Waktu Baca: 2 menit

Hanya dalam waktu beberapa bulan setelah meraih Scudetto, Internazionale Milan harus menelan pil pahit. Yang pertama, mereka kehilangan sosok pelatih bermental juara, Antonio Conte. Conte memutuskan meninggalkan Inter karena Suning selaku perusahaan induk Inter berencana menjual pemain pemain top Inter untuk mengamankan kondisi finansial tim yang berjuluk La Beneamata itu. Conte jelas terkejut karena sebenarnya ia berencana untuk membangun Inter sebagai kekuatan Eropa. Sekarang, Inter malah harus berhemat dan ndlosor. Sebenarnya ada apa dengan Inter? Masalah apa yang mereka miliki? Apakah benar Internazionale bangkrut karena salah pilih pemilik? Berikut beberapa pembenaran hipotesa bahwa Internazionale bangkrut karena salah pilih pemilik.

Bisnis Yang Beresiko

Berbeda dengan Qatar yang menjadi kaya karena investasi gas alam, Suning selaku perusahaan induk Internazionale berjibaku di bisnis retail. Di kala pandemi, penjualan di sektor bisnis retail tidak terlalu bagus.

Mau pandemi atau tidak, orang masih membutuhkan gas alam. Maka dari itulah Qatar Sport Investment Group tetap mampu membiayai tim bertabur bintang, Paris Saint Germain. Sebaliknya, Suning yang bisnisnya tidak ajeg harus merasakan dampak pandemi dengan menyedihkan. Interpun merasakan akibatnya.

Padahal, saat Inter masih menjadi milik Masimo Moratti yang bergerak di bidang minyak bumi, keuangan Inter relatif aman selama bertahun tahun.

Memang Tidak Pandai Berhitung

Jangan percaya stereotype bahwa orang Tionghoa pasti jago berhitung. Lihat saja Suning, mereka berhasil membangkrutkan klub sekelas Internazionale karena salah hitung dalam melakukan investasi. Mungkin mereka bisa ngeles dengan mengatakan bahwa kejadian salah hitung mereka sedikit banyak karena pandemi. Tapi, nyatanya, klub mereka di Tiongkok, Jiangsu Suning juga bangkrut setelah investasi besar besaran. Kayaknya emang mereka aja yang gak jago berhitung.

Yah, pada akhirnya Suning sering melepaskan uang dengan tidak bijak dan berakhir nahas.

Politik Tiongkok

Tiongkok sebagai negara satu partai harusnya stabil, betul begitu? Namun kenyataannya, dalam Partai Komunis Cina, banyak faksi faksi saling berhadapan. Nah, kini mereka kembali dengan kebijakan untuk melarang investasi di luar Tiongkok kecuali untuk sektor essensial. Cilakanya, sepakbola tidak termasuk di dalamnya. Alhasil, meski punya uang sekalipun, Suning tidak bisa membail out tim Nerazzuri karena terhambat politik dalam negeri.

Kondisi terkini, politik Tiongkok disinyalir memanas karena krisis ekonomi akibat pandemi. Apa gak makin mengkhawatirkan nasib Internazionale?

Jual Inter ke Siapa?

Suning bukannya tidak berusaha. Namun, mereka belum menemukan orang yang ingin membeli Inter. Padahal, Inter adalah klub top Eropa dengan tiga gelar Liga Champions serta sederet Scudetto. Meski sering dianggap masih hidup di bawah bayang bayang Juventus dan AC Milan, Inter bukan tidak punya nilai. Si Ular Besar memiliki basis penggemar yang luar biasa, jadi kenapa masih susah menemukan sosok yang ingin membeli Inter?

Jelas, pandemi menjadi salah satu penyebabnya. Namun, selain pandemi, struktur manajemen Inter yang memang gak yahud membuat banyak investor malas menginvestasikan uang mereka di klub ini. Mereka khawatir uang mereka ambles dan gak menghasilkan apa apa. Jika sudah begini, jelas muncul kekhawatiran besar. Apakah Inter bisa turun kasta? Toh, banyak klub Italia mengalami turun kasta karena gagal memperbaiki masalah finansial mereka.

Masalahnya, Inter bukan sekedar klub besar. Mereka bersejarah dan ada di catatan kejayaan sepakbola Italia lewat Helenio Herrera dan Catenaccionya. Mudah mudahan, Inter gak sampai hancur.

Jadi apakah Internazionale bangkrut karena salah pilih pemilik? Nampaknya demikian.

Baca juga kisah bal bal an lainnya:

Tiki Taka Arsenal Bakal Sempurna

Marc Cucurella Si Spesialis Kiri Lapangan

Richarlison, Gacor Tapi Belum Memikat

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini