Waktu Baca: 3 menit

Coba bayangkan, ketika hal terakhir yang bisa kamu lakukan bersama teman sekelas atau sekolahmu terjadi tidak sesuai harapan? Sedih sih, tapi apa boleh buat? Pada umumnya wisuda menjadi kenangan terakhir yang bisa dilakukan bersama teman – teman serta guru di sekolah. Namun hal ini tidak berlaku bagi murid ‘angkatan korona’. Saya mengalaminya sendiri bahkan setelah 1 tahun PJJ, wisuda pun harus dilakukan secara online. Awalnya ini menjadi hal yang menyedihkan bagi saya, tetapi setelah direnungkan kembali rupanya banyak hal menarik dari kejadian pengalaman wisuda online ini.

Terjadi sekali seumur hidup

Wisuda online terjadi karena masih tingginya kasus korona di Indonesia. Hal yang menjadikan wisuda kali ini terbilang unik karena pelaksanaannya. Kejadian semacam ini hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup ( kita berharapnya sih tahun ini korona selesai, kalau belum juga ya.. selamat wisuda mu juga online ).

Rasanya itu kepingin banget nekat untuk mengadakan wisuda offline. Waktu itu saya bersama beberapa teman dan juga komite sekolah sempat memiliki rencana untuk mengatur wisuda offline. Persiapan sudah diatur mulai dari protokol kesehatan, aturan jaga jarak tempat duduk dan foto bersama, durasi yang singkat, dan lain – lain. Persiapan ini tentu memerlukan anggaran besar untuk memenuhi perlengkapan yang dibutuhkan saat wisuda nanti.

Setelah dirundingkan kembali, akhirnya semua sepakat untuk mengadakan wisuda secara online saja. Saya paham betul perasaan teman – teman saya saat munculnya pengumuman keputusan wisuda secara online, mau sedih tapi bingung juga ( galau banget. serius deh). Wisuda online ini menjadi pengalaman unik bagi saya sekaligus bersejarah. Tidak akan terulang lagi.

 

Punya cerita sendiri

Saya sudah mewawancarai beberapa teman saya mengenai kesan dan perasaan apa yang muncul saat wisuda online. Kebanyakan menjawab ;

“Sedih banget ngga bisa kumpul – kumpul langsung”

“Ngga excited. Biasa aja”

“Ngga tau, ngga ikut acaranya”

Bahkan di antara mereka ada yang kesal mendapat pertanyaan begitu. Ada satu teman yang menurut saya punya pandangan menarik tentang wisuda online. Kita sebut namanya Amel, begini katanya ;

“Wisuda online itu ngga seru banget. Gue sama sekali nggak excited untuk ikut acaranya. Tapi gue akhirnya ikut juga sih, untuk menghargai komite yang udah susah payah ngadain ini. Apalagi sinyal di rumah gue jelek banget, kadang tiba – tiba ngelag. Meskipun begitu, menurut gue wisuda ini berkesan buat gue. Kalau nanti korona udah kelar, wisuda online ini bakal punya cerita sendiri gitu”.

Saya pun sependapat dengan Amel. Kalau korona selesai, kita jadi bagian dari sejarah. Walaupun mungkin kita mengulang kembali proses wisuda, tapi suasananya sudah berbeda. Semacam ‘ruang nostalgia’, kalau kangen datang saja kesana.

Ada pesan tersembunyi

Kalau kita mengambil perspektif buruk, wisuda online bukanlah hal yang menyenangkan. Itu hal yang wajar terjadi, karena saya pun sempat berpikir demikian. Tapi semenjak saya mendapat tantangan untuk menulis pengalaman wisuda online saya ke dalam sebuah artikel, saya menemukan hak tak terduga.

Jika mengingat wisuda offline tahun sebelumnya, berapa banyak uang untuk membuat acara wisuda agar terkesan megah dan mewah? Berapa banyak anggaran yang kita belanjakan untuk membuat acara setelah wisuda? ( seperti prom night, foto bersama di studio foto, bakar – bakar, dan sebagainya ). Apakah biaya yang dikeluarkan benar benar menghasilkan kesan?

Bukan maksud saya tidak memperbolehkan hal itu, kegiatan tadi sah – sah saja untuk dilakukan toh hal itu juga momen terakhir  kita bisa berkumpul bersama sebelum kesibukan yang memisahkan kita. Tapi bukankah lebih baik kita menyalurkan uang kepada mereka yang membutuhkan?

Sebuah Inspirasi Kesederhanaan

Seringkali acara – acara sekolah seperti itu hanya ingin terlihat “wahh” dan kurang memedulikan eksistensi ‘kenangan’ yang berkesan. Sebetulnya wisuda, selain untuk melepas siswa yang lulus, juga sebagai acara terakhir mengenang hari – hari bersama di sekolah tersebut. Acara yang ada mungkin tidak perlu terlalu mewah, cukup dengan sederhana saja, tetapi mampu meninggalkan kesan yang bermakna.

Karena kita pun hidup harus memikirkan orang sekitar juga. Kita coba gunakan kesempatan yang ada untuk berbagi kepada sesama.

“Ketika berbagi menjadi hal yang membuat hatimu senang, lakukanlah. Karena mereka sangat membutuhkan ketulusan hatimu dalam berbagi”.

Baca juga kisah kisah sekolah di masa corona lainnya:

Angkatan Corona Juga Bisa Bersaing, Gimana Caranya?

Meratapi Nasib Sekolah Jurusan Corona

Puasa Medsos Yuk, Mungkin Kamu Butuh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here