Waktu Baca: 3 menit

Humam Rosyid adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas di Semarang. Jurusan yang ia ambil adalah pendidikan sekolah dasar. Dari jenis jurusannya, jelas sekali kemana ia akan bekerja setelah lulus kuliah. Iapun juga tak menampik bahwa tujuan akhirnya memang menjadi guru. “Ayah guru, ibu guru, ya mereka kepengen sekali saya meneruskan jejak mereka,” kata Humam. Namun, karena suatu peluang, iapun memutuskan agak banting setir. Meski tidak meninggalkan bangku kuliah dan cita citanya, ia mencoba mulai berbisnis. Si guru mendadak menjadi barista dengan brand Antique Coffee.

kisah-antique-coffee
Humam Rosyid dan kopinya
Berawal Dari Pembukaan Rest Area KM 260B

Humam beruntung karena di kampung halamannya, Brebes, baru saja dibuka Rest Area KM 260B. Rest area ini bukan rest area biasa karena didirikan di bekas pabrik gula dan didesain sangat instagramable. Banyak orang berhenti di rest area ini bukan karena kecapekan dalam perjalanan, tapi karena ingin menikmati keunikan rest area ini sekaligus piknik terselubung.

kisah-antique-coffee

Ia lalu mendaftar untuk menjadi tenant di sana. Ternyata ia harus menunggu karena ada yang sudah mendaftar terlebih dahulu. Namun, keberuntungan tidak jauh jauh dari dirinya. Beberapa waktu seorang tenant lainnya mundur dan ia mendapatkan slot di Rest Area KM 260B.

Awalnya ia berpikir untuk membuka gerai telur asin karena telur asinlah yang menjadi ciri khas Brebes. Beberapa waktu setelahnya, ia merasa terusik. Ia merasa lebih punya latar sebagai penikmat dan pecinta kopi. Maka dari itulah ia memutuskan untuk berjualan kopi saja. Di sinilah petualangan guru mendadak barista dimulai.

Pilih Manual

Humam segera berbenah dan mendesain coffee shopnya dengan modal yang ada. Ia terinspirasi dengan kesan kuno dan vintage di Rest Area KM 260B. Makanya, ia memutuskan untuk membuat coffee shopnya bak museum dengan barang barang antik. Lahirlah kemudian Antique Coffee.

guru-mendadak-barista

Tidak hanya desain saja yang antik, ia juga memutuskan bahwa proses pembuatan kopinya juga harus beda dari coffee shop lain. Ia lalu mendesain semua proses harus menggunakan cara cara manual. Ia menghasilkan espresso dengan memakai rok presso maupun metode V60. Hal ini menjadikan kopinya otentik meski prosesnya jauh lebih sulit.

“Jujur saja, dengan metode manual, proses pembuatan menjadi lebih lama. Saya juga harus melakukan kalibrasi (proses pengecekan kualitas biji kopi) dengan lebih sering agar rasa kopinya tetap konsisten. Namun ya menurut saya proses ini menarik.”

Humam juga menambahkan, dengan proses manual, ia berharap pelanggan lebih menghargai proses pembuatan kopi yang ribet dan penuh lika liku.

 Menu Spesial

Tak ingin tampil sama, Humam juga mendesain menu spesial di Antique Coffee bernama Kopi Klepon. Kopi ini merupakan perpaduan espresso, susu, sirup pandan dan gula aren. Awalnya saya mengira si klepon bakal menjadi semacam boba di kopi tersebut. Nyatanya, bukan itu maksud si kopi klepon.

“Saya kepengen orang merasakan sensasi makan klepon saat menikmati kopi ini,” kata  Humam. “Saat meminumnya, ada perpaduan rasa yang ‘meledak’ seperti saat makan klepon.

Saat saya mencicipi kopi ini, memang kopi ini unik dan menyegarkan. Rasanya benar benar otentik dan tak mudah kita menemukannya di tempat lain.

Masa Depan Antique Coffee

Humam tentu punya banyak mimpi besar untuk Antique Coffee ini. Di samping itu, guru mendadak barista ini tetap tekun mengejar cita cita menjadi guru demi kedua orang tuanya sekaligus sebagai bentuk pengabdian. Bagi yang ingin mencicipi langsung keotentikan Antique Coffee, kamu bisa mampir saat melakukan perjalanan ke Jakarta via jalan tol. Ingat ya, lokasinya di Rest Area KM 260B.

Baca juga artikel artikel terkait kopi lainnya:
Jogja Menjadi Tuan Rumah Kopinya Piyu Yang Pertama

Menikmati Syahdunya Kopi Suroloyo

Marisni Coffee, Melepaskan Penat, Mendatangkan Nikmat

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini