Lestarinya Kultur Kekerasan di Tanah Papua

Waktu Baca: 3 menitPeristiwa dua oknum anggota TNI AU yang menginjak kepala seorang warga Merauke jadi trending topic akhir-akhir ini. Peristiwa ini merembet sampai ke mabes TNI AU dan sampai juga ke telinga Istana Negara. Hasilnya, komandan Polisi Militer AU dan komandan pangkalan udara JA Dimara Merauke dicopot dari jabatannya. Dua oknum anggota TNI AU yang terlibat dalam kasus itu juga diproses dengan peradilan militer. Tapi sebetulnya kasus ini hanya secuil dari gunung es kisah tentang lestarinya kultur kekerasan di Tanah Papua.

Bubur Ayam Ngapak

Seantero Merauke tahu dengan warung bubur ayam yang paling hits di situ. Bubur Ayam Ngapak milik Mas Heri itu berlokasi di jalan protokol Merauke, jalan Mandala. Kawasan itu juga ada bederet warung dan kios milik orang bukan asli Papua. Katakanlah mereka orang pendatang, baik yang datang ke Merauke ketika sudah dewasa, maupun keturunan orang Jawa / Sulawesi / Maluku, yang lahir ceprot di Merauke. Berapa lamanya pun orang pendatang tinggal di Papua, tetap ada cara pandang yang berbeda terhadap orang Papua.

Soal Orang Mabuk

Setidaknya ada 2 versi tentang siapa orang yang diinjak kepalanya itu. Pertama, dia adalah penyandang disabilitas tunarungu. Kedua, saat peristiwa itu terjadi ia sedang dalam keadaan mabuk. Salah satu ‘kode etik’ yang perlu kita pahami ketika berhadapan dengan orang mabuk di Papua adalah jangan mencari masalah dengan mereka. Sebaik-baiknya, kita menghindari individu atau kerumunan orang yang sedang dalam keadaan mabuk. Risikonya bisa macam-macam. Minimal dipalak, maksimal bisa dapat kekerasan. Ini bukan perkara asal usul siapa yang mabuk, entah orang asli papua atau pun pendatang. Ini perkara mengamankan diri. Namanya orang mabuk, tidak ada kesadaran. Jadi percuma saja memberikan pembelajaran atau efek jera padanya, wong tidak dalam kesadaran penuh.

Kebetulan yang Bikin Sial

Sialnya bagi Mas Heri pemilik warung bubur, pace yang mabuk ini datang ke warungnya dan minta makan. Tentu saja minta gratisan. Ini bukan kali pertama si pace dalam keadaan mabuk di pagi hari. Sudah sering, dan memang lintasannya di sekitar situ. Maka Mas Heri tidak kaget, tapi dalam kondisi sial saja. Tentu Mas Heri tidak mau berurusan dengan si pace. Tapi juga tidak mampu mengusirnya. Kebetulan ada dua anggota polisi militer TNI AU yang sedang mencari sarapan di area situ, lantas terlibat dalam upaya penanganan pada pace yang mabuk itu.

Baca juga : Seni Memahami Papua – Ekspresi Emosi Orang Papua

Kultur Kekerasan Alami

Kultur kekerasan di tanah Papua boleh dikata tumpang tindih, antara adaptasi dengan lingkungan alam dan tekanan sosial. Tanah Papua mendidik orang agar punya jiwa yang kuat dan keras. Dengan iklim tropis yang panas hujan-panas hujan, orang harus punya badan yang benar-benar fit. Tidak mudah hidup di tanah Papua, maka pendidikan alamiah bagi anak-anak Papua pun berjalan dengan kekerasan. Bahasa hajar, pukul rotan dan ikat pinggang adalah hal umum yang ditemukan di sana. Ini tidak terbatas untuk orang asli Papua. Para pendatang pun sama saja. Maka orang Jawa yang aslinya halus pembawaannya, sampai di Papua pun bisa berubah jadi keras.

Kultur Kekerasan Sosial

Tekanan sosial untuk kultur kekerasan datang dari sejarah panjang soal militerisme di Papua. Pihak yang terlibat menjadi penegak hukum tidak hanya polisi, tetapi tentara. Di Jawa, kita jarang melihat atau mendengar tentara ambil alih tugas kepolisian seperti menangkap maling, ngurusi orang mabuk, atau ngurusi kasus kekerasan. Di Papua, tentara di mana-mana itu biasa saja. Maka kasus yang baru saja terjadi di Merauke, sebetulnya bukan peristiwa pertama di Papua.

Kalau di Jawa, konteks backing aparat untuk kepentingan usaha sipil, umumnya bicara tentang kehadiran oknum polisi. Tapi di Papua, orang bisa memilih aparat mana yang mau dilibatkan untuk backing keamanan. Mulai dari satpol PP, polisi, angkatan darat, angkatan laut, atau angkatan udara. Itu pun tergantung di mana wilayah tinggal si orang sipil.

Pengalaman Personal

Ketika saya tinggal di Biak, kerabat saya yang kebetulan menjadi pejabat di tingkat Kabupaten memerlukan penjagaan rumah agar tidak diganggu maling. Yang jaga pun tidak main-main, yaitu satpol PP lengkap dengan truk transporternya. Di Rumah Sakit, satpam itu tidak cukup untuk mengatur keamanan lingkungan RS. Beberapa kali RS meminta bantuan aparat Brimob bersenjata untuk menjaga rumah sakit. Ini sesuatu pemandangan yang tidak ditemukan di Jawa.

Tapi ya, begitulah Papua. Kekerasan seolah menjadi makanan sehari-hari. Untuk mengubah keadaan menjadi lebih humanis, tidak semudah itu fergusso…..

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

TERKINI