Waktu Baca: 2 menit

Bolehlah kita katakan bahwa bulan Agustus ini prime time kita buat belajar sejarah.  Waktu kecil, saya pernah baca komik tentang masa kolonial Belanda di Nusantara. Ada satu subliminal message yang waktu itu saya tangkap. Muncul persepsi bahwa simbah-simbah kita dulu adalah orang-orang pemalas. Subliminal message yang sama juga saya dapatkan dari proses sekolah bertahun-tahun. Kesannya, kita kalah rajin dengan bangsa Eropa atau bangsa Tiongkok. Barangkali Anda pun juga punya ingatan kolektif yang sama soal ini. Benarkah Indonesia adalah bangsa pemalas?

Secara singkat opini saya adalah tidak. Bangsa kita bukan bangsa pemalas. Saya menemukan kronik-kronik sejarah berikut ini.

Baca juga : Review Film De Oost, sebuah permainan sudut pandang

Nenek Moyangku Seorang Pelaut

Kita tidak usah perdebatkan siapa yang gemar melaut, apakah kakek atau nenek. Meski sekarang kita jarang menemukan perempuan yang menjadi nelayan, tapi patut kita akui lirik lagu itu tadi. Moyang kita adalah penjelajah yang rutenya bisa antar benua. Sebut saja orang-orang Bugis dengan kapal-kapal Phinisi nya. Ada pula kapal layar bercadik dua yang terekam dalam relief candi Borobudur. Di wilayah Papua, orang Biak terkenal sebagai penjelajah yang ulung. Tidak ada ceritanya pelaut atau nelayan itu berjiwa pemalas. Kalo malas, nggak bakal bisa makan deh. Bukan hanya rajin, mereka juga berani. Lautan di wilayah Nusantara kan terkenal dengan gelombang tinggi dan cuaca yang nggak jelas. Kalo mereka malas, mending work from home aja.

Persepsi Malas dari Orang Eropa

Saya dapat kisah ini dari seorang rekan yang studi ilmu sejarah. Soal kebenarannya, saya nggak tahu. Tapi cukup menarik untuk dikaji. Alkisah di pagi hari sekitar jam 09.00, orang-orang Belanda baru mulai keluar rumah untuk bekerja. Ketika melewati permukiman orang pribumi, yang mereka lihat adalah orang yang santai-santai di depan teras rumah. Sruput teh hangat, bersiul-siul bersama burung piaraan yang dijemur di depan rumah. Sungguh selow sekali hidup mereka.

Masalahnya, orang Eropa nggak tahu bahwa simbah kita udah bangun jam 4 pagi buat ke sawah dan ladang. Ya, pagi-pagi buta simbah kita udah sibuk ngatur pengairan sawah, lalu sekitar jam 7 pagi kembali ke rumah buat santai sebentar. Nantinya jam 10 pagi kembali ke sawah untuk memantau hama burung atau membersihkan rerumputan. Singkatnya, jam kerja orang Eropa dan orang kita berbeda. Nah, orang Eropa yang nggak tahu konteks kultur lalau menganggap bahwa orang kita itu pemalas. Pagi-pagi nggak produktif. Tapi sekali lagi, ini masih konon katanya. belum tentu benar.

Sistem Kebut Semalam menjelang 17 Agustus 1945

Di berbagai literatur sejarah kita tahu bahwa di bulan Agustus 1945 para tokoh politik di Jakarta lagi ribut soal kemerdekaan. Bangsa yang mau merdeka itu punya 2 pilihan cara. Satu, diberi hak kemerdekaan dari kolonial. Dua, memproklamasikan kemerdekaan sendiri. Ternyata founding fathers kita memilih cara yang kedua, yang jelas merepotkan dan risiko besar. Pilihan semacam itu tak mungkin diambil oleh mereka-mereka yang pemalas. Bicara soal perjuangan seputar tahun-tahun pertama kemerdekaan kita, nggak ada ceritanya orang kita malas-malasan. Semua mau bersusah payah dengan cara masing-masing.

So, benarkah Indonesia adalah bangsa pemalas? Enggak lah. Bahkan untuk pekerjaan haram macam maling aja juga menunjukkan sikap rajin kok. Yaa, rajin memantau dan mengidentifikasi aktivitas harian calon korban.  Tapi kalo hari ini kita melihat masyarakat kita cara kerjanya semau gue, itu hal lain. Orang-orang kita itu sebetulnya rajin. Cuma masalahnya sikap rajin itu tidak terstruktur dan tidak terarah. Sikap rajinnya untuk kepentingan perut masing-masing. Kita rajin itu masih tergantung mood aja. Kalo itu menguntungkan untuk diri kita, ya kita akan menunjukkan kerja keras. Tapi kalo enggak menguntungkan, ya peduli amat.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini