Waktu Baca: 3 menit

Pandemi mengubah cara orang bekerja dan berkegiatan. Dalam perubahan itu, ada masa transisi yang mengantar kita berpindah dari cara lama ke baru. Sebagai pengajar les piano, saya juga mengalami transisi perubahan. Sekilas, perubahan yang nampak sangatlah sederhana. Kelas tatap muka berubah menjadi dalam jaringan (daring). Jumpa di kelas pindah ke layar. Namun, di balik itu, ada banyak penyesuaian yang harus dikerjakan.

Kita menyadari pentingnya mengubah perilaku. Tapi bisa jadi kita belum sadar pentingnya transisi. Dalam sebuah perubahan, transisi sangat menentukan kontinuitas. Biasanya saat transisi perubahan tidak berjalan lancar, cara lama kembali berkuasa. Seperti orang ingin mengelola diet demi hidup sehat. Saat transisi membentuk habit makan dan olah raga tidak lancar, gaya hidup kurang sehat kembali meraja. Dalam konteks sekarang, les piano belum bisa kembali tatap muka. Transisi mandek bisa berujung pada cuti atau berhentinya kegiatan.

Perubahan kerap menimbulkan rasa tidak nyaman. Saya sempat bingung dan panik karena perubahan yang berlangsung cepat. Sempat merasa pekerjaan yang saya lakoni tidak penting karena fokus sebagian besar murid ada di sekolah formal. Les piano dilupakan. Saya lupa bahwa saat itu sekolah formal dan dunia pekerjaan pun sedang melakoni transisi perubahan besar-besaran.

Baca juga : Wajah Muram Siswa dan Kenyataan Yang Harus Dihadapi

Kita semua bingung harus melakukan apa. Juga lelah kehabisan tenaga. Di awal transisi, saya masih mengenakan pakaian rapi dan datang mengajar tepat waktu. Kewalahan menjalani transisi, saya berpakaian seenaknya, tidak mandi ataupun menyisir, dan kerap masuk kelas terlambat. Hidup berjalan cepat tapi stagnan. Nihil kemajuan.

Suatu malam, sambil mengunyah camilan, saya menerima sambungan telepon seorang teman. Usai basa-basi bertanya kabar, ia melempar kritik pedas. Ia bilang, kalau saya merasa pengajar les piano tidak penting, saya harus segera berhenti karena cuma membuang waktu dan uang murid. “Hidup dan pekerjaan, penting atau tidak, bermakna atau tidak, semua dibentuk oleh pikiranmu sendiri,” katanya. Tamparan keras yang belakangan saya syukuri. Saat itu sontak saya ingat pernah menulis mengajar les piano adalah pekerjaan terbaik yang pernah saya alami. This is the best job I’ve ever had. Okay, saya coba lakukan sesuatu.

Saya berangkat dari membangun urgensi. Kenapa les piano harus menggunakan metode yang baru? Juga, kenapa di saat pandemi les piano sebaiknya tetap berjalan? Urgensi saya komunikasikan dengan murid dan orang tua murid. Semua pihak yang ikut berperan harus memahami urgensi serupa. Kita berada di kapal yang sama, kawan!

Kedua, saya coba membangun kerja sama tim solid dengan murid dan orang tua murid. Perlu sekali agar semua saling mendukung dan bergerak ke arah yang sama. Contoh tentang membangun kebiasaan murid berlatih efektif di rumah. Orang tua murid membangun kebiasaan rutin berlatih, sementara pengajar memberikan cara berlatih yang efektif. Diskusi lewat pesan singkat dengan murid dan orang tua murid jadi lebih intens saya lakukan.

Baca juga : Eksklusif : Piyu Padi, Legenda Musik Yang Menjajal Bisnis Kuliner

Ketiga, mengelola hambatan yang kerap muncul. Tidak bisa disangkal ada banyak sekali hambatan yang sering muncul dalam masa transisi les piano. Kualitas sinyal internet, instrumen musik yang dimiliki, buku atau bahan belajar yang sesuai, atau penyesuaian jadwal dengan sekolah dan aktivitas lainnya. Satu per satu kita cari solusinya. Tidak mudah tapi harus dilakukan dengan sebelumnya membuat daftar prioritas.

Keempat, menciptakan keberhasilan jangka pendek. Murid dan orang tua murid harus segera merasakan dampak positif dari perubahan yang dilakukan. ‘Berhasilkah masa transisi yang sedang dilakukan? Kalau tidak, untuk apa tetap dilakukan? Kalau iya, bagus, ayo kita lanjutkan!’ Kalimat terakhir menjadi sasaran. Saya dan teman-teman sekolah musik membuat beberapa acara sederhana seperti konser virtual, partisipasi dalam kompetisi, dan merekam permainan murid untuk ditayangkan di YouTube.

Kelima, terus melakukan perubahan. Masa transisi membutuhkan waktu dan kesabaran. Jangan sampai justru hilang kendali di ujung masa transisi dan kembali ke cara lama. Pertahankan stamina dan terus bergerak ke arah yang menjadi visi sejak awal.

Terakhir, bangun kebiasaan baru. Perubahan-perubahan yang sudah dilakukan, harus terus diulang agar menjadi kebiasaan baru. Kalau perlu, dibuat sistem atau kesepakatan bersama. Saya membuat jadwal di aplikasi kalender untuk mengingatkan murid mengirim video latihan di hari-hari tertentu.

Masa transisi yang saya bangun belum sepenuhnya berhasil. Kondisi dan kebutuhan setiap murid berbeda sehingga perubahan yang dibuat pun harus terpersonalisasi. Namun, saya cukup bangga pada kemajuan yang saya alami. Boleh jadi nanti malam saya telepon teman saya untuk sedikit cerita tentang masa transisi les piano.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini