Waktu Baca: 3 menit

Pandemi Covid-19 yang sudah melanda Indonesia sejak tahun 2020 silam sedikit banyak berpengaruh terhadap intensitas atau ketersediaan lapangan pekerjaan. Hal ini tentu menyebabkan banyak generasi milenial yang mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan. Beberapa respon dalam mengatasi permasalahan tersebut mulai ditawarkan, salah satunya adalah bisnis online shop. Eksistensi online shop atau bisnis daring menjadi solusi untuk menyambung hidup di masa pandemi ini. Termasuk juga nasib kain polkadot.

Bisnis thrift atau thrift shop yang sudah populer sejak 2019 lalu, menjadi jawaban untuk generasi milenial dalam rangka menambah uang jajan ataupun menjadi mata pencaharian utama sementara (temporary living). Tidak terkecuali, Via Rini Naggraeni, atau yang akrab disapa Via, memutuskan untuk menjalani bisnis thrift sejak 2019 silam. Kegemarannya untuk memakai baju bekas atau yang biasa dikenal dengan thrifting, membawanya ke dunia bisnis thrift yang belakangan ini digandrungi oleh kalangan milenial dan generasi Z. Tekadnya untuk memakai dan mengolah kembali baju bekas membuatnya berhasil merealisasikan thrift shop yang Ia namai “Temanthrifty”.

kain polkadot
Foto oleh : Via Rini Naggraeni

Gimana sih awalnya?

Membangun sebuah bisnis tentunya bukan sesuatu yang mudah dilakukan, tetapi bukan juga sesuatu yang mustahil untuk diselesaikan. Berawal dari kegemarannya memakai baju bekas, kemudian berkembang menjadi suatu bisnis yang tidak bisa Ia bayangkan. Pemberian nama sebuah bisnis sendiri tidak bisa lepas dari karakter/identitas yang mencerminkan suatu pribadi atau pengalaman personal. Nama Temanthrifty sendiri terinspirasi dari seekor kucing yang Ia temui saat Ia sedang thrifting. “Aku terinspirasi dari kucing di pasar baju bekas, kalo ngethrift tuh kucingnya suka ngikutin aja kaya nemenin aku belanja gitu, jadi aku namain Temanthrifty,” ujar Via.

Baca juga : 5 Peluang Bisnis Anak Muda Era Pandemi

kain polkadot
Foto : Via Rini Naggraeni

Perjalanan untuk membangun suatu bisnis yang mempunyai ciri khas tersendiri menjadi tolak ukur kreativitas tiap pribadi yang memutuskan untuk berkecimpung di dunia bisnis. Kegemarannya mengoleksi dan memakai kembali baju bekas, terutama jenis kemeja membuat Via terampil dalam mengolah dan merealisasikan ide-idenya menjadi suatu keunikan atau ciri khas dari Temanthrifty. Temanthrifty berfokus pada konsep kemeja reworked atau kemeja bekas yang dikombinasikan dengan potongan kain-kain bermotif yang nantinya akan membentuk satu model kemeja baru. Model kemeja inipun nantinya akan bervariatif dan hanya terdapat 1 buah disetiap modelnya. Hal ini karena media yang digunakan oleh Via untuk mengolah dan menghasilkan model kemeja baru berasal dari kemeja bekas/barang thrift yang notabene hanya tersedia 1 buah tiap modelnya. 

kain polkadot
Foto oleh Via Rini Naggraeni
Kenapa selalu ada aksen kain polkadot?

Selain mengolah kemeja bekas menjadi kemeja bermotif dengan model yang berbeda-beda, Temanthrifty juga mempunyai ciri khas yakni aksen kain polkadot yang dapat ditemui di tiap kemeja yang sudah diolah. Via mengaku bahwa konsumennya lebih banyak yang menyukai aksen kain polkadot yang Ia kombinasikan dengan basic shirt atau kemeja polos berwarna putih atau warna lainnya. “Sebisa mungkin aku tumpahin apa yang aku suka buat Temanthrifty. Aku pengen sesuatu yang selalu diinget sama banyak orang, makanya aku selalu coba konsisten di produk aku, contohnya si aksen kain polkadot.” ujar Via menambahkan.

Yang namanya bisnis pasti ada aja halangannya,

Berkecimpung di dunia thrift tentu memberikan pengalaman tersendiri bagi tiap-tiap pelaku bisnis. Banyak sekali respon positif maupun negatif yang diterima seiring berjalannya sebuah bisnis. “Sukanya banyak banget, koneksi terutama. Tapi yang paling kerasa sih upgrade diri sendiri ya. Punya bisnis sendiri itu dituntut banget buat gak capek mikir, karena udah jadi makanan sehari-hari,” ungkap Via. Lagi, Ia pun menambahkan bahwa bisnis thrift ini mendewasakannya dalam hal merespon suatu masalah, seperti plagiasi karya. Namun, menurutnya, permasalahan tersebut tidaklah sulit untuk dihadapi mengingat banyak kasus serupa yang sudah menjadi suatu hal biasa dalam dunia bisnis. Kedepannya, Ia berharap bahwa Temanthrifty dapat berkembang dan menjadi salah satu fashion brand yang besar dan ikonik di Indonesia. “Terlebih untuk aku pribadi, pengennya Temanthrifty nantinya bisa jadi brand yang besar dan tentunya ikonik di Indonesia! Doain ya!” tutup Via.

Baca juga : Thrifting Online untuk Pemula: Yuk Kenalan!

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here