Waktu Baca: 3 menit
Media Sosial

Waktu yang kita miliki selama 24 jam dalam sehari itu rasanya selalu saja kurang atau bahkan tidak cukup untuk melakukan aktivitas yang ”seharusnya” dilakukan. Kenapa ya hal itu bisa terjadi? Kenapa rasanya waktu berlalu cepat sekali? Bisa jadi kita kebanyakan main medsos. Mungkin kita perlu puasa medsos!

Kita tahu bersama bahwa media sosial merupakan suatu platform yang kaya akan manfaat dan telah menemani hidup banyak orang lebih dari satu dekade. Seiring bertambahnya waktu, media sosial telah memikat hati para penggunanya dengan berbagai inovasi teknologi yang nyaman dipandang mata. Pertambahan umur media sosial, sejalan dengan makin bertambahnya pula penggunanya yang diliputi berbagai macam gangguan psikologi seperti perasaan cemas, insecure, tak sabar, sulit tidur, sulit fokus dan gejala gangguan psikologis sejenis lainnya. Saya adalah salah satunya, dan saya yakin saya tidak sendiri. 

FOMO?

Apakah kamu pernah mendengar istilah FOMO? FOMO atau Fear of Missing Out kerap dikaitkan dengan kecanduan terhadap media sosial. Perilaku kecanduan tersebut ditandai dengan rasa takut atau khawatir berlebihan bila tidak mengetahui berita atau tren terkini. Saya pribadi merasakan bahwa saya pernah mengalami kecanduan tersebut, dan itu sangat mempengaruhi kondisi psikis maupun mental seseorang. 

Lalu, bagaimana denganmu? 

Untuk mengetahuinya lebih dalam, coba jawab pertanyaan ini: “Ketika kamu berpergian dalam jangka waktu lama, kamu akan merasa lebih baik jika ketinggalan dompet atau HP?”

Jika kamu menjawab HP, maka itu “bisa jadi” tanda bahwa kamu mengalami gangguan yang disebut FOMO, sebuah istilah yang pertama kali dikemukakan pada tahun 2013 oleh seorang ilmuwan asal Inggris bernama Dr. Andrew K. Przybylski yang dapat kita terjemahkan sebagai ketakutan akan ketertinggalan. Sebagian besar kasus FOMO memang terjadi karena dipengaruhi oleh media sosial sehingga membuat penggunanya memiliki ketergantungan besar yang tidak sehat yang akhirnya menimbulkan perasaan-perasaan negatif seperti khawatir, cemas, depresi, dan insecure. Namun, FOMO bisa juga terjadi karena hal lain. Survey mengatakan bahwa sebanyak 60% remaja akan merasa khawatir ketika mengetahui temannya bersenang-senang tanpa dirinya. Perasaan tersebut bisa saja muncul akibat suatu gangguan yang disebut FOMO.

 

Keluar dari Zona Nyaman Medsos

Setelah sadar bahwa sepertinya akhir-akhir ini banyak sekali waktu yang saya berikan hanya untuk melihat foto-foto dan video di media sosial dan membuat saya tidak produktif. Akhirnya, saya memutuskan untuk seminggu istirahat dari media sosial.

Ketika sudah terlalu penat, mungkin ini saatnya rehat supaya hati kembali sehat. Menariknya, pada hari-hari awal, saya merasa seperti seorang pecandu yang lepas dari candunya. Saya merasa kalut karena bingung harus bagaimana dalam mengisi hari-hari tanpa sosial media. Biasanya jika ada waktu kosong saya akan gunakan untuk scroll instagram, serta twitter, membuka berbagai berita menarik atau menonton video-video yang muncul dalam beranda dan timeline saya.

Namun, ketika mencoba istirahat dari medsos, itu semua tidak saya lakukan. Setelah beberapa hari berlalu, saya mulai merasa nyaman. Saya mulai memanfaatkan waktu saya entah itu dengan bermain musik, membaca buku, ngobrol dengan teman, memasak, dan melakukan berbagai aktivitas lain. Tidak dipungkiri, di masa pandemi ini, semuanya dituntut serba online, oleh sebab itu saya masih belum bisa lepas dari WhatsApp yang masih saya gunakan untuk berbagai keperluan penting terkait perkuliahan atau hal-hal lain. 

Walaupun demikian, setidaknya saya sudah mencoba istirahat dari instagram dan twitter. Bagaimana rasanya? Wah, menyenangkan rasanya. Rasanya seperti kembali ke dalam kehidupan dunia nyata, bukan lagi di dunia maya. Perhatian saya menjadi utuh, tidak lagi rasanya memburu waktu, muncul perasaan tenang, dan saya menjadi lebih produktif. Bagi saya, istirahat dari medsos atau puasa medsos itu merupakan hal yang baik dan bisa menjadi kebiasaan karena rasanya seperti mengangkat beban psikologis dari pundak kita. 

 

Kunci Keberhasilan  

Sebenarnya, kunci keberhasilan dari puasa medsos sangat bergantung dengan kegiatan bermanfaat apa yang kita lakukan ketika mengisi waktu luang yang biasanya kita gunakan untuk bermain sosial media. Puasa medsos yang berarti istirahat dari media sosial selama jangka waktu tertentu sesuai dengan yang kita tentukan akan memberi manfaat apabila kita memanfaatkan waktu dengan bijaksana.

Harapannya adalah ketika puasa medsos berakhir, kita bisa menjadi pribadi yang lebih bijak dalam berhubungan dengan media sosial. Kita bisa menghindari gangguan-gangguan psikologi seperti FOMO. Lalu kita bisa menjalani kehidupan secara utuh karena kita sepenuhnya hadir. Saya pribadi menjadi jatuh cinta dengan pikiran yang fokus tanpa media sosial sehingga sampai detik ini. Saya masih bertahan untuk mematikan notifikasi-notifikasi media sosial agar tidak mengusik pikiran saya ataupun pekerjaan yang saya kerjakan. Dampak positif yang saya rasakan adalah saya menjadi tidak terburu-buru untuk menjawab/merespon setiap notifikasi yang muncul. Bagi saya pribadi, itu menjadi suatu kemajuan yang baik.

Berikut ada sebuah quote dari Abang Fiersa Besari. Penyanyi ini juga mempraktikkan puasa medsos. Ia kemudian merasakan manfaat besar dari tindakannya tersebut. Menurutnya, “sesuatu yang membuat hidup kita lebih mudah, tidak berarti membuat hidup kita lebih baik”.

 

Catatan: Hubungan setiap orang, permasalahan, kebutuhan, psikis, dan juga mental seseorang itu berbeda-beda. Jika puasa media sosial 30 hari terasa berat, bisa saja kita mulai dari 1 minggu atau 24 jam. Selamat mencoba!

 Baca Juga :

Kesalahan Fatal Cewek Yang Mengandaskan Hubungan

Motivasi Hancur? Lakukan 5 Seconds Rule!

Mengatasi Masalah Dengan Meditasi Buddhisme

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here