Kak dan Bung dalam Layanan Publik Kita

Waktu Baca: 2 menit

“Selamat datang di Indom*aret, kak. Selamat berbelanja.”
Kalimat itu jadi prosedur operasional standar untuk menyambut kedatangan konsumen di minimarket. Entah Bung konsumen mau window shopping, belanja banyak, ambil uang di mesin ATM, atau bahkan sekadar ngadem di dalam, salamnya sama. Ini rutinitas yang biasa saja. Tetapi kali ini saya dapat makna baru dari rutinitas itu, gegara ingat bahwa ini pertengahan bulan Agustus. Saya dapat inspirasi soal sebutan kak dan bung dalam layanan publik kita.

Dalam rentang seminggu, hari Pramuka dirayakan, hari kemerdekaan republik kita pun dirayakan. Saya jadi berpikir, kenapa panggilan Kakak bisa jadi bahasa sapaan dalam transaksi jaman ini? Seingat saya waktu kecil dulu, panggilan Kakak itu hanya ada di lingkup pramuka dan lingkup film silat.

Lucu juga sih, ada Kak Suparti, Kak Bardono, Kak Muhtar, Kak Supangat. Meski panggilannya Kak, tapi mereka semua adalah guru-guru senior yang udah mau pensiun. Pantesnya sih dipanggil Mbah Bardono, Mbah Muhtar, Mbah Parti. Tapi ya itulah kode etiknya Pramuka. Sementara di perguruan silat, panggilan kakak dipakai untuk menyebut anggota perguruan yang lebih duluan belajar. Kakak pertama, kakak kedua, kakak Angin Timur, kakak Chung, dan seterusnya.

Kalo soal diksi alias pilihan kata, orang menyebut kakak mungkin karena ogah menyebut Mas dan Mbak yang dianggap terlalu nuansa Jawa. Di kawasan Indonesia timur, sebutan kakak itu lumrah untuk menggantikan kata Mas dan Mbak. Kaka dokter, kaka Yakub, kaka Yakomina, dan sebagainya. Mungkin juga orang malu menyebut mas dan mbak, karena kuatir bahasanya medok, atau dianggap ndeso.

Baca juga : Review Film De Oost

Nah, kembali lagi ke pengalaman di minimarket. Saya bangga mendengar para pramuniaga yang bersemangat pramuka itu. Semua konsumen dipanggil Kak, tanpa memandang usia dan gender. Semangat yang sama juga saya temukan di resto cepat saji, kafe, atau layanan chat untuk belanja online. Belakangan beberapa CS di layanan publlik juga menggunakan diksi Kak.

Saya sih hanya membayangkan, bagaimana kalo kata Bung kembali kita pakai untuk transaksi sehari-hari? Kayaknya kok asyik, ya? Tapi memang kendalanya panggilan Bung tidak bisa diterapkan untuk perempuan. Aneh kalau ada Bung Silvi, Bung Sekar, Bung Clarissa, atau Bung Vania. Hanya satu perempuan yang cocok dengan panggilan bung : Bung Acitra Lestari. Untuk perempuan, panggilan yang nadanya setara dengan Bung adalah Zus.

“Selamat datang, Bung. Mau take away atau makan di tempat?” 
“Maaf Bung, untuk paket promonya sedang kosong. Mau ganti menuapa, Bung?”
“Terima kasih, Bung. Selamat berbelanja kembali.”

Kalo sapaan Bung kita terapkan di percakapan bisnis jaman ini, mungkin rasanya jadi seperti jaman perjuangan. Tapi memang sebutan Bung itu membawa nuansa positif dan semangat. Bung biasanya kita ucapkan dengan nafas yang semangat. Aneh kalau Bung kita ucapkan dengan rasa terkantuk-kantuk, atau malas-malasan. Sebutan Bung juga layak kita ucapkan untuk orang dari suku bangsa manapun. Ini sebutan yang lintas budaya.

Sebutan Bung itu setara dengan kamerad dalam Revolusi Rusia, atau Citizen dalam Revolusi Perancis. Bung ini berasal dari kosakata Betawi ‘abang’ yang artinya kakak. Cuma bedanya, Comrade alias Kamerad bisa untuk laki-laki maupun perempuan. Sementara kalo Bung pasangannya adalah Zus, dari kata ‘Zuster’ yang artinya kakak perempuan.

Ya ini sekadar angan-angan saja, andaikata Kak dan Bung ada dalam percakapan layanan publik kita. Tapi ini nggak ada kaitannya dengan keinginan Bu Megawati untuk mempopulerkan kembali kata Bung.

Benny Pudyastanto
Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisment

TERKINI