Waktu Baca: 4 menit

Sudah sejak tahun lalu banyak kalangan masyarakat menilai kebijakan untuk mengatasi wabah Corona tidak jelas. Tidak heran jika bertebaran meme meme lucu dan juga kritikan pada pemerintah dengan keras. Dari epidemolog, ekonom sampai drummer band sudah pernah mengkritik keras pemerintah. Sebenarnya kenapa kebijakan pemerintah seolah tidak jelas dan menimbulkan pro kontra berlebihan? Kalau menurut saya nih, karena kebijakan corona tanpa komunikasi publik yang jelas. Artinya, pemerintah membuat aturan, tapi masyarakatnya gak mendapat alasan yang logis kenapa harus mengikuti aturan itu.

Misalnya saja di Jepang. Ada peraturan jam malam. Kalau di Indonesia mungkin pengusaha warung kucing bisa marah marah. Mereka akan mengatakan: Lha emangnya Corona kalau malem bangun gitu ya kayak kalong!?  Nah, kalau di Jepang enggak. Pemerintah Jepang menjelaskan alasan mengapa ada jam malam. Hal itu tidak lepas dari budaya Nomikai alias kumpul kumpul setelah pulang kerja. Gara gara budaya Nomikai ini, makanya Jepang menegaskan harus ada jam malam. Kalau aturannya jelas, kan enak toh?

Berikut adalah beberapa daftar kebijakan corona dari pemerintah yang kebanyakan tanpa komunikasi sehingga menyebabkan tingkat ketaatannyapun rendah.

Buka Tutup Masker

Iya, awalnya Menteri Kesehatan di awal pandemi, Terawan Agus Putranto sempat menyebut bahwa orang yang tidak sakit tidak perlu menggunakan masker. Hal itu menjadi perdebatan karena beberapa negara sudah mewajibkan masker. Pada akhirnya, setelah tarik ulur penggunaan masker ini, masker menjadi hal yang wajib untuk digunakan. Namun persoalan tak berhenti hanya sampai di situ saja. Ternyata, standard masker yang harus digunakanpun tidak jelas. Akibatnya, masker medis yang penting untuk nakes hilang di pasaran karena diborong. Padahal, untuk masyarakat biasa, tidak perlu menggunakan masker medis. Setelah itu muncul berbagai macam jenis masker seperti masker scuba dan masker kain yang belakangan menuai pro kontra. Masalah masker makin pelik ketika salah satu reporter TV Swasta melakukan reportase live dengan masker anti gas yang biasanya berguna untuk mencegah gas beracun.

Mudik vs Pulang Kampung

Menjelang lebaran, muncul larangan mudik. Namun, banyak warga yang sudah duluan meninggalkan ibu kota dan kota kota besar untuk kembali ke desanya masing masing tanpa halangan berarti dari pemerintah. Sempat muncul kritikan, namun kemudian muncul istilah pulang kampung. Mudik tidak boleh, tapi pulang kampung tidak masuk dalam kategori terlarang. Alasan mengizinkan pulang kampung adalah karena orang tidak memiliki pekerjaan lagi di ibu kota dan ingin dekat dengan keluarganya. Oleh karena itulah mereka diperbolehkan kembali. Hal ini membuat bingung banyak orang. Sebabnya, pelarangan orang bepergian adalah dengan maksud agar virus corona tidak menyebar lebih luas lagi. Istilah mudik maupun pulang kampung sebenarnya bukan problema utama.

Mall Tutup, Sekolah Tutup, Pilkada Jalan

Hampir semua tempat yang mengundang keramaian menjadi obyek penutupan. Namun, ada hajatan besar yang terjadi, kebetulan temanya politik, yaitu Pilkada serentak. Keberadaan pilkada serentak ini menimbulkan masalah karena jelas mengundang keramaian. Banyak yang mencurigai ‘pemaksaan’pilkada serentak secara langsung ini karena ada kerabat pejabat pemerintah pusat yang ikut berkontestasi. Yang jelas, pemerintah tidak memberi penjelasan yang rinci kenapa event yang mengundang banyak orang seperti pilkada tetap diperbolehkan di tengah pandemi yang kian memburuk. Selain itu, tidak ada juga usaha misalnya melakukan pilkada dengan sistem online atau memaksimalkan PT Pos Indonesia agar orang tidak perlu datang ke tempat tempat pemungutan suara.

Work From Bali, Work From Jogja

Ya, tujuannya mungkin bagus agar sektor pariwisata tidak merugi terus menerus. Namun kebijakan ini juga menuai kontroversi karena berarti akan banyak mobilisasi orang yang pada akhirnya mendorong penyebaran virus corona. Meski pemerintah sudah menjelaskan akan melakukan protokol kesehatan toh nyatanya proses screening di transportasi transportasi umum masih rawan. Ada kasus pemalsuan hasil PCR, ada kekhawatiran Rapid Test hanya memiliki ketepatan yang sangat rendah dan berbagai problema lain yang membuat perjalanan jarak jauh tak terasa aman.

Fotocopy E-KTP dan Vaksin

Ya, ini salah satu meme favorit. Orang yang ingin melakukan vaksin harus memiliki fotocopy e-ktp, padahal gunanya e-ktp kan supaya fotocopy KTP tidak diperlukan lagi. Masalah ini semakin runyam karena untuk mengurus KTP harus menggunakan sertifikat pernah menerima vaksin. Pusing banget ya. Oh ya, kebijakan yang membingungkan ini masih diperparah dengan distribusi vaksin yang harus sesuai domisili KTP. Padahal kan banyak anak ber KTP Jakarta atau Bandung, kuliahnya di Jogja misalnya. Di saat begini kok ya masih meributkan administrasi begitu. He..he..Mau kabar yang lebih buruk lagi? Vaksin yang saat ini banyak digunakan belum memiliki efektivitas sampai 100 persen, tapi kalau sudah memegang sertifikat vaksin itu, banyak orang memiliki akses tanpa screening ulang. Kenyataannya, banyak penerima vaksin Sinovac toh terpapar virus corona. Gimana ini Jon?

Makan Warteg 20 Menit

kebijakan corona tanpa komunikasi

Ya, kini anda boleh makan di warteg dengan rasa lari marathon. Sampai hari ini belum ada penjelasan kenapa makan warteg harus terbatas selama 20 menit. Kalau sampai tersedak bagaimana? Apa tidak malah mati? Angka 20 ini memang menjadi pertanyaan banyak pihak. Tidak hanya itu saja, kebijakan ini tidak menjawab permasalahan para pedagang kaki lima yang untungnya terbatas dan berjuang dari hari ke hari sambil menghindari kejaran petugas keamanan. Banyak yang berkelakar jadinya manusia Indonesia akan mati terpapar corona atau mati kelaparan duluan?

Kesimpulan

Meminta masyarakat menaati kebijakan itu tidak mudah. Jangankan Indonesia, di Jepang saja masih ada yang melanggar protokol kesehatan. Akan menjadi lebih sulit untuk meyakinkan masyarakat jika kebijakan corona tanpa komunikasi yang efektif dan efisien. Jangan sampai kebijakan corona hanya berakhir untuk menambah inspirasi bahan meme terbaru.

 Baca juga kisah kisah corona lainnya:

Corona dan Idul Adha : Soal Empati dan Tanggung Jawab

Tim Kubur Cepat Jenazah Corona, Cerita Tentang Mereka

Mitos Soal Corona dan Jawabannya, Bersama Dokter Beneran

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here