Waktu Baca: 2 menit

Ngrasani atau membicarakan kejelekan orang lain memunculkan nikmat tersendiri. Nikmat ngrasani. Ada rasa besar dan paling benar. Saya tahu banyak orang bilang ngrasani itu perilaku buruk. Mereka bilang seperti memberi ego diri makanan penuh kolesterol. Junk food. Ya tapi mau bagaimana lagi? Berkumpul dan membicarakan kejelekan orang lain, yang tentu tidak ikut hadir, nikmat bukan kepalang. Memabukkan. Saya kecanduan.

Minggu-minggu terakhir, di grup pesan singkat, saya dan beberapa teman sibuk membicarakan kejelekan seseorang, katakanlah Si A. Dia adalah pemuda tampan, kaya, berprestasi, punya banyak bisnis, dan ooh.. sungguh cantik pacarnya. Singkat kata, mudah membuat orang lain (baca : saya) cemburu mengetahui nasibnya.

Belum lama ini Si A berjualan kaus. Saya dan beberapa teman tertarik lalu membeli lewat aplikasi belanja. Kaus yang kami terima punya kualitas sedikit di luar dugaan. Motif dan warnanya memang bagus, tapi mudah sobek, beberapa jahitan lepas, dan lagi durasi pengiriman cukup lama. Tidak puas dan kesal, saya dan beberapa teman sesama pelanggan membuat grup pesan singkat. Tentu tanpa mengundang Si A. Nikmat ngrasani pun dimulai.

Baca juga : Instruktur Les Piano

Si A selama ini saya pandang superior. Hebat dan penuh puja-puji. Itu membuat saya merasa sangat pantas untuk ngrasani dia. Kalimat demi kalimat ketidakpuasan mengalir. ‘Seharusnya dia membuat produk yang lebih bermutu’, ‘Seharusnya dia mementingkan kepuasan pelanggan’, ‘Seharusnya dia melakukan riset bahan baku’, ‘Seharusnya dia berpikir tentang pelayanan pasca penjualan’, ‘Seharusnya dia tidak cuma mencari untung finansial’.

Ada perasaan lebih besar ketimbang Si A. Setelah lama merasa diri inferior, sekali ini saya di atas. Mendadak saya tahu segalanya soal bisnis kaus. Kalimat seharusnya begini-begitu mengalir tanpa perlu riset atau pikir panjang. Rasa mangkel membuat saya betah ngrasani. Saya puas. Puas marah-marah. Puas memaki Si A. Puas merasa diri lebih tahu semuanya.

Baca juga : Jadi Orang Biasa Juga Tak Apa

Nikmat ngrasani membubung tinggi. Perbincangan melebar dan (oh, tentu saja) semakin berkualitas. Toh ini demi kebaikan semua pihak. ‘Seharusnya pacar Si A yang bekerja sebagai guru bisa menasehatinya’, ‘Si A pasti punya masalah kesehatan mental hingga tidak bisa melihat dari sudut pandang pelanggan’, ‘Bisa jadi ini karena didikan manja dari orang tua Si A’, ‘Prestasi yang selama ini dia peroleh bisa jadi hasil koneksi orang tuanya’, ‘Si A tidak akan bisa bertahan hidup bila punya cara kerja semacam ini’, dan ‘Kita boikot saja dagangan Si A’, ‘Kita sebarkan berita di media sosial tentang buruknya kualitas dagangan Si A’.

Nah, berhati-hatilah pada makhluk sok suci dan sok bijak. Nikmat ngrasani bisa mendadak hilang. Memangnya sudah coba ditanyakan langsung? Jangan-jangan dia belum tahu kalau produknya bermasalah? Bukankah akan lebih baik bagi kita dan juga bisnis Si A kalau keluhan disampaikan langsung? Ah, enggak seru! Orang semacam ini tidak usah diajak bicara!

Suatu waktu saya berkumpul dengan beberapa teman sesama pemesan kaus. Ups, tanpa diduga, Si A lewat dan menyapa. Waktu itu saya dan teman-teman sedang nikmat ngrasani. Kita sempat berbincang sebentar. Saya tidak mau memulai pembahasan tentang kaus apalagi melontarkan komplain. Huh, gengsilah! Enak saja, itu kan tanggung jawab dia! Seharusnya dia berusaha mencari tahu pelanggan puas atau tidak. Namun, tuh kan, Si A menunjukkan ketidakpedulian. Dia asyik membahas ide pengembangan bisnis lain.

Benar saja. Sampai pamitan, Si A tidak membahas soal kaus. Saya dan teman-teman langsung membicarakan kejadian itu. ‘Seharusnya dia bertanya pada kita soal kaus itu’, ‘Seharusnya dia peduli dan mengenakan kaca mata pelanggan’, ‘Seharusnya momen bincang tadi itu melahirkan solusi’, ‘Seharusnya tanpa kita utarakan, dia mengerti apa yang kita kehendaki’, ‘Seharusnya….’, ‘Seharusnya……’, ‘Seharusnya………’

Ooh, ngrasani itu memang sungguh nikmat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here