Waktu Baca: 3 menit

Baru-baru ini, Teuku Adifitrian atau yang akrab disapa Tompi merilis film berjudul Selesai. Film yang tayang pada 13 Agustus yang lalu itu dibintangi oleh Gading Marten (Broto), Ariel Tatum (Ayu) dan Anya Geraldine (Anya). Film bernuansa gloomy ini tentunya membuat heboh para penikmat film Indonesia karena pemeran pemerannya yang sedang naik daun (bahkan naik karpet terbang sebenarnya). Namun, banyak juga dari warganet yang merasa bahwa film Selesai ini menggambarkan perspektif-perspektif yang cenderung bernuansa sexist . Lantas, seperti apakah sih sebenarnya? Benarkah Film Selesai terlalu erat dengan isu seksisme?

 

Awal Mulanya…

Film Selesai ini bercerita tentang sepasang suami istri bernama Broto (Gading Marten) dan Ayu (Ariel Tatum). Rumah tangga mereka mendapat masalah. Padahal, situasi di luar sedang tidak baik baik saja karena pandemi. Karena itulah, mereka benar benar kesulitan memperjuangkan hubungan mereka di tengah pandemi Covid-19.

Mengangkat tema yang sederhana, Tompi berhasil menggambarkan suasana kehidupan pasutri muda dalam menghadapi pandemi Covid-19. Seiring berjalannya waktu, permasalahan pun muncul. Semua berawal dari perselingkuhan yang dilakukan oleh Broto (Gading Marten) dan Anya (Anya Geraldine) hingga kebohongan-kebohongan lain yang perlahan-lahan terungkap.

Alur konflik diawali dengan adegan Ayu yang menemukan pakaian dalam seorang wanita di mobil Broto. Konflik ini pun berkembang menjadi rumit karena Broto mengaku tidak pernah menjumpai barang tersebut sebelumnya. Ayu yang sudah merasa kesal kemudian memutuskan untuk bercerai dengan Broto. Namun, ternyata nasib tidak mau memisahkan mereka.

Pada detik-detik Ayu akan pergi meninggalkan rumah, Ibu dari Broto tiba-tiba datang dan memutuskan untuk tinggal bersama mereka berdua karena lokasi sekitar rumahnya sedang di lockdown. Hal ini tentu secara tidak langsung membuat rencana Ayu yang tadinya akan pergi meninggalkan rumah tidak terlaksana. Ia memutuskan untuk tetap bertahan di rumah bersama suaminya, Broto. Meski demikian, mereka tetap sering bertengkar.

Perdebatan Menjadi Inti Film

Dalam mengangkat isu perselingkuhan ini, tentu banyak hal yang akan menjadi pro dan kontra. Perselingkuhan jelas sesuatu yang buruk. Namun, seringkali ada pembenaran karena masalah finansial dan psikologis.

Menjalin hubungan di tengah situasi pandemi seperti ini memang sangat riskan. Mental benar benar teruji. Perasaan takut, posesif, obsesif, hingga bosan dengan pasangan tentu akan menjadi pemicu tiap masalah dalam kehidupan berkeluarga. Tak terkecuali, Ayu dan Broto yang seakan-akan buntu dalam menemukan solusi terbaik untuk mereka berdua selain bercerai atau memutuskan hubungan.

Film Selesai dan Isu Seksisme: Apa Benar?

Selain ramai menjadi buah bibir karena isu perselingkuhan, film Selesai juga ramai menjadi bahan pembicaraan warganet karena alur cerita yang cenderung sexist. Seperti yang sudah kita ketahui, sexist merupakan salah satu tindakan yang memojokkan, mendiskriminasi, atau stereotyping gender tertentu.

Dalam film Selesai, beberapa orang merasa bahwa film ini cenderung memojokkan peran perempuan, mendiskriminasi perempuan dan membuat stigma perempuan menjadi lebih rendah daripada laki-laki.

Misalnya saja konflik perselingkuhan yang melibatkan Broto dan Ayu. Perselingkuhan ini seolah terlihat sebagai sesuatu yang subjektif karena seolah hanya satu pihak yang rugi. Lebih dari itu, peran Anya Geraldine sebagai wanita simpanan seolah hanya hadir begitu saja. ini secara tidak langsung menganggap perempuan hanya sebagai objek bukan subjek. Tidak ada penggalian mendalam mengapa Anya mau menjadi yang kedua. 

Namun, dari kacamata saya sebagai penonton, film ini tidak salah sepenuhnya meski penyajiannya kurang tepat. Bagi saya film ini tidak memojokkan perempuan. Memang, rasa rasanya hanya satu tokoh yang mendapat penggalian mendalam. Akan tetapi, karakter yang menjadi pusat ternyata memiliki masalah mental tersendiri. Artinya, ini tidak melulu soal masalah wanita saja, ini juga menyangkut masalah kesehatan mental. Mungkin inilah pesan yang ingin Tompi sampaikan namun sayangnya kurang mendapat porsi yang tepat sehingga kesannya satu dimensi saja dan memojokkan kaum perempuan.

Kesimpulan Akhir

Kesimpulannya, setiap pemikiran dan opini yang penonton yakini tidak ada yang salah. Menjadi salah apabila kita memaksakan umum untuk mempercayai opini dengan dalih yang paling benar. Perdebatan film Selesai dan isu seksisme tidak akan ada habisnya sehingga lebih baik tak perlu terlalu menjadi perdebatan.

 Lagi, saya yakin Tompi sebagai sutradara hanya ingin menyampaikan keresahannya pada kesehatan mental masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Penggambaran skenario lewat karakter suami istri juga menjadi refleksi kita bersama. Sangat penting menjaga kesehatan menjaga kesehatan mental diri sendiri dan orang di sekitar kita.

Walaupun review di Twitter banyak yang bilang kurang bagus, saya tidak setuju. Menurut saya film ini layak ditonton! Tapi, jangan gegabah berpendapat di sosial media, ya!

Baca juga review film Indonesia terpuji Lainnya :
Affliction, Aman Tapi Tidak Buruk

Melukis Masa Depan, Bukan Hantu

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini