Waktu Baca: 4 menit

Menurut masyarakat awam, pemilihan lagu Butter sebagai lagu final Euro 2020 bikin emosi. Bukan karena lagunya jelek, tapi lagu Butter emang gak nyambung aja dengan pertandingan sepakbola seakbar Final Euro 2020. Kalau alasannya memang untuk memperkenalkan budaya Asia, rasa rasanya masih banyak lagu yang cocok. Misalnya saja lagu tema ‘Captain Tsubasa’ versi Indonesia. Itu ‘kan lebih pas ya arti liriknya. Nah kalau Butter? Judulnya saja sudah membuat tidak semangat begitu. Butter kan lenje, mudah mencair begitu. But, anyway, tentu tidak bijak kalau kita menghujat lagu Butter tanpa memberi kesempatan pada ARMY (Fans BTS) untuk membela diri. Jadi, saya melakukan wawancara dengan sejumlah ARMY untuk mendengar pendapat mereka. Jadi, apa kata ARMY soal Butter?

 

Butter Ada Untuk Menunjukkan Diversity

Jadi, menurut beberapa ARMY, lagu Butter  hadir untuk menunjukkan diversity. Salah satu yang menyampaikan hal itu adalah seorang ARMY bernama Carla.

“Menurutku, mereka lebih kayak menunjukkan diversity atau bisa dibilang karena BTS menimbulkan Korean Wave Impact jadi mereka punya poin plus yang menjadikan Euro Cup ini promosi. Dan lagi, it’s just a song. Mereka punya good point untuk menampilkan lagunya BTS karena begitu bisa aja jadi campaign against Asian Hate Campaign. Actually, many good things we could see,” ujar Carla.

Pendapat Carla ini didukung oleh ARMY lain yang bernama Tiara.

“I’m not saying this only because like BTS and their songs, aku juga berusaha lihat dari sisi yang ngerasa vibesnya gacocok karena aku pun mikir ga secocok itu. However, semua orang tetep punya selera dan pendapat pribadi jadi gabisa semuanya dipukul rata dan gabisa seenaknya ngatain apalagi sampai bawa – bawa ras. Cause it’s not about the song anymore, it is about (diverse) racism and humanity,” ungkap Tiara.

Suka Lagu Butter Karena Emang Lagunya Bagus Aja
Kata ARMY soal Butter
Jadi dia ini yang sebenernya bikin lagu resmi

Ada juga yang menyatakan bahwa meski liriknya gak ada nyambung nyambungnya dengan semangat pertandingan, lagu Butter memang sebagus itu untuk sebuah gelaran sekelas EURO 2020. Sebut saja Sekar yang mengaku pecinta sepakbola dan juga seorang ARMY. Ia melihat hadirnya Butter sebagai sisi positif di gelaran EURO ini.

Sementara itu, salah satu narasumber kami di instagram dengan akun @dark_bnny menganggap bahwa kritik pada Butter sebenarnya salah fokus. Menurut dia, lagu tema EURO ya karya Martin Garrix feat Bono and The Edge dengan judul We Are the People. Lagu ini memang tidak seterkenal lagu lagu tema EURO sebelumnya. Makanya, banyak yang salah sangka kalau Butter menjadi lagu tema EURO 2020. Butter hanya tampil untuk membuka Final EURO 2020.

Apa Kata Tokoh ARMY Indonesia Soal Butter?

Tentu tidak lengkap jika kami tidak melakukan wawancara dengan tokoh ARMY Indonesia. Kali ini kami akan meminta pendapat dari Vionica Alesandra dari ARMY Indonesia Festa. Dari Vionica, kita mendapat beberapa pandangan yang menarik terkait kontroversi Butter ini.

Vionica menegaskan bahwa pilihan lagu Butter itu merupakan lagu pilihan dari panitia EURO 2020. Ia sendiri mengaku tidak memilih Butter untuk menjadi lagu pilihan di final EURO 2020. Menurutnya, memang ada ARMY yang memvote  dengan alasan mendukung karya karya BTS dan berharap karya idola mereka bisa lebih terkenal. Tentu tidak dengan maksud buruk supaya kita semua ‘wajib’ mendengarkan lagu lagu BTS. Menurut Vionica, seharusnya panitia EURO 2020 selektif memberikan pilihan lagu mana yang cocok untuk final EURO 2020.

Tidak takut kalau imej ARMY menjadi jelek karena ada ‘oknum’ yang memvote lagu Butter tanpa mengetahui konteks acaranya?

“Aku agak bingung sih kalau tentang ini, soalnya kita sesama ARMY pun nggak bisa sepenuhnya mengontrol dan menyamakan pendapat kita tentang sesuatu. Ada yang paham konteks nya dan ada yang nggak. Ada yang vote walaupun ngerti konteks dan ada yang hanya vote aja. Nggak bisa kita menyamaratakannya dan aku rasa dari hal ini tidak ada yang merugi. Semua kembali lagi ke masing masing ya. Memang perbedaan pendapat pro kontra ya wajar aja. Selagi masih positif dan bukan yang berlebihan di luar batas kewajaran aku nggak khawatir sih. Karena, kalau kayak aku lebih fokus ke blowing prestasi prestasi BTS aja dan fans nya juga bisa ikut berprestasi sembari mendukung idolanya,” ujar Vionica yang sempat mewakili ARMY Indonesia menyerahkan sumbangan kepada ojek online Indonesia.

Closing!

Sebenarnya memang agak pelik ya urusannya ketika pertandingan bola ini bercampur dengan agenda lain. Di satu sisi, panitia EURO 2020 ingin supaya ajang ini membawa pesan positif soal anti rasisme pada keturunan Asia. Selain itu, BTS memang fenomenal karena menjadi boyband yang berhasil memasuki pasar Amerika Serikat dan Eropa.

Tapi, ketika panitia EURO 2020 seolah tutup mata pada konteks lagunya, maka seolah ada ‘pemaksaan’ di sini. Panitia EURO 2020 berusaha kelihatan inklusif tapi malah cenderung politis. Kesannya, mereka memasukkan lagu Asia apa saja yang terlihat popuper supaya mereka mendapat kesan positif soal keberagaman. Well, masalahnya tidak sesimpel itu sayangnya.

ARMY memang terkenal fanatik pada BTS. Namun, fanatisme ini tidak bisa kita anggap sebagai sesuatu yang salah. Fans yang fanatik adalah apa yang membuat industri hiburan tetap hidup. Mereka hanya berusaha mendukung BTS sebisa mereka. Kontroversi Butter bukan semata kesalahan ARMY yang terlalu fanatik. Seharusnya, panitia EURO 2020 bisa bersikap lebih bijak tanpa tersandera agenda politik.

 

Reporter : Maria Devaneira

Penulis : Ardi Pramono

 

Baca juga artikel kami lainnya soal BTS :

BTS Army Bantu Mitra Gojek Bikin Kita Merasa Mak Nyess….           

Insiden BTS Salah Siapa, Bukan McD Btw

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here