Waktu Baca: 3 menit

 

Beredar kabar bahwa vaksin covid hanya untuk yang sehat saja. Yang memiliki komorbid atau penyakit bawaan tidak akan menikmati manfaat vaksin. Benarkah? Vaksin covid untuk siapa sebenarnya?

Berawal dari Sebuah Video

Saat ini, informasi bisa termuat dimana saja. Internet menawarkan jutaan manfaat. Namun, tak dapat dipungkiri internet menyimpan jutaan risiko bila penggunanya tidak selektif memilih informasi. Sebuah video di TikTok membuat heboh masyarakat karena dalam video tersebut seseorang yang mengaku sebagai Ustadz Prof. DR. dr Yuwono M.Biomed menyampaikan bahwa vaksin COVID-19 tidak akan bekerja secara efektif dalam tubuh orang yang memiliki komorbid atau penyakit bawaan. Ia juga menyebutkan bahwa herd immunity atau kekebalan kelompok hanya butuh 40-60% orang yang divaksin. Gara gara video ini, orang menjadi tidak yakin vaksin covid untuk siapa…

Apakah pernyataan tersebut benar? Lalu, apa sebenarnya herd immunity itu? Berdasar laman website WHO (World Health Organization),  herd immunity atau kekebalan kelompok merupakan suatu konsep yang sering muncul dalam proses imunisasi. Menurut teori, suatu kelompok/populasi dapat menangkal diri dari virus jika ambang cakupan populasi sudah mendapat imunisasi di tingkat tertentu. Lalu, berapa persen populasi masyarakat Indonesia yang harus mendapat vaksin Covid-19? Apakah yang dikatakan oleh dr Yuwono sudah tepat yaitu di kisaran 40-60%? Menurut Dicky Budiman, seorang Epidemiolog dari Universitas Griffith, untuk membentuk herd immunity maka minimal 80% populasi Indonesia harus mendapat vaksin. Jadi sebenarnya vaksin covid untuk siapa saja karena kita masih mengejar angka 80 persen tersebut.

WHOpun Masih Berjuang…

Menariknya, pihak WHO juga saat ini masih dalam proses terus mempelajari hipotesa tersebut. WHO masih mempelajari kekebalan terhadap Covid-19 dan belum bisa memastikan seberapa kuat atau seberapa tahannya respon imun karena adanya perbedaan respon imun satu orang dengan orang lainnya. WHO juga mendalami apakah ada hubungan antara kekuatan dan lama respons imun dan jenis infeksi yang seseorang alami. Pihak WHO juga mengatakan bahwa “Sebelum kita lebih memahami kekebalan COVID-19, tidak mungkin untuk kita mengetahui berapa banyak penduduk yang kebal dan seberapa lama kekebalan tersebut bertahan, apalagi memprediksi masa depan.”

 

Selain itu, dr Yuwono juga mengklaim bahwa beberapa orang yang telah mendapat vaksin ternyata malah masuk ICU. Sebenarnya kasus tersebut bukan terjadi di Indonesia melainkan di Amerika Serikat. Kasus tersebut ternyata hanya menimpa orang-orang dengan alergi parah. Reaksi tubuh mereka saat menerima suntikan vaksin ternyata di luar dugaaan. Dengan adanya kasus tersebut, para ahli kesehatan memperingatkan orang-orang dengan alergi parah untuk menghindari suntikan vaksin ini. Kembali lagi ke klaim  dr Yuwono, kita belajar bahwa pemberitaan yang belum teruji semacam itulah yang mengubah cara pandang orang terkait vaksin. Menjadi perhatian bersama jika akhirnya hal ini membuat orang ragu bahkan tidak mau untuk mendapat vaksin. Padahal ya, vaksin itu untuk siapa saja, tapi kalau memang ada gangguan kesehatan seperti alergi ya monggo melapor.

 

Oleh sebab itu, pesan untuk para netizen, alangkah baiknya jika kita bijak untuk memilah dan membagikan informasi.

Upaya Pemerintah

Menanggapi video tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika memberikan suatu klarifikasi bahwa informasi yang menyebutkan bahwa vaksin tidak bisa efektif kepada orang berpenyakit adalah merupakan suatu disinformasi. Pihak KOMINFO memberikan penjelasan yang men-highlight surat edaran nomor HK.02.02/I/368/2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 pada Kelompok Sasaran Lansia, Komorbid dan Penyintas Covid-19, serta Sasaran Tunda yang telah mendapat verifikasi Kementerian Kesehatan RI.

 

Dikutip dari merdeka.com, surat edaran tersebut telah mendapat persetujuan pada Kamis (11/2) oleh Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu.

Dalam surat edaran tersebut sudah tercantum beberapa ketentuan khusus pelaksanaan vaksin yang menjadi pedoman dan ketentuan dalam pelaksanaan vaksinasi bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi kelompok Lansia (orang lanjut usia), Komorbid, dan penyintas Covid-19 (orang yang pernah terpapar virus corona atau pasien positif Covid-19 yang telah berhasil sembuh dari penyakitnya).

Garis Besar Ketentuan Vaksinasi

Berdasarkan surat edaran tersebut, ada beberapa garis besar ketentuan vaksinasi:

  1. Bagi kelompok Lansia

Kelompok usia 60 tahun ke atas akan menerima dua dosis dengan interval pemberian 28 hari (0 dan 28).

  1. Bagi kelompok Komorbid

Sementara untuk kelompok Komorbid, dalam hal ini Hipertensi, dapat menerima vaksinasi kecuali jika tekanan darahnya di atas 180/110 MmHg. Untuk pengukuran tekanan darah sebaiknya mereka lakukan tepat sebelum menerima vaksin.

Selanjutnya, Kelompok komorbid diabetes bisa menerima vaksin sepanjang belum ada komplikasi akut. Bagi kelompok komorbid penyintas kanker dapat tetap menerima vaksin. Selain itu penyintas Covid-19, dapat menerima vaksin jika sudah lebih dari 3 bulan. Begitupun ibu menyusui dapat juga boleh menerima vaksin.

 

Pesan

Ketentuan dari pemerintah sudah jelas. Inilah saat yang tepat untuk membuktikan harmonisasi kerja antara pemerintah dan masyarakat. Mungkin ada yang takut mendapat vaksin karena takut nanti kejadian apa, ini, itu. Memang ada kemungkinan beberapa efek seperti demam bisa terjadi, tetapi coba pikirkan, apabila kita vaksin kita bisa berkorban sedikit untuk melindungi banyak orang, enggak cuma untuk diri sendiri.

 

Kesadaran bahwa vaksinasi merupakan bagian dari perbuatan baik dan upaya melindungi sesama merupakan suatu motivasi yang dapat kita gunakan untuk memperoleh penguatan dan menghilangkan keraguan untuk divaksin.

Baca juga artikel kami lainnya mengenai pandemi korona:

Corona di Jepang, Cerita dari anak negeri

Kantor memaksakan WFO, Apakah Mati Rasa?

De-Globalisasi Hari ini Bukan Karena Korona

Sumber gambar: Thirdman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here