Waktu Baca: 4 menit

Malam itu, saat jalanan di Jogja sudah tidak lagi dijejali lalu lalang kendaraan bermotor. Suara sirine meraung-raung dengan kerasnya memecahkan keheningan di seputaran Ring Road utara. Ada dua mobil yang melintas dengan sangat cepat, mobil pertama berperan untuk membuka jalan sedangkan mobil yang kedua membawa jenazah. Para personelnya pun mengenakan APD lengkap, semuanya kompak berwarna putih. Mereka inilah tim kubur cepat jenazah corona.

Ketika masyarakat sudah terlelap dengan mimpi indahnya. Tim tersebut harus berjibaku dengan waktu, menguburkan jenazah yang terpapar corona. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa corona bukanlah sebuah hal yang bisa  dianggap sebelah mata, karena ia nyata adanya!

Para pahlawan tersembunyi

  Korona yang masih enggan beranjak dari negeri ini membuat banyak orang dalam diamnya memberikan sumbangsih nyata dalam perang melawan korona. Ada teman saya yang dengan ikhlas memberikan konseling kepada para suspect korona. Lantas ada juga yang menggalang dana untuk memberikan bantuan makanan kepada buruh gendong di pasar-pasar yang ada di Jogja. Semua serempak bergerak berbagi kebaikan dalam kapasitasnya masing-masing.

Namun ada juga yang harus berhadapan langsung dengan corona, mereka adalah tim kubur cepat jenazah corona di BPBD DIY. Para pemberani yang harus menuntaskan amanah menjadi tim kubur untuk menguburkan jenazah corona secara cepat sesuai dengan protokol kesehatan.

Pemakaman jenazah dengan protokol Covid 19                             (dokumentasi Mas Nova)
Berbincang Langsung Dengan Mereka

Beberapa waktu lalu saya sempat menemui salah seorang anggota tim kubur cepat jenazah korona tersebut. Saya memanggilnya mas Nova, pria yang murah senyum itu merupakan bagian dari tim kubur cepat yang mulai aktif sejak pertengahan Maret 2020. Grafik corona yang meningkat di bulan tersebut membuatnya harus selalu berjaga selama 24 jam penuh secara bergantian. Dalam satu tim terdiri dari tujuh orang saat bertugas untuk menjemput dan menguburkan jenazah. Tim kecil yang bekerja dalam diam demi kemanusiaan.

“Ya lelah itu sudah pasti mas tetapi kan ini juga dibantu teman-teman dari elemen lainnya. Sehingga saya tidak merasa sendiri dalam mengemban amanah yang diemban. Dibuat senenglah pokoknya,” jawab mas Nova saat ditanya tentang perasaannya selama bertugas menjadi tim kubur cepat jenazah corona.

Sejalan dengan perkembangan yang terjadi, tim kubur cepat sekarang hanya bertugas 12 jam saja per harinya. Dikarenakan kabupaten atau kota sudah memiliki tim kubur cepat sendiri. Tetapi bukan berarti mas Nova dan kolega bisa berleha-leha, tidak sama sekali! Mereka tetap berperan menjadi dukungan ketika ada panggilan menjemput dan menguburkan jenazah sewaktu-waktu.

Pengalaman Pertama Yang Membekas

Mas Nova mengatakan bahwa pada saat mengevakuasi jenazah COVID 19 saat pertama kalinya menjadi memori yang tak akan terlupakan. Tentu masih ada kekhawatiran dalam melaksanakan tugas. Mas Nova dan teman-teman tim kubur cepat tentu masih harus melakukan upaya maksimal walaupun masih banyak kendala yang dialami di lapangan.

Evakuasi pertama inilah yang menjadi tonggaknya hingga saat ini. Melalui evakuasi pertama yang mas Nova lakukan, ia dan teman-teman belajar untuk memberikan yang terbaik bagi jenazah korban COVID 19. Sekali lagi ini bukan semata-mata tentang keberanian tetapi adalah tentang kemauan belajar dan protokol yang harus mereka jalankan demi memutus rantai virus corona.

Pria yang sudah sejak enam tahun lalu bergabung dengan BPBD DIY tersebut menceritakan kisahnya saat memakai APD lengkap. Menurutnya, APD lengkap merupakan hal wajib yang mereka kenakan saat melakukan tugas. Hal yang tidak boleh mereka tawar lagi, karena itu adalah perlindungan pertama dan terakhir kami, katanya.

“ Pakai APD lengkap itu rasanya ya gerah. Kita harus pakai hazmat, masker, sarung tangan dan sepatu bot. Apalagi kita harus juga menjaga nafas saat melakukan penguburan jenazah. Belum lagi kita harus menjaga APD tersebut tidak robek saat bertugas. Wes pokoknya harus serba ekstra,” jelasnya.

Setelahnya, mas Nova dan teman-teman harus menjalankan proses dekontaminasi terhadap APD yang mereka pakai. Mereka harus menerima semprotan cairan desinfektan yang muncul bersama dengan air bertekanan tinggi. Bisa kita bayangkan jika mereka harus mendapatkan semprotan sewaktu malam atau dini hari. Dinginnya air dan kondisi udara kompak menusuk tulang mereka semua.

Mengapa Masih Bertahan?

Mas Nova lalu menceritakan apa semangat yang mendasarinya bertahan hingga saat ini di tim kubur cepat jenazah korona.

“Saya dan teman-teman hanya ingin menyempurnakan perjalanan sesama yang meninggal dunia. Kalau bukan kami yang melakukannya siapa lagi?” ungkap mas Nova.

Ia juga menyadari bahwa ada pro kontra di masyarakat terkait dengan tata cara pemakaman jenazah COVID 19. Penolakan oleh warga sekitar juga seringkali mereka jumpai. Tetapi penguburan tetap harus mereka jalankan sesuai dengan aturan. Mas Nova dan timnya juga tak lupa selalu mengiringi penguburan jenazah dengan doa. Tujuannya sudah jelas, untuk membantu arwah yang meninggal dunia agar mendapat kemudahan untuk bertemu sang pencipta.

Perkembangan grafik korona yang masih fluktuatif membuat mas Nova dan teman-teman harus berjuang lebih lama. Ia berpesan agar teman-teman semua bisa mematuhi protokol kesehatan dan tetap waspada dengan keberadaan korona. Karena itu adalah bentuk dukungan kepada mas Nova dan tim kubur cepat.

Bagi mereka, bisa bercengkerama dengan keluarga adalah sesuatu yang sangat langka dan mahal harganya selama korona masih ada. Mas Nova dan anggoa tim lainnya bukanlah siapa-siapa. Mungkin juga tidak akan ada tanda jasa yang akan melekat di dada mereka. Semangat selalu mas Nova dan teman-teman lainnya yang berada di garda terdepan dalam melawan korona. Lanjutkanlah cita-cita sederhana tim kubur cepat BPBD DIY untuk menyempurnakan perjalanan sesama! Age quod agis… (*)

 

*) Wawancara dilakukan secara daring. Tulisan ini oernah termuat penceritakata.blogspot.com. Tulisan ini juga telah mengalami revisi sesuai platform Pakbob.id tanpa mengubah dan mengurangi isi.

 

Baca juga kisah kisah mengenai corona lainnya:

Corona di Jepang, Kisah dari Anak Negeri 

Kantor Memaksakan WFO, Apakah Mati Rasa?

Vaksin Covid Untuk Siapa Kok Jadi Bingung?

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here