Waktu Baca: 4 menit

Ketika Jepang lolos ke Piala Dunia 1998, banyak yang menilai Jepang sekedar numpang lewat. Kayaknya, negara Asia Timur tidak bisa deh menjaga prestasi sepak bola seperti halnya negara Timur Tengah macam Arab Saudi atau Iran. Namun perlahan, Jepang berbenah. Pada 2002, akhirnya Jepang berhasil mencapai babak knock-out di bawah tangan dingin pelatih Philippe Troussier. Setelah itu Jepang rutin tampil di Piala Dunia sampai kemudian masuk babak knock out  lagi pada jaman Akira Nishino. Kala itu mereka ‘cuma’ kalah dengan skor 3-2 dari tim generasi emas Belgia. Nah, di Olimpiade ini, Jepang berhasil menembus semifinal dengan membantai tim kuat seperti Perancis. Melihat permainan Samurai Biru di Olimpiade, tak usah kaget kalau Jepang bisa juara dunia dalam waktu dekat.

Apa alasannya? Ini beberapa analisa saya.

Sudah Menemukan Gaya

Jepang kini bukan lagi tim tanpa ide dan mencari cari gaya bermain. Mereka sudah menemukan gaya yang nyaman untuk mereka. Jika tim lain masih ‘kepengen’ mencontek Tiki Taka Spanyol atau Blitzkriegnya Jerman, Jepang nyaman dengan permainan counter attack yang mengandalkan kecepatan.

Ya, untuk urusan skill individu, Jepang mungkin masih belum di level yang sama dengan tim tim Amerika Selatan dan Eropa. Namun, kecepatan mereka luar biasa. Lihat saja pada permainan Jepang lawan Spanyol semalam. Jepang berkali kali mengancam dengan kecepatannya lewat Reon Hatate dan penyerang, Daizen Maeda. Mereka tidak canggung beradu sprint dengan bintang Eropa macam Jesus Vallejo dan Eric Garcia. Bahkan, jelang berakhirnya babak kedua, pemain Spanyol sampai terpaksa menarik kaus pemain Jepang. Hal ini menunjukkan Jepang bisa bertahan dengan baik dan menyerang secara cepat dan efektif.

Punya Sosok Pemimpin

Jepang Bisa Juara Dunia

Semalam Maya Yoshida benar benar menunjukkan kelasnya. Ia berkali kali melakukan penyelamatan krusial meski beresiko tinggi. Ketenangannya dalam menghadapi badai serangan Spanyol membuatnya patut mendapat apresiasi. Ketenangan Maya Yoshida ini berpengaruh pada junior juniornya yang bertahan man to man marking dengan tenang saat melawan Spanyol.

Setelah era Maya Yoshida, masih ada pemimpin lain yang segera mekar. Siapa lagi kalau bukan Takefusa Kubo yang matang di usia muda. Real Madrid pantas galau melihat Kubo yang terus menunjukkan kelasnya selama Olimpiade ini. Di klub yang tepat, Kubo bisa berkembang dan memberi dampak masif. Tak usah kaget kalau Jepang bisa juara dunia kalau Kubo berada di top form dan mental yang tepat.

Jika Jepang bisa terus berhasil memunculkan sosok pemimpin, mereka bisa menghadapi berbagai tantangan.

 

Pemain Pembeda

Sundulan Daizen Maeda nyaris mengoyak gawang Unai Simon di babak perpanjangan waktu. Ya, Daizen yang awalnya merupakan pemain cadangan ini menunjukkan bahwa ia bisa begitu decisive. Sekilas permainan Daizen mengingatkan pada Michael Owen di masa kejayaannya. Ia tidak terlalu tinggi, namun ia cepat. Ia tahu kapan harus berlari dan melakukan penyelesaian baik melalui placing shot atau bahkan sundulan. Daizen perlu banyak menimba ilmu tapi ia punya potensi. Di Olimpiade ini, ia bisa mencetak gol meski waktu bermainnya sedikit. Ia sangat menentukan. Selain Daizen, Hatate yang berani melakukan dribble melewati bek kelas dunia Spanyol juga layak mendapat apresiasi.

Selain itu juga masih ada Kubo yang mampu menentukan hasil pertandingan dengan skillnya. Pendek kata, ketika banyak jalan sudah buntu, Jepang memiliki pemain yang bisa mendadak merubah hasil pertandingan. Ini bisa sangat membantu dalam berbagai kondisi.

Dengan adanya pemain senior yang juga menentukan seperti Takumi Minamino dan Shoya Nakajima, Jepang bisa berharap banyak.

Kenyang Pengalaman

Jepang Bisa Juara Dunia

Jika dulu ada nama Hidetoshi Nakata dan Shunsuke Nakamura sebagai pemain Jepang yang bermain di Eropa, kini banyak pemain Jepang berkarir di tanah Eropa. Ini berarti banyak pemain Jepang yang mendapat pengalaman berharga untuk dibawa ke timnasnya. Memang, belum banyak yang bisa menembus klub elit Eropa. Akan tetapi, bakat seperti Kubo dan Ritsu Doan terlihat percaya diri. Jika mereka bersungguh sungguh, mungkin mereka akan ada di level Son Heung Min sebagai pemain Asia terbaik saat ini.

Punya Federasi Yang Supportif

Ketika liga tetangga seperti Liga Super China bermasalah dengan suap dan sistem finansial yang buruk, tim J1 berjalan dengan sehat. Mereka tetap berprestasi tanpa harus jor-joran. Federasi Sepakbola Jepang menjaga sistem yang sehat. Bahkan, mereka memiliki kompetisi tingkat SMA yang bergengsi. Kalau sistem mereka tidak sehat, bagaimana mungkin tim sekelas Arsenal berani mengambil Ryo Miyaichi dari kompetisi SMA di Jepang? Pemain di Jepang benar benar berada di iklim yang tepat untuk berkembang maksimal. Saat ini mereka masih memiliki masalah sedikit di fisik dan pengalaman. Namun, dengan konsistensi dukungan dari federasi sepak bola yang sehat, apa sih yang tidak mungkin?

Jepang Butuh Keberuntungan

Pada akhirnya, Jepang bisa juara dunia setelah penampilan heroik di Olimpiade. Namun mereka masih butuh keberuntungan dan menguatkan sistem pertahanan mereka yang harus solid sampai ke tingkat tingkat individu. Tidak hanya itu saja, mereka juga perlu berharap banyak lahirnya generasi emas seperti halnya Belgia. Ya, bagaimanapun talenta harus lahir secara alami, tidak bisa dipaksakan. Tak usah berkecil hati Jepang, jika sistemnya sudah tepat, bibit emas akan berkembang juga pada akhirnya.

Baca juga kisah bal bal an lainnya:

Richarlison, Gacor Tapi Belum Memikat

Marc Cucurella si Spesialis Kiri Lapangan

Tiki Taka Arsenal Bakal Lengkap?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here