Waktu Baca: 3 menit

Kuliah tidak lagi sekedar jenjang berikutnya setelah SMA. Pasalnya, kuliah itu mahal dan tidak mudah tergapai banyak orang. Karena mahal, tentu kuliah harus cuan. Artinya, ketika kita memilih tempat kuliah,kita harus memastikan kampus yang kita pilih berguna untuk masa depan kita. Sebelumnya, kita pernah membahas pendidikan tinggi yang berguna di era digital dari sudut pandang pengalaman pribadi.

Nah, sekarang kita akan membahas Pendidikan Tinggi yang berguna di era digital lewat pandangan Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono. Beliau adalah seorang professor bidang manajemen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Artikel ini adalah hasil rangkuman materi yang Prof. Heru sampaikan pada Dies Natalis UP 45 dengan tajuk “Membangun Sumber Daya Perguruan Tinggi di Era Digital”.

Berikut beberapa buah pikiran beliau mengenai pendidikan tinggi yang berguna di era digital.

Kampus Yang Top, Dosennya Bahagia

Mungkin ini salah satu pikiran Prof. Heru yang agak unik. Menurutnya, kampus top seharusnya mampu membuat dosen dosennya bahagia. Bahagia di sini bukan berarti kampus bisa memberikan gaji tinggi, jam kerja fleksibel dan seterusnya. Menurut Prof. Heru, asalkan kampus bisa menciptakan suasana menyenangkan, dosen dosen akan bahagia.

Nah, ketika dosen merasa bahagia, maka rasa bahagia ini akan menular ke mahasiswa. Ketika mahasiswa bahagia, maka mahasiswa akan lebih optimis dalam menghadapi berbagai permasalahan.

“Optimisme adalah kunci agar mahasiswa bisa berpikir solutif dalam menghadapi kesulitan,” kata Prof. Heru.

Kampus Bagus, Cara Berpikirnya Tidak Hanya Berkutat Pada Hipotesa Saja

Prof. Heru mengingatkan bahwa kampus yang bagus tidak hanya sibuk membuktikan hipotesa saja. Prof. Heru menjelaskan bahwa selama ini, ada beberapa kampus yang memegang paradigma lama bahwa kampus harus tekun melakukan penelitian dan membuktikan hipotesa. Bagi Prof. Heru, ini cara berpikir yang kurang efisien. Seharusnya, kampus melakukan berbagai pendekatan dalam pendidikan. Misalnya saja praktek bisnis. Karena bagaimanapun juga, ilmu di kampus perkembangannya akan selalu kalah dengan praktek di lapangan.

Menurut catatan saya, beberapa kampus sudah melakukan banyak pendidikan berbasis praktek. Kampus kampus seperti BSI misalnya, terkenal dengan pendekatan prakteknya daripada teori. Untuk kampus yang premium, praktek bisnis ini menjadi kewajiban di kampus seperti Prasetya Mulya. Berdasar obrolan saya dengan teman teman HRD, kampus yang memiliki sistem penekanan pada praktek memang memiliki kemampuan lebih dalam beradaptasi di dunia kerja.

Btw, Pakbob.id juga merupakan ‘sekolah jurnalistik’ yang oke lho. Lewat program magang kami, kamu bisa mengembangkan kemampuan jurnalistikmu di bidang media online. Dengan gratis pula. Makanya, buruan daftar yuk!

Kampus Bagus Harus Kolaboratif!

Pendidikan Tinggi Yang Berguna

Prof. Heru mengingatkan bahwa kampus yang bagus harus bisa berkolaborasi dengan kampus kampus lainnya. Menurutnya, beberapa kampus lebih unggul dalam mengajarkan mata kuliah tertentu. Misalnya saja, sama sama program kuliah manajemen, namun kampus A memiliki keunggulan di mata kuliah Perilaku Konsumen contohnya. Sementara itu, mata kuliah B memiliki keunggulan di mata kuliah Marketing. Nah, kenapa tidak mahasiswa dari kampus A dan Kampus B saling mengambil kelas secara cross universities? Dengan cara ini, maka perkembangan keilmuan antar mahasiswa akan menjadi lebih baik.

Kampus Harus Punya Visi Besar

Prof. Heru bercerita bahwa dahulu UMY bahkan tidak memiliki gedung. Namun, ia salut dengan visi besar manajemen UMY. Lewat visi besar mereka, kini UMY menjadi salah satu kampus unggulan di Yogyakarta. Baginya, penting untuk manajemen kampus agar memiliki visi besar. Visi ini penting untuk kemajuan kampus dan juga usaha. Kampus yang memiliki visi besar juga bisa mendorong mahasiswa mahasiswinya memiliki pandangan yang optimis dan kemampuan untuk beradaptasi dengan jauh lebih baik.

Prof. Heru memberi ilustrasi pada Kodak. Ia menunjukkan bahwa Kodak dahulu mempekerjakan banyak Phd. di bidang Kimia untuk memastikan produk foto filmnya tetap unggul. Ndilalah, Kodak yang tidak realistis melihat perkembangan kamera digital akhirnya jatuh. Kodak kalah dengan Instagram yang pegawainya rata rata berpendidikan biasa saja, tapi visinya jauh ke depan.

Pada Akhirnya, Mahasiswapun Harus Proaktif

Prof Heru menutup perbincangan dengan menekankan bahwa pada akhirnya mahasiswa harus proaktif dalam membangun diri sendiri. Ia menyebut, bahkan kampus sekelas UGM tidak bisa memberi jaminan pasti sukses bagi mahasiswanya. Prof. Heru menilai, mahasiswa tetap harus berusaha dan memastikan kesuksesan dirinya sendiri dengan belajar dan beradaptasi.

“Era digital ini sangat eksponensial. Banyak usaha kecil tiba tiba menjadi raksasa dan bahkan menjadi market leader karena perkembangan teknologi,” kata Prof. Heru. “Kini digitalisasi bukan menjadi alat bantu dalam usaha, digitalisasi justru menjadi aktor utama kemajuan bisnis.”

Baca juga :

Guru yang tidak dihargai murid, cerita soal mereka

Berkembangnya Kesadaran Sehat Mental Kita

Kuliah di Tengah Keterbatasan, Mengapa Tidak?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here