Close Friend Issue dan Siapa yang Layak Dijadikan Teman

Waktu Baca: 3 menit

Ketika melongok kasus video instastory Adhisty Zara, saya tidak tertarik membahas soal relasi Zara dan Niko Al Hakim. Bagi saya persoalannya bukan pada apa konten video itu. Yang menarik justru issue close friend dan siapa yang layak dijadikan teman.

Soal konten video Zara, bagi saya sih bukan persoalan besar. Di jaman ini sepasang kekasih yang bermesraan makin lumrah terjadi. Kalo orang publish aktivitas pribadinya, itu juga sudah jamak dilakukan. Dalam hal ini saya kesampingkan dulu isu moralitas seksual. Saya juga kesampingkan perkara motivasi Zara upload video. Sekalipun Instagram sebagai media sosial sudah menjadi ruang publik, namun tetap saja ada aspek privasi di situ.

Close Friend

Video berciuman itu diunggah oleh Zara di akun kedua (cadangan) di Instagram, bukan di akun utama. Itu pun ia jadikan konten story yang hanya bisa dilihat oleh close friend. Kalo kemudian video itu tersebar ke publik, bagi saya justru yang bermasalah adalah orang-orang yang masuk di close friend itu. Bukankah semestinya close friend itu diharapkan bisa menjaga rahasia dan menjaga nama baik kita? Jika dia jadi pribadi yang bocor nan ember, yang tidak bisa jaga rahasia, lantas untuk apa dianggap sebagai sahabat dekat ?

Tempo hari ada seorang mahasiswa tingkat satu yang curhat pada saya soal pertemanan. Ia merasakan betapa oportunisnya sikap teman-temannya di kampus.  Ia hanya dihubungi oleh teman ketika ada perlunya saja.  Dia berpikir bahwa idealnya dia punya sahabat dekat di konteks perkuliahan dan bisa diajak bersenang-senang dalam segala hal.

Pertemanan yang Transaksional

Saya malah berpikir sebaliknya. Makin kita beranjak dewasa, pertemanan kita memang makin transaksional. Tak ada teman yang bisa benar-benar dekat dan memuaskan bagi kita dalam segala konteks kehidupan. Sangat mungkin kita punya beberapa sahabat yang mereka tidak saling kenal satu sama lain. Kita menjadikan mereka sahabat untuk konteks yang berlainan. Ada yang hanya urusan hobi, ada yang hanya urusan kuliah, ada yang hanya urusan kedekatan domisili, ada yang hanya urusan kegiatan keagamaan, dsb.

Ketika kita bertemu sahabat pun pasti ada alasan jelas. Kalau pun bertemu hanya karena gabut, setidaknya ada bahan perbincangan yang sudah dipersiapkan. Justru rasanya annoying ketika orang datang untuk sesuatu kepentingan yang tidak jelas. Itu hanya akan buang-buang waktu.

Tahun demi tahun kita berganti sahabat pun sebetulnya hal yang wajar. Perubahan close friend itu biasa ! Meninggalkan sahabat tidak selalu karena ada skandal, ganjalan masalah, atau pertengkaran. Bisa jadi alasan kita untuk meninggalkan sahabat yaa karena kita sudah tidak memiliki kepentingan mendesak dengannya. Tetapi tidak ada kaitan dengan rasa benci. Saya kira kalo kita mengevaluasi persahabatan itu baik, agar kita bisa mewaspadai toxic relationship.

Toxic Relationship dalam persahabatan

Tidak menutup kemungkinan persahabatan justru jadi racun bagi hidup kita. Taruhlah misal ketika kawan kita tidak mendukung ikhtiar kita untuk mencari pekerjaan layak. Ini bisa terjadi karena dia merasa kehilangan teman nongkrong setelah kita masuk dunia kerja. Ada pula teman yang meremehkan studi, sehingga tidak peduli dengan proses studi kita. Mau kuliah 4 tahun atau 7 tahun, tidak masalah. yang penting hidup itu bahagia. Itu prinsip fatal. Toxic relationship juga bisa terjadi ketika kawan kita memberikan saran-saran atas hidup kita, tetapi ia tidak mau bertanggung jawab kalo hidup kita kacau gegara saran itu. Ada pula teman yang secara terang-terangan memanfaatkan kekayaan dan ketenaran kita. Biasanya untuk hal semacam ini tidak muncul ucapan terima kasih atas bantuan kita.

Siapa yang layak dijadikan teman? 

Kembali pada issue close friend siapa yang layak dijadikan teman ? Menurut saya, yang layak menjadi teman adalah mereka yang sungguh-sungguh bisa kita percaya. Mereka yang punya ikhtiar untuk menjaga situasi demi kebaikan kita. Mereka yang tidak ingin hidup kita gagal. Tetapi ini semua bisa berlaku dalam konteks orang dewasa. Mau dibilang oportunis atau pragmatis dalam pertemanan, tidak masalah. Kenyataannya pun pragmatisme memang perlu dalam relasi pertemanan.

Benny Pudyastanto
Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisment

TERKINI