pada masanya? Ini semua berawal dari kecerdasan dan inovasi dari manajemen Intel Corporation saat itu. Mereka menciptakan sistem chip X86 yang hingga sekarang digunakan oleh chip-chip komputer dan laptop hingga sekarang. Sungguh inovasi yang luar biasa, ya.

Chip X86 ini menarik perhatian perusahaan produsen komputer terkemuka pada zaman dahulu, yaitu IBM. IBM atau International Business Machines Corporation ini mempercayakan komputer yang mereka produksi ditenagai oleh chip prosesor buatan Intel. Sehingga semua lini komputer yang mereka buat ada chip prosesor Intel di dalamnya.

Namun, hal tersebut ternyata hampir membahayakan Intel sebagai produsen prosesor. Lho kok gitu?

Pada etika bisnis atau pasar, dilarang adanya monopoli. Penggunaan Intel sebagai prosesor di seluruh komputer termasuk IBM membuat Intel bisa terancam dituntut karena melakukan monopoli. Sehingga untuk menghindari monopoli, Intel akhirnya menyewakan teknologi X86 dan teknologi chip mereka ke AMD yang akan menjadi rival abadi mereka.

Tapi, tentu saja Intel tak semudah itu memberikan informasi teknologi mereka semudah itu. Mereka memberikan informasi teknologi mereka yang dianggap sudah usang. Kecerdikan Intel ini yang membuat mereka selalu 1 langkah di depan AMD yang akhirnya bertahun-tahun menjadi nomor dua.

Kecerdikan Intel tak berhenti di situ saja. Mereka mulai memikirkan marketing yang baik untuk prosesornya agar dikenal oleh masyarakat secara mudah. Akhirnya mereka mencetuskan sebuah ide, bukan hanya mengembangkan teknologi namun juga menamakan salah satu lini prosesor mereka dengan nama yang mudah diingat oleh masyarakat, yaitu “Intel Pentium”. Kecerdikan Intel masih terus berlanjut, nih. Intel juga beberapa tahun kemudian mengeluarkan stiker ikonik yaitu “Intel Inside”. Nama Intel semakin menjadi-jadi ketika Apple, yang saat itu masih dikomandoi oleh mendiang Steve Jobs, mengumumkan bahwa seluruh macbooknya akan ditenagai oleh Intel.

Sungguh luar biasa, ya Intel ini. Nah, majunya teknologi dan pengembangan Intel membuat AMD terus menjadi nomor dua bahkan hingga 14 tahun lamanya. Sungguh menyedihkan. Namun, akhir-akhir ini situasi berbalik.

Pukulan Oleh AMD Untuk Intel, Sang Raja

Nah, ini bagian menariknya. Kenapa ya si nomor dua ini tiba-tiba bisa menghancurkan takhta sang raja?

Tentu saja AMD tidak mau tinggal diam selalu menjadi nomor dua dalam pasar prosesor komputer. Tentu semuanya ingin menjadi nomor satu. AMD bergerak dalam senyap. Kalau istilah perangnya, bergerilya. AMD secara diam-diam mengembangkan teknologi yang melebihi teknologi yang dimiliki oleh Intel.

Pengembangan teknologi AMD semakin pesat ketika Lisa Su mulai menjabat sebagai CEO pada tahun 2014. AMD yang sekarang dikomandoi oleh perempuan cerdas tersebut mulai memperkenalkan teknologi-teknologi yang tidak dimiliki Intel, salah satunya adalah menciptakan prosesor yang sepaket dengan grafis yang membuat AMD memiliki performa yang lebih baik daripada Intel untuk digunakan dalam gaming dan desain grafis.

Pada tahun 2017 AMD melalui CEO-nya Lisa Su memperkenalkan lini prosesor termutakhir mereka, yaitu Ryzen. Ryzen ini memiliki performa yang jauh di atas Intel dengan tentunya, harga yang jauh lebih murah serta hemat listrik. Siapa yang ga tertarik sama barang-barang murah tapi berkualitas?

Majunya teknologi AMD disambut oleh Intel dengan sejuta ketidaksiapan. Intel yang terlalu nyaman menjadi raja justru berleha-leha dengan menjadikan inovasi nomor dua. Intel justru fokus kepada marketing dan penjualan. Bukan inovasi, namun mereka mementingkan angka-angka di laporan keuangan.

Sialnya kembali, keengganan Intel dalam berinovasi membuat Apple menceraikan mereka. Menyedihkan, ya. Apple merasa Intel mulai ogah-ogahan dalam menangani keluhan Apple terhadap produk Intel yang dikatakan mulai sering mengalami panas saat digunakan. Apple akhirnya memilih untuk memproduksi chip mereka sendiri dan berpisah dengan Intel.

Intel yang telat menyadari situasi ini dan seakan tertatih-tatih dalam mengejar inovasi AMD. Mereka mulai menurunkan harga dan bahkan “mengemis” kepada Apple agar mau bekerja sama kembali. Namun semua sudah terlambat. Intel yang sudah terlena akhirnya diberikan tamparan keras oleh AMD. AMD sudah mulai merajai pasar prosesor dan meninggalkan Intel di belakang.

Apa sih yang Bisa Dipelajari Dari Kasus Ini?

Dalam bisnis, inovasi adalah salah satu kunci untuk mencapai kesuksesan. Dalam kasus ini keengganan Intel dalam berinovasi mematikan diri mereka sendiri. Sedangkan AMD yang terus menjadi nomor dua selalu berusaha menciptakan inovasi-inovasi yang membuat mereka melaju dan memukul telak Intel.

AMD membuktikan bahwa menjadi nomor dua tidak selamanya buruk. Menjadi nomor dua bisa membuat kita semakin fokus dan fokus dalam berinovasi. Empat belas tahun menjadi nomor dua bukanlah waktu yang singkat. Namun, AMD terus berusaha dan mampu melihat peluang yang tidak dilihat oleh Intel.

Oh iya, Lisa Su juga membuktikan bahwa perempuan juga bisa menjadi pemimpin di bidang teknologi. Buat temen-temen perempuan yuk terus berusaha dan berkarya.

Baca juga :

Ketika Anak Milenial Sambat di Medsos, Saya Malah Mendirikan Museum!

Puasa Medsos Yuk! Mungkin Kamu Butuh..

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini