Waktu Baca: 3 menit

Bagi generasi 90an yang waktu kecil hobby nongkrongin layar TV tiap sore buat nonton anime, serial Samurai X adalah salah satu favoritnya. Seingat saya, serial ini sudah diputar 2 kali di Indonesia di stasiun TV yang berbeda. Serial Samurai X berangkat dari manga Rurouni Kenshin karya Nobuhiro Watsuki yang berlatar belakang situasi era restorasi Meiji Jepang. Kini kita bisa menikmati nostalgia masa kecil lewat film layar lebar Rurouni Kenshin. Rilis film yang terbaru adalah Rurouni Kenshin The Final (2021) dan Rurouni Kenshin The Beginning (2021).

Baca juga : School Police vs 21 Jump Street

Bicara tentang film Rurouni Kenshin, tidak usah takut soal spoiler. Alur ceritanya sama dengan yang ada di manga maupun serial anime. Ketika kita menonton film ini, tugas kita hanyalah mencocokkan adegan antara versi layar lebar dengan versi anime.

Sampai saat ini sudah ada 5 film Rurouni Kenshin versi layar lebar. Rurouni Kenshin (2012), Rurouni Kenshin part 2 Kyoto Inferno (2014), Rurouni Kenshin part 3: The Legend Ends (2014), , Rurouni Kenshin The Final (2021), dan yang terakhir, Rurouni Kenshin The Beginning (2021). Kelima film itu punya alur yang sama dengan versi manga dan versi serial anime yang pernah diputar di Indonesia. Tetapi untuk memahami konteks keseluruhan film, kita perlu menonton lebih dulu serial anime Rurouni Kenshin : Trust and Betrayal OVA Series. Untuk serial ini, belum pernah diputar di televisi Indonesia.

Rurouni Kenshin : Trust & Betrayal

Film berdurasi 120 menit yang diproduksi tahun 1999 ini bercerita tentang masa lalu Kenshin Himura saat ia masih usia belasan tahun. Ia menjadi tukang jagal yang mampu membunuh ratusan lawan. Dari sinilah asal mula julukan Hitokiri Battosai alias Battosai si pembantai. Kisah asmaranya dengan Tomoe Yukishiro, interaksi dengan Enishi Yukishiro diceritakan di sini. Dari film anime inilah juga diceritakan perseteruan Kenshin dengan Hajime Saito yang sama-sama petarung professional.

Rurouni Kenshin : The Final (2021)

Saya akan melompat pada ulasan mengenai film terbaru Rurouni Kenshin yang barusan dirilis di Jepang ini. Seperti pada serial maupun film tentang Kenshin, kita akan disuguhkan pada permainan pedang yang memukau. Kita diajak untuk masuk pada alur cerita jinchu, dimana Enishi Yukishiro berniat balas dendam pada Kenshin atas kematian kakaknya, Tomoe Yukishiro. Soal permainan pedang, alur ini menggambarkan duel antara pedang Sakabatou dan pedang gaya Tiongkok milik Enishi Yukishiro. Menurut saya sih ini keren, karena Enishi menunjukkan performanya. Pedang boleh made in Tiongkok, tapi gaya permainan tetap Jepang.

Subliminal Message

Setiap film Rurouni Kenshin semangatnya adalah mengajarkan tentang pengampunan atas masa lalu. Begitu juga di film terbarunya, Kenshin mengajak Enishi untuk berdamai dengan masa lalu. Siapa yang emosional akan kalah berduel. Tetapi bagi saya yang janggal adalah kurangnya penggambaran soal rasa penyesalan Kenshin atas kematian Tomoe Yukishiro. Kalo kita ingat pada versi serial anime, Kenshin begitu dalamnya merasa berdosa atas kematian Tomoe. Bahkan ia tidak mau bertarung, merantai pedangnya, dan rela dihajar oleh Enishi. Tetapi itu ada di serial anime. Sementara pada versi film, meski Kenshin punya rasa bersalah, tetapi masih proaktif mau melawan Enishi.

Pilihan Aktris

Saya salut pada Keishi Otomo sebagai sutradara yang pintar memilih pemeran perempuan. Dalam versi anime, ada perbedaan kuat antara tokoh Kaoru Kamiya, Megumi Takani, dan Tomoe Yukishiro. Soal kecantikan, Tomoe digambarkan lebih cantik dan lebih kalem ketimbang Kaoru. Perbedaan ini juga ternyata ditunjukkan dalam film terbaru. Sang sutradara memilih Emi Takei sebagai Kaoru Kamiya. Peran ini secara konsisten dipakai untuk kelima film Rurouni Kenshin. Sementara Tomoe Yukishiro cocok sekali diperankan oleh Kasumi Arimura.

Background Music

Bicara tentang background music (BGM), jelas yang terbaik ada di versi anime. Garapan orkestra Taku Iwasaki belum tergantikan kualitasnya. Kalo kita menyimak pilihan BGM yang dipakai untuk Rurouni Kenshin versi layar lebar, bagi saya masih monoton. Ketegangan dan emosional dari BGM garapan Naoki Sato kurang terasa nendang. Tetapi kalo BGM Rurouni Kenshin versi anime, kita bisa dengan cepat merasakan sentuhan emosinya.

Selamat nostalgia masa kecil dengan menyimak film Rurouni Kenshin, mulai dari seri pertama hingga yang terakhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here