Waktu Baca: 4 menit

Youtuber, Gita Savitri sempat menyebut bahwa ia menjalani gaya hidup Childfree. Artinya dia tidak ingin dan tidak mau berusaha memiliki anak. Seketika pernyataannya membuat Indonesia kaget. Isu Childfree Style memanas. Kenapa ya kok bisa sampai segitunya?

Saya pun merasa resah dan mencoba untuk mengupas tuntas pembahasan ini. Tentu untuk membahas hal seperti ini kita memerlukan opini dari berbagai sudut pandang. Maka dari itu, saya mewawancarai beberapa teman dan kerabat untuk memberikan pandangannya soal ini.

Apa Itu Childfree Style

Childfree style adalah gaya hidup yang menjadi trend pasangan menikah. Intinya, mereka menikah tapi tidak ingin memiliki anak. Gaya hidup seperti ini sudah lama keberadaannya sejak dulu namun isu Childfree Style baru saja memanas akhir akhir ini. Jujur, memilih untuk tidak memiliki anak tentu ada banyak alasan, misalnya kondisi finansial, belum siap secara mental, psikologis serta memang sebal saja dengan yang namanya anak anak.

Gaya hidup ini menimbulkan banyak pandangan yang berbeda – beda untuk masyarakat. Umumnya seseorang menikah karena ingin memiliki keturunan. Apabila gaya hidup ini kita nilai secara umum, maka banyak hal – hal yang bertentangan. Bahkan kalau kita mau bicara dari segi agama, beberapa agama tidak menyetujui hal ini karena anak adalah anugerah Sang Pencipta. Namun, sepertinya di zaman modern seperti ini memang banyak hal terjadi yang kadang selalu bertentangan dengan nilai nilai agama.

Alasan Seseorang Memilih Tidak Memiliki Anak

Saya sudah melakukan wawancara terhadap pasangan suami istri dan wanita karir yang memang memutuskan untuk tidak memiliki anak. Pendapat mereka sedikit banyak membuat saya terkejut, seperti misalnya :

“ Karena tante adalah wanita karir, jadi tante memilih untuk tidak memiliki anak. Tante khawatir kalau punya anak malah ditelantarkan, karena tante terlalu fokus dan cinta sama karir tante saat ini. “

“ Aku kan nikah muda, jadi kayak belum siap mental gitu. Lagian juga kondisi finansial keluarga nggak mencukupi kalau punya anak. Ngurusnya pasti capek, belum juga tanggung jawab sebagai orang tua itu besar banget.”

 “ Gue kan baru mau nikah nih, tapi gue dan calon suami gue sudah memutuskan untuk tidak memiliki anak. Kita lebih mau memaknai kehidupan berdua aja. Cukup kebahagiaan gue dan dia. Simpelnya begitu. “

Tentu saja keputusan seperti itu tidak mudah untuk diterima oleh orang – orang sekitar. Bahkan keputusan yang mereka ambil bisa menimbulkan perselisihan dalam keluarga. Kalau kita melihat dari kacamata agama, keputusan itu bisa jadi salah. Jangankan agama, masyarakat pun akan menilai hal tersebut sangat tidak wajar.

Pendapat Masyarakat Tentang Childfree Style

Ketika kita bicara soal pendapat, maka kita harus bisa melihatnya dari berbagai sisi. Disini saya sudah mengumpulkan pendapat – pendapat orang mengenai childfree style yang memanas diskusinya. Kurang lebih pendapatnya seperti ini :

“ Gue nggak setuju sih sama childfree style ini. Apapun itu alasannya, tapi mereka terkesan kayak bakal jadi lebih ribet kalo ada anak. Sedangkan orang diluar sana banyak banget loh yang berharap bisa punya anak. Toh mereka menikah bukan hanya untuk kebahagiaan berdua aja. Terus juga, kita kan butuh generasi penerus. Kalau menerapkan hal ini, bakalan makin dikit dong atau bahkan ngga ada penerusnya. Gue sih berharapnya pemikiran untuk childfree style ini nggak akan dianggap wajar. “

“ Menurut gue sah – sah aja kok. Gue punya fakta bahwa kondisi bumi kita sekarang ini udah hampir nggak kuat untuk menampung populasi yang jumlahnya terus bertambah. Kalau ada childfree style ini seenggaknya bisa mengurangi peningkatan populasi. Kedua, mereka punya trauma tersendiri dan akhirnya memutuskan untuk nggak punya anak. Misal, dulu dia kena abusive dari orang tuanya. Pengalaman kaya gitu bisa memunculkan trauma karena takut nantinya dia nggak bisa mendidik anaknya dengan baik. Ketiga, dari segi medis emang salah satunya ada yang mandul atau penyakit tertentu dan akhirnya nggak bisa punya anak. Jadi overall wajar – wajar aja menurut gue.”

“ Gue kurang setuju sih kalo memutuskan tidak memiliki anak. Yang ada tuh menunda kehamilan. Karena gue percaya bahwa jadi orang tua itu emang berat banget. Butuh tanggung jawab dan kesabaran yang besar banget dalam mendidik anak. Lebih tepat untuk menunda kehamilan sampai benar- benar siap untuk menjadi orang tua. “

“ Gue nggak setuju sama sekali. Beberapa agama tidak memperbolehkan hal itu. Hal kayak gitu juga menyalahi kodrat sih kalo menurut gue. Menjadi orang tua kan udah amanah dan kalau lu udah menikah, lu mau nggak mau harus melangkah maju untuk menjadi orang tua. “

 Cukup mengejutkan pendapatnya, tapi mampu membuat kita untuk berpikir lebih jauh mengenai hal tersebut.

Kesimpulannya Boleh atau Nggak ?

Saya membaca komentar – komentar netizen yang terus mempertanyakan “boleh atau nggak” mengenai gaya hidup ini. Kalau menurut saya pribadi, saya tidak akan mempermasalahkan boleh atau nggak nya. Tetapi lebih kepada alasan atau kepentingan seseorang untuk memutuskan tidak memiliki anak. Contohnya, jika ada orang memutuskan untuk tidak memiliki anak hanya karena ingin hidup berdua dengan suaminya, saya akan tidak setuju.

Terdengar egois di telinga saya ketika seseorang mempertaruhkan sesuatu hanya karena keinginannya sendiri. Mungkin akan lebih baik kalau mereka mengadopsi anak yang terlantar dan memberikan mereka perawatan yang lebih. Akan lebih berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Terlepas dari semua itu, saya menghargai keputusan yang sudah diambil seseorang. Selagi tidak merugikan orang sekitar, kenapa saya harus mempermasalahkan keputusannya ? Saya yakin, mereka sudah secara matang memikirkan keputusan itu. Lagipula, saya tidak punya hak untuk mengatur atau mengubah keputusan seseorang dalam hidupnya. Menurut mereka baik, ya silahkan saja. Tapi tetap jangan gegabah dan egois, karena akan berujung pada keputusan yang tidak adil.

Seringkali kita suka mencampuri urusan yang bukan jadi urusan kita. Menegur itu baik, tetapi ada batasnya. Kita hanya bisa sekedar memberi saran atau nasihat sebagai bentuk kepedulian kita terhadap mereka. Terlalu ikut campur dalam sebuah hubungan rumah tangga juga tidak baik. Yuk, kita sama – sama belajar dan mencoba untuk menghargai keputusan orang lain !

Baca juga kisah orang orang menikah lainnya:
Nikah emang mahal! Pembelaan Dari Saya

Menikah di Kala Pandemi

Fresh Graduate Ditanya Kapan Nikah : “Kami Masih Cari Kerja!”

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini