Waktu Baca: 3 menit

Siapa di sini yang gak suka Korean style? Korean style atau yang dikenal dengan style minimalis ala Korea menjadi salah satu trend yang tidak pernah pudar untuk diulas. Kemunculan style-style tertentu menjadi salah satu pertimbangan konsumen dalam membeli suatu barang, dilihat dari banyaknya jenis estetika yang familiar di kalangan generasi muda. Maka dari itu, kurang rasanya apabila belum memberikan rekomendasi thrift shop yang wajib banget untuk diikuti sambil isi waktu ditengah PPKM begini. Yuk, simak ulasannya!

Style minimalis ala Korea merupakan salah satu jenis estetika yang belakangan ini digandrungi oleh generasi muda. Menghadirkan style minimalis dengan color palette yang beragam, serta jenis trend yang bermacam-macam menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta Korean style. Tak dapat dipungkiri bahwa eksistensi Korean Style menjadi salah satu kunci bagi munculnya berbagai macam fashion brand. Namun, trend fashion Korean Style ini tentu tidak hanya terbatas pada fashion brand saja, melainkan juga tersebar di kalangan thrift shop.

Welcome to Gingerline!

Gingerline itu apa sih? Kok namanya Gingerline? Mungkin sebagian dari kalian banyak yang bertanya-tanya, sebenarnya Gingerline ini apa sih? Gingerline merupakan salah satu online shop yang berfokus pada thrifting yang dikelola oleh sepasang kakak beradik, yaitu Naila dan Gendis. Peran mereka menjajakan barang-barang thrift atau yang biasa dikenal dengan barang preloved/eks impor menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen sekaligus pecinta thrifting, karena personal branding yang unik dan apik!

Menjelajah instagram Gingerline tentu akan membuahkan kepuasan tersendiri bagi para pecinta thrifting, karena setiap item yang disajikan, dikemas dengan sedemikian apik dan menarik dari segi tema, foto hingga eksekusi akhir seperti packing dan pengiriman.

Lalu, nama Gingerline itu artinya apa sih? “Sebenarnya, Gingerline itu basically nama color pantone yang kita pakai untuk color background logo kita. Kalau temen-temen perhatiin, logo kita itu warna dasarnya kuning kecoklatan kan, nah warna dasar itu namanya Gingerline,” ujar Gendis. Selain namanya yang terbilang cukup unik, Naila dan Gendis pun menyajikan sentuhan keindahan yang berbeda dengan thrift shop kebanyakan. Berfokus pada Korean Style, Naila dan Gendis berhasil mengemas Gingerline dalam visual yang apik dan tidak monoton.

Sentuhan Personal dan Konsep Style Minimalis ala Korea

 Terinspirasi dari style minimalis ara Korea, Naila dan Gendis berusaha menyajikan item-item yang sesuai dengan konsep dan juga tema yang berbeda di tiap koleksinya. “Awalnya tuh dari iseng scrolling-scrolling thrift shop juga, terus kepikiran untuk bikin thrift shop sendiri,” ujar Gendis menambahkan. Berbekal dari tekad dan niat, Naila dan Gendis perlahan memulai perjalanan mereka di dunia thrifting.

Perjalanan mengolah dan mengkurasi baju preloved/eks. impor sendiri jauh dari kata-kata mudah. Dimulai dari memilih baju dan item yang sesuai dengan tema tiap koleksinya, memilah item yang akan diolah kembali (reworked), mengolah kembali item dan memberikan treatment khusus, hingga mengemas dan mengirim items sesuai dengan pesanan konsumen. “Kalau ditanya kenapa pilih untuk usaha thrift, itu alasannya karena aku dan Naila suka banget sih prosesnya. Dari awal pun kami berdua juga emang udah tertarik sama slow fashion, we’re having fun in the process of curating, styling and everything,” ujar Gendis.

Baca juga : Kain Polkadot dan Temanthrifty: Sebuah Perjalanan dan Cita-Cita

Dalam menampilkan visual Gingerline, Naila dan Gendis pun sepakat untuk memberikan sentuhan personal yang akan menciptakan kedekatan dengan para followersnya. “Mungkin karena awalnya juga cuma aku berdua sama Naila, jadi we’re trying to be as personal as possible, jadi hubungan sama followers kita itu emang kaya temenan aja,” tambah Gendis. Gendis mengaku bahwa Ia dan kakaknya Naila menjadikan Gingerline bukan hanya sekedar platform bagi mereka menjajakan item-itemnya, namun juga bisa menjadi salah satu media penghubung antar mereka dan orang lain.

Gendis juga mengaku bahwa selama menjalankan Gingerline, Ia dan kakaknya Naila mendapatkan banyak sekali respon positif serta dukungan dan antusias terutama dari para followersnya. “Kami juga berusaha share cerita atau pengalaman yang relate sama temen-temen diluar sana, jadi gak sebatas akun jualan, tapi kami juga mau encourage temen-temen lewat konten-konten daily yang pure jadi kalian gak akan ngerasa sendiri. Kami juga punya pemikiran kalo Gingerline ini bisa dijadiin media penghubung, jadi setiap temen-temen butuh sesuatu, kalian bisa cari di Gingerline!” ujarnya menambahkan.

Kata Gendis Soal Gingerline: Hobi yang Dibayar!

Menjalani sebuah usaha tentu tidak pernah terlepas dari suka dan duka. “Sukanya tuh karena selama ngejalanin Gingerline ini tu jadi kaya hobi yang dibayar, karena gaada pressure sama sekali, kita juga enjoy banget tiap brainstorming ide-ide untuk tiap koleksinya. Terus, kami juga jadi bisa tambah relasi lewat thrift community, dan lewat followers juga.” ujar Gendis. Ia juga mengaku bahwa peran dan dukungan dari komunitas thrift dan followersnya pun membuat Ia dan kakaknya semakin semangat untuk menyajikan konten-konten dan juga item-item yang menarik untuk Gingerline.

Baca juga : Thrifting Online untuk Pemula: Yuk Kenalan!

Terlebih, Gendis juga merasa bahwa selama menjalankan Gingerline sendiri, Ia lebih sering merasakan suka ketimbang duka. “Jujur lebih banyak suka daripada dukanya. Dukanya sih kalo kehabisan ide gitu, trus belum lagi kalau engagement instagram lagi turun, dan yang cukup sering sih karena Gingerline ini dijalaninnya bareng kakak dan temenku, jadi sering ada cekcok atau perbedaan pendapat yang kadang bikin kepikiran,” ujarnya. Kedepannya, Naila dan Gendis berharap bahwa Gingerline akan tetap disukai oleh para konsumen dan followersnya. “Semoga kita tetap bisa keep up with the trend, dan semoga kalian tetep suka ya sama Gingerline!” tutup Gendis. (*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here