Waktu Baca: 3 menit

Kayaknya sepele sekali ya membicarakan bahasa di generasi 4.0. Padahal kenyataannya gak sesepele itu. Isu bahasa menjadi salah satu masalah sentral dalam generasi 4.0. Bahasa, terutama bahasa daerah atau bahasa lokal merupakan identitas kebudayaan dan juga jati diri bangsa. Banyak ungkapan dalam bahasa daerah yang tidak bisa diterjemahkan ke bahasa Inggris lainnya. Coba, memang ada padanan kata mingklik mingklik dalam bahasa Inggris? Karena itulah, miris sekali ketika pendidikan bahasa daerah malah terpinggirkan di generasi 4.0. Yang ada, pendidikan bahasa asing seperti Inggris dan Mandarin jauh lebih diutamakan.

Padahal belajar bahasa daerah itu penting dan bahkan sangat relevan dengan generasi 4.0. Lho kok bisa?

Kebutuhan Budaya, Bukan Bisnis! Tapi…

Ya, generasi 4.0 adalah generasi yang haus akan ilmu pengetahuan praktis seperti bisnis misalnya. Bahasa daerah serasa tidak komersial bagi generasi 4.0 Padahal, ibarat tanaman, bahasa daerah adalah akar identitas. Jika seseorang tidak menguasai bahasa daerahnya, ia ibarat menjadi produk saja, tidak memiliki identitas. Ia tidak ada bedanya dengan orang orang lain. Maka dari itu, ironisnya seseorang malah kehilangan nilai uniknya sekaligus nilai pasarnya.

Sementara itu, jika seseorang menghargai akar budayanya, ia bisa menjadi pribadi unik dan memiliki daya kompetisi tinggi. Contoh saja keunikan Agnez Mo yang membawa nilai nilai Indonesia di tengah industri musik Amerika Serikat. Identitas Indonesianya membuat ia mempunyai nilai unik dan berbeda di tengah ketatnya kompetisi di sana.

Contoh lain adalah munculnya CEO CEO teknologi digital yang berasal dari India seperti Satya Nadella dan Sundar Pijai. Mereka adalah sosok modern, tapi membawa keunikan budaya kerja keras dan pragmatis ala India yang membuat perusahaan multi nasional merasakan manfaatnya.

Bahasa Daerah Adalah Kekayaan Yang Harus Disimpan

Bahasa daerah merupakan alat komunikasi sekaligus alat warisan. Dengan bahasa daerah, maka banyak ilmu, falsafah dan pengetahuan yang bisa diturunkan ke generasi berikutnya. Maka dari itu, mempelajari bahasa daerah sama dengan menyimpan kekayaan otentik yang berumur ratusan tahun. Jika seseorang berhenti mempelajari bahasa daerah, maka alur warisan itu terancam berhenti. Akan banyak ilmu, falsafah dan pengetahuan yang hilang.

Generasi 4.0 harus menyadari bahwa bahasa daerah tidak bisa dianggap sebagai hal kuno dan berseberangan dengan kemajuan teknologi. Justru sebaliknya, bahasa daerah adalah bagian integral dari revolusi 4.0. Akan banyak inspirasi lahir jika kaum muda melestarikan budaya dan bahasa daerah mereka masing masing.

 Pertukaran Kekayaan

Akan jauh lebih baik lagi, jika kaum muda juga saling mempelajari bahasa daerah dari teman teman mereka. Mempelajari bahasa tidak ada ruginya. Dengan belajar bahasa baru, kita akan mengerti suatu kebudayaan bahkan peradaban. Bahkan, kita bisa melakukan komparasi mengenai berbagai topik. Hal ini menjadikan kita sebagai manusia fleksibel dan mudah menjawab tantangan.

Tidak kita sadari misalnya, jika kita benar benar menghayati falsafah Jawa maka kita akan belajar banyak pengetahuan mengenai resolusi konflik ala orang Jawa. Ya, konon sejak Jaman Majapahit, orang Jawa biasa belajar bagaimana menyelesaikan konflik tingkat tinggi. Ilmu ini bisa berguna di perusahaan besar dan rawan miskomunikasi.

Belajar Bahasa Daerah Juga Memahami Orang Lain

Konon katanya mempelajari bahasa daerah juga membuat kita belajar memahami orang lain. Saya pernah penasaran dengan budaya orang NTT. Pelan pelan saya mempelajari bahasa daerah mereka yang sering mereka sebut sebagai bahasa Kupang. Perlahan, saya tiba tiba memahami bagaimana laku hidup, budaya dan karakter mereka. Termasuk di dalamnya juga ada filosofi filosofi kehidupan yang menarik. Ya, selain pertukaran kekayaan, kita juga bisa memahami orang lain dengan lebih baik. Di perusahaan perusahaan besar, kemampuan memahami budaya budaya yang berbeda adalah nilai plus.

Ya begitulah, akhirnya belajar bahasa daerah sendiri maupun orang lain tidak ada ruginya. Belajar bahasa daerah untuk generasi 4.0 tidak ada ruginya dan malah membawa banyak keuntungan.

Baca juga artikel kami mengenai cross-culture lainnya:

Sama Sama Tiong Hoa, Tapi Sin Gek Banyak Memberi Inspirasi

Brooklyn Nine-Nine Adalah Obat Duka

Saya Orang Indonesia Saja

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini