5 Keajaiban Penanganan Pandemi di Indonesia

1
36
Waktu Baca: 2 menit

PPKM level 4 untuk episode keempat akan berakhir besok. Akankah PPKM ini diperpanjang? Tebakan saya sih, ya. Meski angka pertambahan kasus harian untuk catatan hari Minggu 15 Agustus sudah di angka 20ribuan, tetapi angka itu sebetulnya bagian dari 5 keajaiban penanganan pandemi di Indonesia. Saya lebih suka menyebut ajaib ketimbang aneh, supaya kita punya perspektif yang agak positif, meski kondisi riilnya sama saja. Berikut adalah keajaiban penanganan pandemi di Indonesia.

Penurunan Angka Pertambahan Kasus Harian

Coba deh amati data yang sudah lalu-lalu. Setiap kali pemerintah mau mengumumkan perpanjangan PPKM, sehari sebelumnya angka kasus positif berkurang dari biasanya. Positivitiy rate nya sih boleh dikata stabil dibanding hari-hari sebelumnya. Sehari setelah diumumkan perpanjangan PPKM, angkanya akan naik lagi, kembali ke rerata harian seperti sebelumnya. Buat orang statistika sih, utak atik angka itu bukan perkara sulit.

Menghapus Angka Kematian dari Indikator Penilaian PPKM

Ketika negara-negara lain tetap memperhatikan angka kematian, nah orang kita melakukan sebaliknya. Angka kematian diabaikan. Alasannya sih karena pelaporan kasus kematian seringkali tidak valid. Yah, kalo bicara soal validitas, yang invalid nggak cuma angka kematian. Angka pertambahan kasus juga invalid. Toh nggak semua orang yang terkonfirmasi positif lantas melaporkan diri ke layanan kesehatan pemerintah. Banyak yang tidak tercatat. Tapi ya itulah, ajaib. Kalo mau disebut berhasil, lifehack nya adalah dengan meniadakan indikator kegagalannya.

Menjadikan Vaksinasi sebagai prasyarat berbagai aktivitas

Ada wacana bahwa orang harus menunjukkan kartu vaksinasi untuk kepentingan perjalanan dan akses ruang publik. Padahal situasi di negeri kita ini jauh lebih banyak orang yang belum divaksin ketimbang yang udah divaksin. Yang udah terima vaksin lengkap 2 kali baru sekitar 10 persen jumlah penduduk. Ini masih jauh dari target 75% penduduk divaksin. Nggak heran kalo kemudian muncul kartu vaksin abal-abal. Orang berebutan mendapat akses vaksin. Yang kena sial adalah mereka yang nggak bisa divaksin karena faktor kesehatan. Okelah bisa pakai surat keterangan dokter, tapi masak iya kemana-mana menenteng surat dokter?

Memasang Stiker penanda rumah yang penghuninya belum divaksinasi

Ini keunikan juga. Saya nggak habis thinking dengan gagasan ini. Secara psikologis, penghuni rumah bisa kena mental. Ada 3 alasan kenapa warga tidak divaksin. Pertama, karena faktor kesehatan, entah karena habis dihajar covid, atau punya penyakit bawaan. Kedua, warga pengen vaksinasi tapi nggak dapat akses untuk terima vaksin. Ketiga, warga itu memang masuk golongan antivaksin. Untuk alasan pertama dan kedua, bayangkan saja efeknya. Tidak ada kebanggaan apapun dari tempelan stiker di depan rumah. Yang ada malah cemas dan gelisah. Kalo untuk alasan ketiga sih ya terserah lah.

Pengen meningkatkan angka tracing kasus, tapi swab masih mahal

Beberapa negara yang kasus positifnya relatif tinggi juga mewajibkan warganya untuk ikut tracing dengan swab. Metodenya bisa antigen ataupun PCR. Tapi kewajiban itu diikuti dengan biaya swab yang murah, atau bahkan gratis kayak di Inggris. Lah di negeri kita beda ceritanya. Biaya swab antigen bisa tembus harga 300 ribu sekali swab. Biaya swab PCR bisa tembus harga 1 juta sekali swab. Harga yang tinggi ini bikin orang berat hati untuk merogoh kocek sendiri demi tracing mandiri. Yaa kalo pengen tracingnya banyak, mestinya akses swab mudah dan murah.

Penanganan pandemi memang diakui sulit. Belum ada satu pun negara yang benar-benar berhasil menangani pandemi. Bahkan negara-negara maju yang fasilitas kesehatannya memadai pun juga belum beres ngurusi pandemi. Maka Indonesia tidak perlu berkecil hati soal kesulitan dan kegagalan yang dialami.

Nah, itulah 5 keajaiban penanganan pandemi di Indonesia. Kamu boleh menambahkan daftarnya sendiri.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini