Waktu Baca: 3 menit

Sebelum menikah, lelaki harus benar benar bercermin dan mengevaluasi diri secara benar benar terlebih dahulu. Berikut ini adalah beberapa pekerjaan rumah yang harus pria kerjakan sebelum ia memutuskan untuk menikah. Kalau lelaki mau menikah ya harus serius mengerjakan masalah masalah ini. Jangan sampai terbawa dalam masalah rumah tangga.

Kedewasaan Psikologis

Menurut saya, dalam memimpin seorang pria memerlukan kedewasaan psikologis dan juga kecerdasan intelektual. Hal ini penting supaya mereka dapat memetakan masalah, mendapatkan solusi yang tepat, dapat mengambil keputusan yang bijak dan memiliki sudut pandang dari segala sisi. Saat memimpin keluarganya juga mereka membutuhkan kemampuan berkomunikasi dengan baik dengan anggota keluarganya.

Makna “pelindung” dalam keluarga juga berbicara tentang memberikan rasa aman kepada istri dan anak anak. Saat seorang perempuan mengizinkan dirinya diperistri oleh seorang pria artinya dia sudah memberikan seluruh kehidupannya kepada suaminya, jadi sudah seharusnya seorang suami melindungi “miliknya”, karna saat trjadi permasalahan, atau situasi yg tidak menguntungkan bagi istri sudah tidak mempunyai tempat lain untuk berlindung selain suami. (Ga mungkin kan mau meminta perlindungan pd suami org).

Demikian juga kepada anak, bukannya untuk memanjakan anak, tetapi anak memerlukan tempat paling aman yaitu keluarga dan orangtuanya. Ketika menghadapi permasalahan dalam keluarga mungkin memerlukan orang lain untuk jadi tempat berkeluh kesah, tapi seharusnya seorang suami sbg pemimpin dan pelindung akan tetap memikirkan “keamanan” untuk anggota keluarganya.

Nafkah Itu Penting

Sebagai pencari nafkah, seorang suami sudah sepantasnya bekerja untuk memberikan penghidupan yang layak untuk keluarganya. Bahkan kalau tidak memutuskan menikah saja setiap orang wajib dan mampu menafkahi dirinya sendiri, apalagi jika memutuskan membangun keluarga tentu saja memikirkan nafkah untuk istri dan anak anak merupakan sebuah tanggung jawab (meskipun zaman skrg perempuan juga punya tanggung jawab yang sama dalam mencari nafkah).

Selain nafkah secara jasmani (makan, tempat tinggal, sekolah dsb) juga ada yang namanya nafkah batin, seorang suami wajib memikirkan kondisi kesehatan mental istri dan anak anak nya. Memikirkan kebahagiaan dan kenyamanan anggota keluarganya adalah penting. (Dlm hal ini tentu saja diperlukan kerjasama yg baik dgn stiap anggota keluarga).

Sebelum menjalani pernikahan sudah seharusnya pria dan pasangannya sama sama memahami hal ini. Jadi saya kurang setuju jika ada pihak pihak yang berkata “kasihan pria itu menanggung beban yang sangat berat”. Istri dan anak bukanlah beban, kalau beban untuk apa dulu ” diambil”  dan “diadakan” ???

Apa dampaknya jika anak kekurangan figur Ayah?

Lelaki mau menikah harus benar benar siap menjadi ayah. Kalau tidak siap, masalahnya akan sangat pelik.

Menurut pengalaman dan Pengamatan saya, kekurangan figur ayah bisa membuat anak perempuan jadi terburu buru dalam urusan percintaan, karena ia sangat mendambakan rasa aman dan perlindungan dari pasangan. Masalahnya, kalau terburu buru di usia masih belia kan menganggu konsentrasi belajar?  Belum lagi saat belia masih belum punya pemikiran yang matang, sehingga sangat rawan bagi kesehatan mental anak perempuan. Iya kalau yang mereka pacari orang yang tepat, kalau tidak? Bisa kita bayangkan efek taruma yang akan mempengaruhi kondisi psikologisnya di masa depan.

Saya membandingkan dengan kehidupan anak perempuan yang bertumbuh dalam keluarga harmonis, peran ayah dan ibu berjalan selaras, dia dapat dengan jelas mengetahui standar pria yang dia inginkan. Dia  akan mempunyai role model yaitu ayahnya, sehingga dia tidak mudah jatuh cinta. Dengan begitu lebih meminimalisir terjadinya patah hati, luka batin, trauma.

Kekurangan figur ayah pada anak laki laki membuatnya jadi laki laki yang kurang bertanggung jawab. Kenapa? Ya, ia telah melihat bagaimana ayahnya memperlakukan ibunya dan memperlakukan dirinya lalu menirunya secara tidak sadar. Saat ia punya pasangan, secara tidak sadar ia akan menerapkan hal yang sama.

Itu sebabnya menurut saya penting sekali melakukan konseling pra nikah, untuk mengetahui bagaimana latar belakang masing masing, dan apa yang harus mendapat pembenahan, demi memutus efek domino dari luka batin turun temurun.

Gambar oleh: Shawnee D

Baca juga :
Nikah Emang Mahal, Pembelaan Dari Saya

Menikah di Kala Pandemi, Sebuah Penelitian Random

Fresh Graduate Ditanya Kapan Nikah di tengah Pandemi : Kami Masih Cari Kerja!

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini