Waktu Baca: 3 menit

Banyak mitos soal corona yang beredar di masyarakat. Beberapa disebut sebagai hoax dan beberapa memang mendekati kenyataan. Kami dari Pakbob.id , memutuskan untuk mengundang dokter beneran (iya, bukan dukun!) untuk menjawab mitos mitos yang ada. Tentu kami tidak bisa menjawab semua mitos karena banyak sekali mitos mengenai persoalan corona ini. Namun, kami berusaha semaksimal mungkin menjawab pertanyaan pertanyaan umum terkait mitos soal corona. Apa saja pertanyaan itu? Yuk langsung kita bahas!

Perkenalan

            Perkenalkan dulu narasumber kita yaitu dr. Timmy Budy yang merupakan dokter profesional. Ia juga rutin menjadi relawan di JB4Covid, sebuah komunitas yang bertujuan untuk membantu pencegahan penyebaran virus corona serta mengadvokasi orang orang yang butuh pertolongan pertama pada corona. Kali ini kita akan minta pertolongan pada dr. Timmy Budy untuk menjawab mitos soal corona.

Mengenai Tes Antigen dan PCR

Ardi : Mas, ada isu yang mengatakan bahwa kalau kita lagi pilek, maka tes antigen atau PCR kita hasilnya pasti positif. Apakah benar demikian?

Dr. Timmy : Tidak benar, gejala flu tidak selalu covid, kalau benar tidak kena covid 19, hasilnya pasti negatif.

A : Bagaimana sebenarnya cara kerja PCR ini? Apakah ada kemungkinan PCR salah mendiagnosa virus yang memiliki kemiripan genetic dengan sars cov-2?

T : Tiap virus punya susunan protein mRNA ataupun DNA yang khusus. Karena itulah, saya bisa hampir memastikan tes PCR tidak akan tertukar dengan virus lainnya.

Mengenai Varian Delta

A : Baik, saya ingin bertanya mengenai varian delta. Banyak yang mengatakan varian ini masuk saat ada insiden pesawat dari India membawa penumpang yang positif covid 19. Apakah benar kejadiannya seperti itu?

T : Bisa dibilang itu salah satu faktor penyebab. Tapi gini, masalahnya memang mobilitas masyarakat sangat tinggi. Makanya, varian Delta ini menyebarnya juga cepat sekali. Tapi selain varian Delta, ternyata ada varian lokal juga. Jadi ada virus corona yang bermutasi di Indonesia meski tidak seganas Delta.

A: Apakah tingkat mortalitas akibat varian delta lebih tinggi?

T : Delta ini pertama kali muncul di laporan WHO tahun 2020 sekitar bulan Oktober. Delta ini memang lebih cepat menular dibandingkan Alfa. Kalau gejala hampir sama. Walau demikian dalam laporan tersebut tidak menyebutkan bahwa virus Delta lebih cepat menyebabkan kematian dibanding varian lain. Ini hanya murni lebih cepat menular saja.

Tentang Virus Corona yang lebih ‘ganas’

A: Dok, apakah benar kini virus corona menjadi lebih ganas? Maksud saya, kini terlihat seolah mortalitas naik drastis begitu?

T: Sebenarnya penyebarannya lebih cepat saja. Yang sakit naik signifikan, rumah sakitnya seolah tidak siap. Memang, banyak RS kewalahan. Nakes juga banyak yang tumbang ‘kan dan tidak siap. Oksigen juga distribusinya tidak cukup baik. Cakupan vaksin juga amat kecil. Masih di angka 20 persenan.

courtesey : Muhammad Adil
Tentang Ivermectin

A : Bicara obat Ivermectin, katanya bisa untuk menyembuhkan penderita corona ya dok?

T : Belum ada studi kuat yang membuktikan Ivermectin efektif dalam menghadapi covid 19. Namun saat ini obat tersebut sedang diujikan di delapan rumah sakit besar di Indonesia. Kita tunggu saja hasilnya. Tapi ya masyarakat terlanjur memborong obat ini. Masih ingat waktu obat chloroquine dianggap obat covid? Langsung diserbu dan akhirnya tidak terbukti. Sampai sekarang belum ada obat untuk covid. Lebih baik kita tunggu hasilnya.

Tentang Happy Hypoxia Dan Kematian Mendadak Akibat Covid

A: Dok,banyak yang takut saat isolasi mandiri lalu tiba tiba ngedrop dan langsung meninggal. Apakah benar prosesnya seperti itu?

T : Prinsip Isoman itu ‘kan sebenarnya diperuntukkan bagi yang tidak bergejala berat dan tidak punya penyakit komorbid yaa. Yang penting, bagi yang isoman wajib selalu lapor ke satgas dan punya kontak agar bisa dipantau. Harap maklum kalau satgas juga sibuk, karena itu saya menyarankan untuk memiliki kontak dokter yang bisa membantu.

Alat alat yang harus kamu miliki adalah oxymetri dan thermometer. Ini untuk memastikan bahwa kamu benar benar tidak bergejala begitu. Kemudian juga usahakan selalu olahraga ringan dan berjemur.

Vitamin jelas harus selalu ada. Kalau mau minum obat, diskusikan dulu dengan dokter. Jika gejala terasa makin berat, misal saturasi turun ke angka 95 atau makin sesak, segera kontak rumah sakit terdekat atau satgas.

Soal Susu Beruang

A : Dok, banyak nih yang memborong susu beruang, katanya ampuh untuk menangani corona. Apakah betul dok?

T : Susu beruang kan ya susu sapi. Minum susu baik untuk menjaga daya tahan tubuh. Namun, susu sapi bergambar beruang ini jelas bukan obat corona ya. Malah salah salah yang alergi susu makin sakit karena minum susu sapi.

 

Demikian tadi wawancara Pakbob.id dengan dokter Timmy terkait mitos soal corona. Pesan moralnya? Waspada tapi jangan ngawur. Percayalah pada tim medis untuk membantumu menghadapi pandemi ini. Jangan lupa minum makanan bergizi dan jus. Artikel ini tidak mempromosikan produk manapun by the way. Cao!

Gambar sampul oleh : Mufid Majnun

 Baca juga artikel kami lain mengenai krisis corona:

Mencari ranjang yang makin jarang

Corona di Jepang, Kisah Anak Negeri 

Sudah divaksin tapi masih positif? Bisa Jadi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here