Waktu Baca: 4 menit

Ada yang aneh dari Serie A Italia. Jika di liga lain biasanya top scorer atau pencetak gol terbanyak adalah pemain pemain muda, maka di Italia biasanya posisi ini dihuni oleh striker yang berumur di atas kepala tiga. Bisa dibilang, di Serie A, fenome striker tua tapi ganas sudah tidak aneh lagi. Bahkan, banyak juga dari mereka yang umurnya hampir mencapai angka empat puluh tahun. Kenapa bisa demikian?

Salah satu alasannya adalah, banyak klub Serie A menggunakan sistem pertahanan dalam atau drop deeper. Sistem pertahanan ini berbeda dengan model high defensive line yang biasa kita temui di Liga Inggris dan Liga Spanyol. Garis pertahanan tinggi membuat striker cepat dan jago dalam melakukan counter attack menjadi jauh lebih berguna. Sementara itu, dalam sistem pertahanan dalam, pengalaman, insting mencetak gol serta fisik yang kokoh jauh lebih berguna dalam mencari ruang sempit di antara ketatnya pertahanan.

Oleh karena itulah, striker gaek yang tidak terlalu cepat namun berbadan kokoh bisa berprestasi di Serie A meski hal itu tidak selalu menjadi jaminan. Berikut adalah beberapa striker tua tapi ganas yang pernah beraksi di Serie A.

Dario Hubner

striker tua tapi ganas

Dari namanya, kita pasti akan mengira dia adalah orang Jerman. Ya, ia memang memiliki keturunan Jerman, namun paspornya Italia. Ia banyak menghabiskan karir di klub Serie B dan Serie C. Saat berlaga di kompetisi bawah itu, ia sebenarnya sudah menunjukkan tajinya. Ia seringkali menjadi top scorer untuk klub dan kompetisi. Namun, sinarnya baru menjadi terang ketika ia bermain untuk Piacenza. Di klub ini ia menjadi top scorer Serie A. Pada musim 2000-2001, total ia menceploskan 24 gol, setara dengan bomber Juventus, David Trezeguet. Iapun resmi menjadi top scorer tertua di usia 35 tahun sebelum rekornya dipecahkan oleh Luca Toni.

Dario Hubner mungkin bukan striker dengan banyak skill. Namun, Hubner sangat ngotot dalam bermain dan pandai menemukan celah sekecil apapun untuk membuatnya menjadi gol. Konon, Hubner pernah diincar Inter Milan menjelang penghujung karirnya. Entah mengapa transfer itu gagal terwujud. Apakah Inter khawatir saat itu karena Hubner memiliki kebiasaan merokok yang parah? Entahlah.

Luca Toni

Striker Tua tapi Ganas

Tonigol memang baru menikmati karir gemilang sebagai pesepakbola di akhir umur 20an. Setelah berjaya di Palermo, Toni mendapat panggilan dari Bayern Munich yang sedang membangun kekuatan setelah menyelesaikan transfer Franck Ribery. Bermain di Bayern, Tonipun sempat mencicipi gelar Bundesliga untuk melengkapi gelar Piala Dunianya. Ketika banyak orang mengira Toni sudah habis, ia malah balik kandang dan membela klub promosi, Hellas Verona. Bersama Hellas, ia mencetak rekor sebagai top scorer tertua pada musim 2014/2015 dimana ia mencetak 22 gol, setara dengan bomber mahal Internazionale, Mauro Icardi. Saat itu ia berumur 38 tahun!

Saat itu, Luca Toni memiliki keunggulan sebagai striker tipe Targetman yang bergerak dengan efektif mencari ruang dan menceploskan gol. Di Hellas, ia juga menjadi pusat permainan dan sering mendapatkan suplai bola matang. Mungkin inilah alasan mengapa Luca Toni bisa sangat efektif waktu itu.

Antonio Di Natale

Bicara striker gaek tak akan pernah usai tanpa membahas Di Natale. Di usia 30an, ia rutin mencetak 20an gol per musim! Tidak hanya tua, Di Natale juga konsisten. Pada 2010, ia mencetak 29 gol dan berkontribusi sebanyak 54% dari gol timnya. Angka yang luar biasa. Rekor golnya ini membuat ia sempat menjadi incaran tim raksasa Inggris, Manchester United. Namun, kepindahan striker ini tidak pernah terjadi.

Seandainya ia bermain di Inggris, mungkin ia tidak akan sama ganasnya seperti ketika ia bermain di Italia.

Fabio Quagliarella

Striker Tua tapi ganas

Striker ini sebenarnya sudah gacor dari muda, namun ia tidak pernah benar benar menjadi protagonista bagi timnya. Baru ketika ia balik kandang ke Sampdoria setelah mencetak berbagai prestasi, ia berhasil meraih gelar capocannoniere dengan 26 gol pada musim 2018/2019. Keberhasilannya meredupkan sinar Cristiano Ronaldo yang baru saja datang ke Serie A dengan memecahkan rekor transfer.

Cristiano Ronaldo

Nama yang satu ini tidak perlu perkenalan lagi. Ronaldo menjadi top scorer Serie A di usia 36 tahun. Ronaldo benar benar definisi sejati dari striker tua tapi ganas. Namun ada satu hal yang menarik dari Ronaldo, ia sebenarnya memulai karier sebagai nomor 7 alias sayap kanan. Namun, pada suatu pertandingan El Classico, pelatih Real waktu itu memintanya bermain sebagai nomor 9. Alasan Mou waktu itu adalah karena ia tidak ingin Ronaldo sibuk menahan gempuran Dani Alves yang menjadi bek sayap kiri Barcelona saat itu. Tidak disangka, semakin bertambah tuanya Ronaldo, posisi striker  terasa lebih pas untuknya. Ia kini menjadi poacher  handal.

Zlatan Ibrahimovic

The God tidak menjadi top scorer Serie A, namun pengaruhnya jelas besar untuk Milan. Di usianya yang ke 39 (menuju ke 40) ia masih terus mencetak gol. Zlatan dianugerahi badan tinggi besar serta kekar, kontrol bolanya juga menakjubkan. Ia telah meraih gelar liga di Italia, Spanyol dan Perancis. Satu satunya penyesalan untuknya mungkin adalah gelar Uefa Champions League yang belum juga mampir di lemari trofinya.

Perkara Menjadi Striker itu Tidak Mudah!

Sekilas striker itu hanya satu jenis saja, yang penting mencetak gol. Padahal, fungsi striker bisa bermacam macam, tidak hanya mencetak gol saja. Serie A bisa disebut sebagai salah satu liga yang paling menuntut untuk striker. Liga ini meminta striker untuk cerdas beradaptasi dalam berbagai situasi pertahanan serta mampu memenuhi tuntutan efisiensi yang ketat. Dengan kondisi seperti ini, para striker senior mendapatkan panggungnya.

Baca juga kisah bal bal an lainnya:

Mengandaikan Karir Boaz Solossa Seandainya Beruntung

Komentar Mengejutkan Soal Pemain Sepak Bola (Dari tokoh Bal Bal an Lainnya)

Konspirasi Inggris di Euro 2020

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here