Waktu Baca: 3 menit

Setelah Prancis tersingkir dari Euro 2020, Inggris menjadi tim yang paling dibenci di gelaran bal-balan empat tahunan ini. Bukan rahasia lagi, fans Inggris memang rusuh. Baru menang melawan Jerman di perdelapan final saja mereka sudah berisik menyanyikan lagu It’s Coming Home! Lalu, setiap tim lawan sedang menyanyikan lagu kebangsaan, banyak fans klub lain malah bersuit suit menghina. Ngawur benar saudara saudara.

Sudah begitu, kebetulan Inggris juga menangnya di kandang dimana satu stadion diisi fans mereka. Fans lawan praktis bertarung sendirian akibat pelarangan bepergian bagi warga negara Eropa.

Puncaknya ada di semifinal tempo hari. Pertandingan seru melawan Denmark harus berakhir dengan diving dari Raheem Sterling yang kemudian dikonversi menjadi penalti oleh penyerang Spurs, Harry Kane. Pas kejadian itu, tampak bahwa mata kiper Denmark disinari laser oleh fans Inggris. Klop sudah alasan untuk membenci Inggris di Euro ini. Demikian, alasan itu masih bertambah karena kemungkinan besar ada konspirasi Inggris di Euro 2020. Lho kok bisa?

Konspirasi Inggris di Euro 2020 ini memang belum memiliki bukti kuat, namun bukan berarti sebuah pepesan kosong. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa Inggris ‘diloloskan’ sampai ke final.

Penonton di Stadion

Ya, ini alasan pertama. Final akan berlangsung di stadion Wembley di Inggris. Tidak banyak suporter dari luar Inggris yang bisa masuk ke negara ini. Bahkan per hari ini (9/7) , menteri transportasi Inggris sudah melarang warga Italia masuk ke negaranya untuk mendukung Gli Azzuri bertanding. Sementara itu, UEFA sudah mencoba melobi Inggris agar mengizinkan penonton dapat memenuhi stadion Wembley.

Lobi pertama berlangsung di bulan Maret dan hanya 30% kursi saja yang boleh terisi penonton. Kemudian negosiasi berlanjut agar setidaknya ada 60 ribu penonton yang hadir di Wembley. Selanjutnya, tiga hari sebelum final, mendadak Inggris mengizinkan kemungkinan 90 ribu penonton hadir di Wembley dengan syarat: Inggris masuk final. Anda bisa membaca link informasi tersebut di sini.

Jangan Menjadi Final Anti Klimaks

UEFA sudah cukup pusing saat jagoan jagoan mereka pulang lebih awal. Belanda keok, demikian juga Portugal dengan Tiki Taka versi mereka, Prancis apalagi, pahit bos! UEFA memiliki kekhawatiran bahwa final akan menjadi anti klimaks. Padahal, sisi bisnis menjadi sangat penting di kondisi saat ini.

Konspirasi Inggris di Euro 2020
courtesey : @wiskie_

Italia memang menjadi unggulan. Namun, coba sebutkan, siapa pemain Italia yang memiliki nilai jual tinggi selain Gianluigi Donnaruma? Bahkan security saja tidak mengenali siapa itu Leonardo Bonucci! Veratti juga bukan sosok ganteng yang bisa memikat kaum hawa untuk meluangkan waktu menonton final Euro 2020. Immobile? Setelah akting yang memikat tempo hari, banyak yang yakin ia akan mendapatkan peran sebagai villain di film Fast and Furious: In Space.

Sedangkan Inggris?

Inggris Memiliki Nilai Skuad Termahal

Suka tidak suka, Inggris lebih terkenal daripada Italia. Mereka datang dengan nilai skuad yang luar biasa. Lihat, setidaknya ada beberapa pemain mereka yang bernilai di atas 50 juta poundsterling. Angka ini bisa membeli Zinedine Zidane beberapa tahun yang lalu. Tapi hari ini anda akan mendapatkan Harry Kane, Jadon Sancho, Harry Maguire, Jack Grealish, dan Marcus Rashford. Mereka bukan pemain yang buruk tapi yang benar saja kan?

Nilai mereka besar dan mereka akan lebih mudah dikenali daripada pemain Italia seperti misalnya Frederico Bernadeschi. No offense, dia pemain hebat, tapi kita bicara soal nilai pasar hari ini. Satu satunya pemain yang akrab di mata fans liga Inggris mungkin hanya Jorginho saja. Itupun mereka kadang sulit membedakannya dengan pemain lain.

UEFA ingin villain terbesar sebagai anti klimaks Final Piala Eropa

Sama seperti tahun 2016 ketika Perancis datang ke final dengan sepak bola indahnya sementara Portugal praktis datang dengan sepak bola keberuntungannya, inilah pertandingan final paling ideal. Italia yang inspiratif melawan Inggris si menghalalkan segala cara dan penuh keberuntungan. Fans sepak bola yang baper pasti ingin melihat Inggris dilumat dan mereka akan menonton final ini dengan penuh harapan. Sementara fans Inggris yang menyebalkan akan memenuhi stadion untuk memenuhi ego kesombongan mereka sebagai bangsa yang besar dimana itu terjadi kayaknya hampir seratus tahun lalu.

Siapapun pemenangnya UEFA tidak peduli. Para kelompok baper akan menyaksikan dengan antusias pertandingan ini dengan penuh tensi sementara UEFA menghitung keuntungan mereka.

Jadi apakah Konspirasi Inggris di Euro 2020 Ada?

Bisa jadi! Tapi kita tidak perlu repot repot mencari kebenarannya. Biarkanlah cerita ini menjadi mitos, sebesar mitos yang membuat kita percaya Korea Selatan membayar mahal Byron Moreno agar tidak malu di kandang sendiri. Mitos mitos seperti ini biar saja hidup dan menjadi cerita untuk anak kita kelak.

Pada akhirnya, mari kita nikmati final Euro tahun ini dengan penuh semangat dan harapan. Ayo berantem! Jangan damai!

Baca Tulisan Kami soal bal-balan lainnya:

Locatelli Arsenal : Boleh dong berimajinasi!

Premier League Berakhir Pahit!

Portugal Menangis, Yunani Tertawa di Euro 2004

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here