Hit and Run Waktu Shopping? Baca ini dulu, deh!

0
289
Waktu Baca: 3 menit

Buat kamu yang suka belanja online, pasti udah gak asing dengan istilah Hit and Run. Hit and Run ini akrab di kalangan para pengusaha online atau owner bisnis berbasis media sosial. Hit and run ini biasanya menjadi bulan-bulanan para owner onlineshop karena sikapnya yang kurang sopan dan cenderung merugikan seller (penjual). Ngaku nih, siapa diantara kalian yang masih suka hit and run waktu shopping? Yuk baca ulasan di bawah!

Hit and Run dari Kacamata Penjual: Nyebelin!

Tentu bagi para owner online shop, hit and run merupakan salah satu hal yang paling dihindari ketika mulai menjalankan usaha. Bagi beberapa orang yang kurang familiar, hit and run atau yang biasa juga disebut PHP adalah sikap lari dari tanggung jawab setelah pembeli mengirimkan format order (pemesanan) pada penjual. Dalam beberapa kasus, pelaku hit and run ini biasanya tidak melakukan pembayaran yang seharusnya diselesaikan. Dalih yang digunakan pun bisa beragam saat hit and run waktu shopping.

Mulai dari kata-kata “yah, ternyata uangnya gak cukup kak” hingga “maaf, gakjadi beli kak” ataupun “kasih yang lain aja kak, ternyata gak boleh sama mama,”. Hal ini tak jarang membuat para penjual naik pitam. Pasalnya, semua hal pasti sudah dicantumkan secara detil oleh pihak penjual, seharusnya dari pihak pembeli pun memahami hal tersebut. Belum lagi dalih salah ukuran atau ukuran yang kurang pas. Padahal segala informasi mengenai produk yang dijual pun sudah tertera secara lengkap di sosial media ataupun lapak para penjual.

Baca juga : Thrifting dan Perspektif Masyarakat: Barang Bekas Kok Mahal Sih?

Demi meminimalisir bertambahnya pelaku Hit and Run, beberapa penjual kemudian menerapkan sistem block atau blacklist untuk oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab ini. Sistem blacklist ini diterapkan hampir di semua penjual online dengan basis media sosial, karena lebih mudah untuk di-tracking. Mekanisme sistem blacklist ini nantinya akan berlaku otomatis pada oknum-oknum yang melakukan Hit and Run dengan memasukkan nama-nama oknum pada list blacklist dan tidak memprioritaskan orang tersebut kedepannya. Sehingga, para oknum Hit and Run ini tidak akan dilayani lagi oleh para penjual yang sudah mem-blacklist nama dan nomor hp mereka. Hayo, hati-hati ya yang suka hit and run!

Problematika Sistem Blacklist: Kan Gak Sengaja, Kak!

Eksistensi sistem blacklist ini pun tidak terlepas dari pro dan kontra netizen. Banyak dari mereka yang setuju dengan adanya sistem blacklist, namun tidak sedikit juga yang merasa dirugikan atau tidak setuju. Beberapa netizen juga mengaku bahwa mungkin hit and run ini dilakukan secara tidak sengaja oleh oknum yang bersangkutan. Lebih lagi, mereka merasa bahwa hit and run hanyalah sebuah kesalahan kecil yang dilakukan oleh customer kepada pihak seller (penjual). Tidak bisa dipungkiri bahwa sistem blacklist ini juga secara tidak langsung berpengaruh pada penjualan seller.

Baca juga : Kain Polkadot dan Temanthrifty: Sebuah Perjalanan dan Cita-Cita

Problematika yang dirasakan oleh pembeli pun tidak berhenti pada waktu mereka di-blacklist oleh penjual/seller. Namun, ketika penjual/seller tersebut mengunggah identitas pelaku hit and run ke media sosial, dengan konteks untuk menyebarkan awareness pada penjual lain terhadap nama dan nomor pelaku hit and run waktu shopping. Hal ini tentu menjadi perdebatan di media sosial mengingat data yang disebarkan adalah data-data penting oknum hit and run yang bisa disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Sampai saat ini, sistem blacklist yang diterapkan beberapa penjual masih menjadi polemik netizen dan para customer, apalagi untuk para penjual yang tidak segan-segan untuk mengungkap identitas pelaku hit and run di media sosial.

Lalu harus bagaimana?

Satu-satunya solusi yang bisa dilakukan adalah dengan menjadi pembeli yang bertanggungjawab. Bertanggungjawab berarti paham akan konsekuensi dan hal-hal yang harus dikorbankan, termasuk mengorbankan uang. Apabila sudah memutuskan untuk mengisi format pemesanan, maka konsekuensi selanjutnya adalah bertanggung jawab untuk melakukan pembayaran. 

“Kalau ternyata uangnya kepake buat yang lain gimana kak?” 

Nah, kalau kasusnya kaya kalimat yang di atas ini, artinya kamu harus menahan diri untuk tidak menggunakan uang untuk sesuatu yang kurang penting. Alokasi atau pembagian porsi yang tepat, serta penerapan prioritas pada pemenuhan kebutuhan juga perlu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti, hit and run.

Sederhananya, kalau gak yakin punya cukup uang/dana untuk membeli, ya gak usah! Lebih baik menahan daripada mengorbankan nama baik, lho. Apalagi, jejak digital itu gak akan bisa hilang. Once you made mistake, people will remember you as one mistake rather than hundred of your goods. Nah, gimana nih yang masih sering Hit and Run? Awas lho, nanti kapok!

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini