Waktu Baca: 4 menit

Tergerak untuk mempopulerkan Zero Waste Living, gadis ini memulai usaha dengan brand Morning Vale. Seperti apa kisahnya?

Gaya hidup Zero Waste Living mungkin masih terasa asing di kalangan masyarakat Indonesia. Sebagai penjelasan, Zero Waste Living merupakan gabungan dua kata yaitu “zero” dan “waste”. Di dalam bahasa Inggris, gabungan kedua kata itu berarti nihil sampah. Model lifestyle ini menjadi salah satu gaya hidup yang saat ini sedang gencar menjadi andalan para penggerak atau aktivis lingkungan. Pola hidup Zero Waste Living memaksimalkan penggunaan barang-barang dan bahan-bahan yang menghasilkan sampah dalam jumlah minim. Model Zero Waste menjadi sebuah gaya hidup baru yang menarik di kalangan masyarakat luas. Kira-kira kalian udah tau belum sih tentang Zero Waste Living? Kalau belum, yuk simak ulasannya!

Zero Waste Living itu apa sih?

Pola hidup minim sampah atau Zero Waste Living menjadi satu tantangan tersendiri bagi beberapa orang. Kebiasaan mengkonsumsi bahan-bahan secara berlebihan serta memakai barang sekali pakai tentu sudah menjadi kebiasaan bagi kebanyakan orang.

Dalam sehari, pemakaian barang sekali pakai seperti tisu, plastik, kertas, hingga sampah rumah tangga sudah menjadi kebiasaan. Tentu saja hal ini menimbulkan masalah bagi keberlangsungan (sustainability) bumi. Melihat hal ini, konsentrasi untuk mengurangi pemakaian bahan berlebih dan barang sekali pakai, terutama untuk barang-barang yang susah terurai harus dikurangi secara maksimal. Terinspirasi dari hal ini, Anis Resti Fauzi atau yang akrab disapa Inis lalu memulai usaha dengan brand Morning Vale.

Apa Itu Morning Vale?

“Morning Vale itu artinya pagi hari, jadi harapannya usaha ini bakal bawa rezeki buat kita semua di pagi hari,” ujar Inis. Bergerak di bidang Zero Waste Living tentu menjadi satu tantangan yang menjadi masalalah bags Inis. Bagaimana tidak, masih banyak sekali masyarakat yang masih sulit untuk memulai pola hidup minim sampah.

Morning Vale sendiri merupakan salah satu usaha online yang menjajakan barang-barang re-usable (bisa dipakai lagi) hingga kebutuhan pribadi seperti deodorant, lip balm, sabun, shampoo yang terbuat dari bahan-bahan natural. Penggunaan bahan-bahan natural tentu bukan tanpa alasan. Inis memilih bahan-bahan natural yang ramah lingkungan untuk kemudian Inis ubah untuk menjadi produk final yang kandungannya tidak kalah dengan produk berbahan kimia.

“Dengan berminim sampah, maka polusi juga akan berkurang dikit demi sedikit, kita maupun bumi juga akan bernafas lebih leluasa. Lingkungan adalah tempat tinggal kita juga serta habitat mahluk hidup lainnya. Banyak manfaat dari segi kesehatan, finasial dalam hidup berminim sampah,” ujar Inis menambahkan.

Membangun Citra Minim Sampah

Mengelola bisnis tentu tidak mudah. Tentunya, setiap usaha yang kita lakukan pasti membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Dalam perjalanannya, dengan Morning Vale, Inis mengaku bahwa masih sering menemui kesulitan dalam hal personal branding.

“Menurut aku, untuk bangun personal branding itu butuh konsistensi dan juga skill yang mendukung,” ujar Inis. Membangun citra suatu brand/merk dibutuhkan jaminan khusus yang dapat diciptakan melalui orisinilitas dan kualitas satu produk tertentu. Setelah melalui uji kualitas, nantinya produk tersebut masih akan melalui tahap pengujian lagi di pasar atau target market yang bersangkutan hingga memperoleh kredibilitas/kepercayaan dari para konsumen.

“Tentunya personal branding itu gak hanya sebatas apa yang kita tampilkan di feeds Instagram ya, tapi juga berkaitan dengan kualitas dan keunikan tertentu dari produk yang kita buat,” ungkap Inis. Selain mengutamakan kualitas produk, Inis juga mengaku bahwa Ia berusaha untuk membangun pola hidup minim sampah dengan harga yang terjangkau.

Produk yang ia jajakan pun sudah diberi porsi masing-masing agar sesuai dengan kantong setiap konsumennya. Namun, hal ini tentu tidak menjadi suatu alasan bagi Inis untuk berhenti begitu saja. Baginya, Morning Vale merupakan salah satu medium untuknya membagikan pola hidup minim sampah, yang nantinya perlahan dapat mengubah pola hidup masyarakat yang masih kurang sadar akan sampah. 

Inis, Morning Vale, dan Upaya Merawat Bumi

Terlepas dari hal hal menyenangkan yang ia alami. Sebuah bisnis tentunya tidak akan seimbang tanpa adanya kritik atau masukkan.

“Senengnya tuh karena bisa menyalurkan hobi jadi sebuah pekerjaan. Tapi, balik lagi ya, yang namanya bisnis pasti juga ada dukanya. Dukanya itu kalau kadang dapet produk cacat dari supplier jadi lumayan susah diolahnya, belum lagi kalau harganya naik,” ujar Inis.

Menurutnya, hal-hal kecil seperti ini hanyalah batu loncatan yang lumrah terjadi di kalangan pebisnis atau pelaku usaha. Diapun tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang terpenting adalah bisnisnya mampu sustain dan mempromosikan gaya hidup sehat. Tidak hanya membawa keuntungan, namun bisnisnya mampu menjadi berkah bagi sesama.

Menggunakan Platform Online

Menelisik lebih jauh, penggunaan media sosial dan marketplace seperti Shopee dan Tokopedia juga merupakan suatu perkembangan di dunia jual beli. Inispun memanfaatkan hal tersebut juga. Ia ingin seperti pelaku usaha lain yang memanfaatkan kesempatan tersebut. Maka dari itulah, ia juga menjajakan produknya lewat berbagai platform e-commerce dengan tujuan memperluas bisnisnya.

Untuk platform, Inis memilih apps seperti Shopee dan Tokopedia. Namun, Inis mengalami kekecewaan karena setiap produk yang terjual di marketplace harus terpotong biaya admin sebesar 2-5% yang menjadi beban penjual.

“Seneng sih bisa memperluas target market, tapi biaya adminnya itu mahal banget, jadi mau gamau harus naikin harga deh.” ujar Inis dengan kesal.

Biarpun begitu, Inis tidak patah semangat untuk terus berkarya dan mengajak masyarakat untuk memulai pola hidup minim sampah. Kedepannya Inis berharap bahwa kelak Morning Vale akan menjadi bulkstore yang bisa membantu petani lokal serta bisa memberi lapangan pekerjaan untuk orang-orang yang membutuhkan.

“Pengen banget bisa lebih dikenal masyarakat yang lebih luas, bisa menambah jumlah produk, dan juga semoga masyarakat bisa lebih peduli dengan bumi, karena bumi itu kan sumber urip (sumber penghuripan).” tutup Inis.

Penulis: Maria Devaneira

Narasumber: Anis Resti Fauzi (Inis)

Baca juga kisah para penggerak perubahan lainnya:

Cerita mengenai Tim Kubur Cepat Jenazah Coronoa

Adela Goenardi dan Seni tehnya : Sebuah Cerita

Susu Ketan Cumlaude, Alternatif Minuman Segar Kekinian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here