Waktu Baca: 2 menit

Kota Surabaya biasa dikenal dengan sebutan Kota Pahlawan. Kota ini merupakan ibukota Provinsi Jawa Timur dan juga merupakan kota terbesar kedua setelah Jakarta. Sebagai kota metropolitan, Surabaya memiliki segudang gejolak layaknya ibukota Jakarta. Dari perspektif orang luar Surabaya, kota ini terkenal dengan berbagai stereotipe-stereotipe yang menjadi keunikan tersendiri. Berikut adalah 5 stereotipe tentang kota Surabaya antara kata versus fakta.

#1 Orang Surabaya sering ngomong kasar

Katanya…
Orang Surabaya terkenal suka ngomong kasar. Bahkan, pisuhan atau kata kasar dalam bahasa Jawa orang Surabaya terkenal yang paling kasar dibandingkan bahasa Jawa dari daerah lain. Kata-kata kasar seperti jancok atau cok sudah menjadi makanan sehari-hari orang Surabaya.

Faktanya…
Memang orang Surabaya sering berkata kasar atau misuh. Namun dalam lingkungan arek-arek Suroboyo, misuh tidak selalu bermakna kasar. Bahkan, misuh telah menjadi gaya bahasa tersendiri yang menandakan keakraban.

Baca juga : Kala Aksen Diketawain

#2 Biaya hidup di Surabaya mahal

Katanya…
Surabaya sebagai kota besar kedua setelah Jakarta menjadi salah satu penopang ekonomi yang sangat berpengaruh di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan biaya hidup untuk tinggal di kota Surabaya sangatlah tinggi.

Faktanya…
Biaya hidup di Surabaya memang mahal jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Namun hal tersebut sebanding dengan besaran upah minimum atau UMR kota Surabaya yang cukup besar, bahkan terbesar ke-2 setelah Jakarta.

#3 Kota Surabaya sangat panas

Katanya…
Barangkali memang sudah menjadi ciri sebuah kota besar pasti panas. Hal ini cukup masuk akal jika dibandingkan dengan pedesaan yang masih rimbun dan tidak banyak pembangungan. Selain itu, kota Surabaya terletak di pesisir pantai utara Jawa, jauh dari dataran tinggi dengan udara yang sejuk.

Faktanya
Meskipun kota Surabaya panas, namun hal tersebut diimbangi dengan banyaknya pepohonan yang tertanam di sepanjang jalan. Kota Surabaya memiliki 7000 hektar ruang terbuka hijau (RTH) atau sekitar 21% dari luas total wilayahnya. Selain itu, Kota Surabaya juga memiliki 500-an lebih taman kota yang tersebar di berbagai penjuru.

Dengan demikian, meskipun suhu rata-rata kota Surabaya cukup tinggi, kita tidak akan merasa kepanasan di berjalan keliling kota.

#4 Macet di mana-mana

Katanya…
Surabaya sering macet. Sebagai kota dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Indonesia, kota Surabaya memiliki tingkat mobilitas warga yang cukup tinggi. Hal tersebut mengakibatkan jalanan di Surabaya sering macet berkepanjangan.

Faktanya…
Meskipun tingkat dan jumlah penduduk yang sangat tinggi, faktanya tingkat kemacetan di Surabaya belum tergolong yang sangat parah seperti di Jakarta. Hal ini disebabkan jalanan Surabaya yang luas sehingga mengakomodasi tingginya volume kendaraan. Selain itu, moda transportasi umum juga terus digalakkan oleh pemerintah kota Surabaya sebagai upaya untuk mengurangi kemacetan.

#5 Suporter bola di Surabaya bar-bar

Katanya…
Suporter bola di kota Surabaya terkenal sangat fanatik, bar-bar, sering membuat keonaran di manapun klubnya bermain. Bahkan, kita bisa menjadi sasaran kekerasan jika menggunakan kendaraan dengan plat nomor yang berasal dari daerah musuh mereka.

Faktanya
Kekerasan dalam dunia suporter sepak bola tidak hanya terjadi di Surabaya, tetapi di seluruh kota. Tetapi kini itu semua sudah menjadi sejarah kelam, tidak untuk diulang namun diambil hikmahnya. Kini suporter bola di Surabaya relatif lebih kondusif dibandingkan di masa lalu. Kita bisa merasa aman meskipun menggunakan plat nomor kendaraan dari luar daerah Surabaya.

_____

Itulah 5 stereotipe tentang kota Surabaya berdasar pengalaman saya 19 tahun tinggal di kota Surabaya. Namun, terlepas dari pro dan kontra tentang kota Surabaya, saya berani mengatakan bahwa kota Surabaya adalah tempat tinggal yang nggak buruk-buruk amat, kok!

(Barin Panduarta)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini