Waktu Baca: 2 menit

Sudah 5 hari ini PPKM Darurat diberlakukan di seluruh Jawa dan Bali. Saya menyaksikan ada perbedaan antara kondisi PPKM Mikro dengan PPKM Darurat, setidaknya di area Jogja. Ambulance makin sering melintas di jalanan dengan sirene yang meraung-raung. Kabar duka sudah seperti jadi makanan sehari-hari. Makin banyak orang yang menjalani isolasi mandiri, bukan karena kontak erat tetapi karena memang bergejala. Bagi saya pribadi sebagai distributor obat herbal, orderan kian membanjir. Rasa-rasanya dalam situasi ini saya harus mengucapkan terima kasih pada ojek online.

Daya Tahan Tubuh Ojol

Saya tidak punya data dan tidak tahu berapa ratus mitra ojol yang sudah terpapar covid dan menjalani isolasi mandiri. Tetapi asumsi saya, daya tahan tubuh mereka luar biasa. Mereka bisa menghabiskan waktu seharian di jalanan, dan mereka mampu (setidaknya mau) bertahan dalam situasi yang tidak mudah ini. Mereka mungkin tidak tahu bahwa customer mereka dalam keadaan sehat atau sedang terpapar covid. Mereka mungkin tak tahu apakah rumah yang mereka hantarkan barang / makanan adalah tempat isolasi mandiri. Risikonya tentu saja besar. Paparan virus di mana-mana dan tak pernah tau kapan atau dari siapa virus itu mampir kepada mereka.

Baca juga : Mitos Soal Corona dan Jawabannya

Ujian Empati

Masa PPKM Darurat menurut saya adalah fase ujian empati bagi banyak orang. Ketika ada orang lain yang butuh pertolongan kita, seberapa besar motivasi dan keberanian kita untuk menolong. Saya pun mencoba berempati kepada para kurir ojol yang mengantar paket dari saya untuk konsumen. Kalo konsumen saya adalah pelaku isolasi mandiri, saya dengan terbuka menyampaikan itu pada kang ojol, bahwa si penerima sedang isolasi mandiri. Mereka pun tahu apa yang harus mereka lakukan. Barangkali ini sepele, tapi penting untuk keselamatan diri kang ojol.

Keberanian bekerja

Saya salut dengan keberanian para driver ojol yang mau mengantar pasien / keluarga pasien ke rumah sakit. Malam kedua pemberlakuan PPKM Darurat, saya sempat melihat sebuah mobil ambulance dengan plat nomor area Jawa Timur yang melintas kencang di depan bundaran UGM. Tak jauh di depannya, ada seorang perempuan yang diboncengkan driver ojol berperan menjadi pengawal ambulance itu. Saya lalu menebak bahwa pasien yang ada dalam ambulance itu adalah keluarga dari si perempuan tadi. Mereka mengarah masuk ke RSUP Dr. Sardjito. Dalam masa seperti ini kalo kita masuk area rumah sakit rasanya sudah seperti setor nyawa. Saya rasa driver ojol tadi cukup bernyali.

Bagi saya yang lebih bernyali lagi adalah driver ojol mobil yang mengantarkan pasien ke rumah sakit. Hari gini mencari ambulance yang selo tidaklah mudah. Kalo nyawa pasien sudah di ujung tanduk sementara keluarga tidak punya mobil, maka tak ada pilihan selain order ojol mobil. Bisa kita bayangkan bila driver ojol dapat orderan mengantar orang ke rumah sakit, apalagi dengan catatan bahwa yang dibawa ini sedang sakit / butuh ngebut ke RS.

Semangat Gotong Royong

Di masa krisis ini para driver ojol mampu menunjukkan kultur gotong royong, bahkan lintas provider ojol. Ada yang mau jadi relawan untuk ngurusi laundry para tenaga kesehatan. Ada yang mau jadi relawan mengantar tabung oksigen. Terlebih lagi untuk kebutuhan dasar para pelaku isoman seperti obat-obatan dan makanan, siapa lagi yang bisa dimintai tolong kalo bukan driver ojol ?

Maka dari itu menurut saya patutlah kita ucapkan terima kasih pada mereka, para driver ojek online. Kalo tidak ada peran mereka, hidup kita bisa makin rumit di masa PPKM Darurat ini.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here